Rabu, 22 April 2020

PEMBENIHAN NILA MERAH
(Sumber : https://infoduniaperikanan.wordpress.com/2013/02/10/pembenihan-ikan-nila-merah/)

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas penting dalam bisnis ikan air tawar dunia. Beberapa hal yang mendukung pentingnya komoditas nila menurut hasil pengkajian BBAT Sukabumi adalah a) Memiliki resistensi yang relative tinggi terhadap kualitas air dan penyakit, b) Memiliki toleransi yang luas terhadap kondisi lingkungan, c) Memiliki kemampuan yang efisien dalam membentuk protein kualitas tinggi dari bahan organik, limbah domestik dan pertanian, d) Memiliki kemampuan tumbuh yang baik, dan e) Mudah tumbuh dalam sistem budidaya intensif.
Selama ini pembudidayaan ikan kita masih kesulitan untuk mendapatkan benih nila yang berkualitas; Sebagai akibat dari belum adanya upaya perbaikan mutu induk melalui rekayasa genetika. Selain itu pengetahuan serta keterampilan dari pembenih perlu ditingkatkan melalui pelatihan secara bertahap atau lewat bahan bacaan petunjuk teknis karena para pembenih kita terkadang dalam melakukan aktivitasnya belum sepenuhnya menerapkan rambu-rambu teknologi pembenihan yang dianjurkan. Untuk memperoleh benih yang baik perlu menerapkan cara pembenihan yang baik dan benar.
PERSIAPAN KOLAM
Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan nila antara lain peneplokan/perapihan pematang agar pematang tidak bocor, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan saringan di pitu pemasukan serta pengisian kolam dengan air.
Kolam dikeringkan lebih dahulu untuk pencegahan hama dan penyakit yang ada di kolam. Dasar kolam diolah (dicangkul) sampai gembur, kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 300-500 gram/m2, lalu diberi kapur pertanian (CaCO3) sebanyak 10-25 gram/m2 (jika diperlukan). Jika telah siap kolam diberi air 20-30 cm, dibiarkan selama 2-3 hari sampai tumbuh plankton, lalu ditambah hingga ketinggian 50 cm, kemudian dibiarkan selama 4-7 hari.
nila2
Keterangan :
A. Panjang kolam
B. Lebar kolam
C. Dasar kolam
D. Kemalir
E. Kobakan
F. Outlet kolam
G. Outlet kobakan
H. Inlet kolam
Gambar 1. Penampang Kolam Pemijahan Ikan Nila

PEMELIHARAAN INDUK
Dosis pemberian pakan adalah 3% dari bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2 – 2,5% untuk lima hari berikutnya sampai panen larva. Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva. Pakan yang diberikan harus cukup mengandung protein (28 – 30 %).
Selama pemijahan debit air diatur dalam dua tahap, yakni 5 hari pertama lebih besar dan 5 hari kedua lebih kecil. Debit air dalam 5 hari pertama adalah dalam rangka meningkatkan kandungan oksigen dalam air, memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap. Dengan demikian air yang mengalir ke kolam terlimpas ke luar kolam melalui saluran pengeluaran. Sedangkan untuk 5 hari kedua debit air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke kolam. Hal ini untuk menghindari hanyutnya larva juga menghindari limpasnya pakan alami yang terdapat di kolam pemijahan, sebagai makanan awal bagi larva.
SELEKSI INDUK
Untuk menghasilkan benih yang baik dipilih induk yang benar-benar matang gonad. Matang gonad pada ikan Nila Betina adalah kondisi ikan yang sudah siap untuk dikawinkan (dipijahkan) yang ditandai oleh diameter telur yang sudah mencapai ukuran 2,5 mm – 3,1 mm. pada ikan jantan, ditandai oleh sperma yang berwarna putih dan kental.
Cara menentukan kematangan gonad ikan jantan dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus. Ikan jantan yang telah matang kelamin akan mengeluarkan cairan kental berwarna bening dan di sekitar perut sampai kepala bagian bawah berwarna merah.
Cara menentukan kematangan gonad ikan betina dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus. Ikan betina yang telah matang gonad ditunjukkan dengan telur berwarna kuning kehijauan, bagian perut melebar, lunak kalau diraba, bagian anus menonjol dan kemerahan. Pengambilan telur secara kanulasi.
Induk Jantan                             Induk Betina
nila1
Gambar 2 . Perbedaan induk betina dan induk jantan kelamin
Adapun kriteria induk yang siap dipijahkan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Kuantitatif Sifat Reproduksi Induk Nila
Kriteria
Satuan
Jenis kelamin
Jantan
Betina
Umur
Bulan
6 – 8
6 – 8
Panjang total
cm
16 – 25
14 – 20
Bobot tubuh
gr
400 – 600
300 – 450
Fekunditas
Butir / ekor
1000 – 2000
Diameter telur
mm
2,5 – 3,1
PEMIJAHAN
Pemijahan dilakukan secara alami. Jumlah induk dalam satu populasi pemijahan secara masal disebut satu paket. Satu paket induk berjumlah 400 ekor yang terdiri dari 100 ekor jantan dan 300 ekor betina. Dengan induk sejumlah ini diharapkan dapat menghambat laju silang dalam dan memungkinkan keturunannya dapat dijadikan induk kembali setelah melalui kegiatan seleksi.
Penebaran induk dilakukan pada pagi hari saat suhu udara dan air masih rendah. Padat tebar induk adalah 1 ekor/m2, sehingga satu paket induk sebanyak 400 ekor memerlukan lahan untuk pemijahan seluas 400 m2.
Satu periode pemijahan berlangsung selama 10 hari untuk dapat dilakukan pemanenan larva. Proses pemijahan sendiri dapat berlangsung selama delapan periode pemijahan dengan delapan kali pemanenan larva, tanpa harus mengangkat induk. Setelah akhir periode, induk diangkat dari kolam pemijahan dan dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina untuk pematangan gonadselama 15 hari. Selanjutnya paket induk tersebut dimasukkan kembali ke dalam kolam pemijahan yang telah dipersiapkan sebelumnya
PEMANENAN LARVA
Panen larva dilakukan setiap sepuluh hari sekali pada pagi hari. Kemudian larva ditampung sementara dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan mesh size 1,0 mm. Ukuran larva yang dipanen ada dua ukuran, untuk itu perlu dilakukan sortasi menggunakan hapa mesh size 1,5 mm. jumlah induk betina memijah sebanyak 30-40% dengan perolehan larva sebanyak 60.000 – 80.000 ekor/paket/10 hari.


sumber: Karya Ilmiah Praktek Akhir Pembinaan Kelompok Melalui Penyuluhan Partisipatif Pada Usaha Pembenihan Ikan Nila Merah di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Provinsi DI Yogyakarta 2010

Panduan Teknis Cara Budidaya Ikan Nila di Kolam Tanah

(Sumber : https://mitalom.com/panduan-lengkap-budidaya-pembesaran-ikan-nila-di-kolam-tanah/)


14 Cara Budidaya Ikan Nila agar Cepat Besar dan Cepat Panen
Ikan nila (Foto ; fao.org)

Budidaya Perikanan – Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia, porsinya mencapai 28% dari seluruh usaha budidaya ikan air tawar (Suryamin, Kepala BPS 2014). Ini membuktikan bahwa ikan nila banyak digemari, baik oleh pembudidaya maupun oleh masyarakat sebagai konsumen. Ikan nila semakin populer karena rasa dagingnya yang lezat dan mudah dibudidayakan. Peluang usaha budidaya ikan nila masih terbuka lebar, mengingat ikan yang masih satu kerabat dengan mujair ini adalah ikan konsumsi yang banyak disukai oleh masyarakat. Ikan nila sangat mudah dibudidayakan, lebih tahan penyakit, mudah berkembang biak dan biaya pakan relatif lebih murah jika dibandingkan dengan jenis ikan budidaya lainnya. Ikan air tawar yang konon berasal dari benua Afrika ini cocok dibudidayakan diseluruh wilayah di Indonesia. Ikan nila memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi lingkungan, baik didataran rendah, menengah maupun dataran tinggi. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, ikan nila menjadi pilihan terbaik bagi pelaku usaha budidaya ikan air tawar.

Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan dalam Budidaya Ikan Nila

Ikan nila memiliki adaptasi yang sangat baik terhadap berbagai kondisi lingkungan, mudah dibudidayakan, mudah berkembang biak serta lebih tahan terhadap serangan penyakit. Namun beberapa faktor penting tetap harus diperhatikan untuk menunjang keberhasilan usaha budidaya ikan nila. Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan sekitarnya, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan. Sehingga ia bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran tinggi dengan suhu yang rendah. Ia mampu hidup pada suhu 14 – 38 derajat celcius. Dengan suhu terbaik adalah 25 – 30 derajat. Hal yang paling berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar garam jumlah 0 – 29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Faktor-faktor penting yang harus diperhatikan dalam usaha budidaya ikan nila antara lain ; pemilihan lokasi budidaya, pemilihan benih, persiapan kolam, pemberian pakan dan penanganan hama dan penyakit.

Tahapan Usaha Budidaya Ikan Nila

1.    Pemilihan Lokasi Budidaya Ikan Nila

Tanah yang baik untuk kolam ikan nila adalah jenis tanah liat/lempung, padat tidak berporous. Jenis tanah ini tidak mudah bocor dan mampu menahan masa air yang besar. b)Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3 – 5 % untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi. d)Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Untuk dikolam dan tambak angka kecerahan yang baik antara 20 –  35 cm. e)Kondisi perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus deras. Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6 – 8,5, sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah 7-8. Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 Âșc. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
2.    Pembuatan dan Persiapan Kolam Budidaya Ikan Nila
Budidaya ikan nila bisa dilakukan pada berbagai jenis kolam, yaitu kolam tanah, kolam terpal, keramba (jaring apung), kolam tembok/semen atau tambak air payau. Dari beberapa jenis kolam ikan nila tersebut yang paling mudah dan murah biaya pembuatannya adalah kolam tanah. Tahapan dalam pembuatan dan persiapan kolam tanah untuk budidaya ikan nila antara lain sebagai berikut ;
a).    Pembuatan kolam,
b).    Pengeringan kolam,
c).    Perbaikan tanggul/pematang,
d).    Pengolahan tanah dasar kolam,
e).    Pembuatan saluran masuk dan keluar air,
f).    Pengapuran,
g).    Pemupukan dasar kolam, dan
h).    Pengairan kolam.

3.    Pemilihan Benih dan Ciri-ciri Benih Ikan Nila yang Baik untuk Dibudidayakan

Benih yang berkualitas baik adalah syarat penting untuk keberhasilan budidaya ikan nila. Faktor lain yang juga mempengaruhi keberhasilan suatu budidaya ikan nila adalah pemilihan ukuran benih. Ukuran benih saat ditebar setidaknya 10 – 20 gram per ekor. Benih ikan nila yang terlalu kecil sangat rentan terhadap serangan hama maupun penyaki. Kalau bisa benih yang digunakan berasal dari Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dan Balai Benih Ikan (BBI). Atau membeli benih dari petani benih ikan yang sudah terbukti kredibilitasnya. Berikut ini ciri-ciri benih ikan nila yang baik untuk dibudidayakan ;
a).    Bobot benih antara 10-20 gram per ekor,
b).    Benih dalam kondisi sehat, tidak sakit atau membawa penyakit,
c).    Benih tidak cacat, bentuk tubuh normal, organ tubuh lengkap,
d).    Perilaku benih aktif dan lincah,
e).    Sangat respon terhadap pakan.

4.    Cara Penebaran Benih Ikan Nila dan Padat Tebar yang Ideal untuk Pembesaran Ikan Nila

Ukuran benih ikan nila yang ideal dan siap ditebar pada kolam pembesaran adalah 10-20 gram per ekor. Benih ditebar apabila semua tahapan mulai dari pembuatan kolam hingga persiapan kolam sudah terselesaikan. Padat tebar yang ideal untuk budidaya pembesaran ikan nila di kolam tanah adalah 20-30 ekor per meter persegi. Padat tebar ini diasumsikan untuk benih yang berukuran 10-20 gram/ekor dan akan dipanen dengan ukuran 300 gram per ekor.
Benih ikan nila tidak boleh langsung dimasukkan ke kolam pembesaran, tetapi harus melalui tahap adaptasi terlebih dahulu. Wadah yang berisi benih ikan nila dimasukkan kedalam air kolam selama beberapa jam. Hal ini dilakukan agar suhu air kolam dan suhu air didalam wadah sama. Selanjutnya wadah benih dimiringkan supaya air kolam sedikit demi sedikit menyatu dengan air didalam wadah. Biarkan benih ikan masuk kedalam kolam dengan sendirinya. Hal ini dilakukan untuk memperkecil resiko kematian benih karena benih ikan sudah terbiasa dan beradaptasi dengan air kolam.
5.    Cara Pemeliharaan Budidaya Ikan Nila di Kolam Tanah
Setelah benih ditebar, pekerjaan selanjutnya adalah merawat dan memelihara ikan nila hingga ikan siap di panen. Pemeliharaan ini adalah kunci utama keberhasilan usaha budidaya pembesaran ikan nila. Untuk menghindari resiko gagal panen dan kerugian hendaknya ikan nila dipelihara dan dirawat dengan baik dan benar. Pemeliharaan ikan nila meliputi 3 hal penting berikut ini ;

a).    Pengelolaan air kolam

Faktor yang juga berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya ikan nila adalah kualitas air kolam. Kualitas air kolam yang buruk dapat menghambat pertumbuhan ikan nila dan menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Parameter kualitas air kolam adalah kadar oksigen, pH air, dan kadar CO2, NH3 dan H2S. Cek secara berkala beberapa parameter tersebut. Apabila kadar oksigen air kolam diketahui menurun, perderas sirkulasi air kolam untuk meningkatkan kadar oksigen.
Jika air kolam berbau busuk, segera lakukan penggantian air. Bau busuk yang timbul disebabkan tingginya kadar NH3 dan H2S pada air kolam. Cara mengganti air kolam yaitu dengan membuang 1/3 air yang ada, kemudian diganti dengan air yang baru/air bersih. pH minimal air kolam untuk budidaya ikan nila adalah 6, apabila pH dibawah angka 6, taburkan kapur pertanian/kapur dolomit sesuai kebutuhan.

b).    Pemberian pakan ikan nila yang tepat

Pakan alami ikan nila yang ada didalam air kolam antara lain fitoplankton, zooplankton, cacing, siput, jenitk nyamuk dan chironomus(cuk). Namun untuk mempercepat pertumbuhan ikan nila dan mempercepat panen, ikan nila harus diberi pakan tambahan setiap hari. Pakan tambahan ikan nila yang baik adalah pelet yang kandungan lemaknya tidak lebih dari 3% dengan kadar protein antara 30-40%. Pakan ikan nila berupa pelet diberikan sebanyak 3% dari bobot tubuh ikan setiap harinya. Pelet diberikan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari.

c).    Penanggulangan hama dan penyakit ikan nila

Ikan nila merupakan jenis ikan air tawar yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap kondisi lingkungan, ikan nila juga tahan terhadap penyakit. Namun bukan berarti ikan nila 100% bebas dari serangan hama maupun penyakit. Terutama apabila budidaya dilakukan dalam skala besar dan intensif, resiko serangan hama dan penyakit harus diwaspadai. Penyakit yang paling mengkhawatirkan adalah penyakit infeksi menular, jenis penyakit ini cepat menyebar.
Beberapa hama yang sering mengganggu ikan nila antara lain ; bebeasan (notonecta), ucrit (larva cybister), kodok, ular, linsang, dan burung. Sedangkan penyakit yang sering ditemukan pada ikan nila antara lain ; penyakit kulit, penyakit insang, penyakit pada organ dalam. Cara penanggulangan hama dan penyakit ikan nila selengkapnya silahkan baca : Hama dan Penyakit Ikan Nila

6 Tips Pencegahan Penyakit pada Ikan Nila

Mencegah adalah tindakan yang paling baik untuk melindungi ikan nila dari serangan berbagai jenis penyakit. Pencegahan serangan penyakit pada ikan nila dilakukan sejak awal pembuatan dan persiapan kolam. Untuk budidaya pembesaran ikan nila di kolam tanah, beberapa hal berikut ini dapat dilakukan sebagai upaya untuk mencegah serangan penyakit pada ikan nila ;
1).    Melakukan pembersihan dan pengeringan dasar kolam setiap selesai panen,
2).    Menggunakan benih yang sehat dan bebas penyakit,
3).    Pemeliharaan ikan dengan baik dan benar,
4).    Menghindari penebaran benih secara berlebihan,
5).    Menggunakan sistem pengairan secara paralel,
6).    Pakan diberikan dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan.

Cara Menghitung Dosis Pakan Ikan Nila

Kebutuhan pakan ikan nila yang ideal adalah 3% dari bobot tubuh ikan rata-rata setiap harinya. Jika diasumsikan bobot ikan antara 10-20 gram per ekor dan jumlah ikan nila kesuluruhannya 1000 ekor maka pakan diberikan sebanyak 450 gram per hari. Darimana angka 450 diperoleh? Berikut ini rumusnya ;
Jumlah Pakan = Berat rata-rata x Jumlah ikan x 3%
Jika bobot ikan 10-20 gr/ekor – Rata-rata bobot ikan = (10+20)/2 = 15 gram/ekor
Perhitungan pakan : 15 x 1000 x 3% = 450 gram per hari
Untuk menyesuaikan jumlah atau dosis pakan, bobot ikan nila dicek setiap 2 minggu sekali. Caranya dengan mengambil sampel 10 ekor ikan nila, kemudian ditimbang dan dirata-ratakan beratnya. Misalnya berat 10 ekor ikan nila adalah 2000 gram, maka berat rata-ratanya adalah 2000/10 = 200 gram per ekor. Maka pakan yang harus diberikan dalam 1000 ekor ikan nila dengan berat rata-rata 200 gram adalah 6000 gram (6 kg) per hari.

Umur Panen Ikan Nila dan Berat Ikan Nila Siap Panen

Umur panen dan bobot ikan nila siap panen tergantung pada permintaan konsumen atau kebutuhan pasar setempat. Dalam kondisi normal, terhitung sejak benih ikan nila ditebar dibutuhkan waktu antara 4-6 bulan untuk mencapai bobot 300-500 gram per ekor. Dengan kata lain tidak ada patokan umur berapa bulan atau bobot berapa gram ikan nila bisa dipanen.

9 Cara Mudah Membedakan IKAN NILA dan MUJAIR Berdasarkan Ciri-ciri Fisik

(Sumber : https://mitalom.com/9-perbedaan-ikan-nila-dan-mujair/)

Budidaya Perikanan – Ikan NILA dan ikan MUJAIR adalah jenis ikan air tawar yang telah lama dikenal luas oleh masyarakat.
Kedua jenis ikan budidaya tersebut tergolong ikan yang mudah dibudidayakan dan memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi lingkungan.Ikan nila maupun ikan mujair merupakan ikan konsumsi yang banyak disukai masyarakat Indonesia pada umumnya. Selain mudah diperoleh karena banyak dijual di pasar-pasar tradisional, ikan nila dan mujair juga memiliki rasa daging yang gurih dan lezat.
Pun demikian, masih banyak masyarakat yang menganggap ikan mujair adalah ikan nila, begitu juga sebaliknya. Tidak sedikit orang yang mengira bahwa kedua jenis ikan ini adalah ikan yang sama.Memang benar, jika dilihat sepintas ikan nila dan mujair nyaris tidak memiliki perbedaan yang mencolok, sehingga tidak mengherankan jika banyak yang mengira bahwa kedua jenis ikan tersebut adalah ikan yang sama.Meskipun sepintas terlihat sama, ikan nila dan mujair adalah ikan yang berbeda. Jika diperhatikan dengan teliti ikan nila dan mujair memiliki banyak perbedaan. Terutama pada bagian luar tubuh kedua ikan tersebut memiliki banyak perbedaan yang mencolok.
Dilihat dari segi nilai ekonomisnya, ikan nila dan mujair juga sangat berbeda. Bisnis budidaya ikan nila lebih menguntungkan, konsumen lebih menyukai ikan nila daripada ikan mujair. Selain itu, pertumbuhan ikan nila jauh lebih cepat dan ukuran tubuhnya lebih besar dibandingkan dengan ikan mujair.

Apa Perbedaan Ikan Nila dan Ikan Mujair?

Secara kasat mata, ikan nila dan ikan mujair sangat mudah untuk dibedakan. Jika diperhatikan dengan seksama, kedua ikan ini memiliki ukuran tubuh yang berbeda.
Bagian-bagian tubuh (anggota tubuh) kedua ikan tersebut juga memiliki bentuk, ukuran, warna dan corak yang berbeda. Perbedaan ikan nila dan mujair terlihat pada kepala, sirip, ekor maupun tubuh ikan secara keseluruhan.

Gambar ikan nila dan mujair

Berikut ini 9 perbedaan ikan nila dan ikan mujair (Perhatikan gambar) ;
Perbedaan Ikan Nila dan Mujair
No.Bagian tubuhIkan NilaIkan Mujair
1Ukuran tubuhlebih besarlebih kecil
2Bentuk tubuhlebih lebar dan bulattubuh memanjang
3Mulutkecillebih besar
4Pipi/wajahtidak bertotolbertotol
5Matabesarlebih kecil
6Sirip punggunglebih panjang tulang sirip terlihat jelas dan tajamlebih pendek ujung sirip berwarna kemerahan
7Sirip belakangterdapat garis-garis memotong tulang siriptidak terdapat garis-garis
8Sirip bawahpendek melebarlebih lonjong berwarna hitam
9Ekorterdapat garis-garis memotong tulang ekorhitam tidak terdapat garis-garis
Secara umum, ikan nila dan ikan mujair dapat dibedakan dengan mudah yakni dengan memperhatikan ukuran tubuh, bentuk tubuh, dan ukuran, bentuk serta warna bagian-bagian tubuh pada kedua jenis ikan tersebut. Dengan memperhatikan bagian-bagian tubuh ikan tersebut maka jelas bahwa ikan nila dan ikan mujair adalah dua jenis ikan yang berbeda.

Tips Budidaya Pembesaran IKAN NILA Cepat Besar dan Cepat Panen

Cara Budidaya Ikan Nila agar Cepat Panen dan Cepat Besar
Budidaya Perikanan – Ikan Nila adalah komoditi utama perikanan air tawar di Indonesia. Ikan yang berasal dari dari Afrika ini masih satu kerabat dengan ikan mujahir.
Budidaya ikan nila disukai karena ikan nila mudah dipelihara, laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, serta tahan terhadap gangguan hama dan penyakit.
Selain dipelihara di kolam biasa (kolam tanah) seperti yang umum dilakukan, ikan nila juga dapat dibudidayakan di media lain seperti kolam terpal, kolam air deras, keramba/jaring apung, tambak, dan sawah (mina padi).

6 Tips Cara Budidaya Ikan Nila CEPAT BESAR dan CEPAT PANEN

Beberapa faktor yang mempengaruhi lamanya waktu pemeliharaan ikan nila adalah jenis ikan yang dibudidayakan, jenis kelamin benih ikan, kualitas benih, kolam pemeliharaan, kualitas air dan pakan.

1. Menggunakan Jenis Ikan Nila Unggul

Jenis-jenis ikan nila unggul yang banyak dibudidayakan di Indonesia antara lain ikan nila JICA, Gesit, Nirwana, Jatimbulan, Best, Larasati, Srikandi Nirwana Il, Sultana, Anjani, Nilasa, Pandu, Kunti dan nila GIFT.
Secara genetik ikan nila GIFT ( Genetic Improvement for Farmed Tilapia ) telah terbukti memiliki keunggulan pertumbuhan dan produktivitas yang lehih tinggi dibandingkan dengan jenis ikan nila lainnya.

2. Budidaya Ikan Nila Secara Monosex

Budidaya pembesaran ikan nila secara monosex (berkelamin sama) lebih menguntungkan dibanding budidaya secara campuran (jantan dan betina).
Hal ini disebabkan sifat ikan nila yang mudah memijah (melakukan perkawinan). Sehingga apa bila bila budidaya dilakukan secara campuran, energi ikan akan habis untuk memijah dan pertumbuhan bobot ikan sedikit terhambat.
Pertumbuhan ikan nila jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda. Pertumbuhan ikan nila jantan 40% lebih cepat dibanding dengan ikan nila betina.
Pertumbuhan ikan nila jantan tetap tumbuh dengan pesat, sedangkan ikan nila betina apabila sudah mencapai ukuran 200 g pertumbuhannya semakin lambat.
Oleh sebab itu, agar budidaya ikan nila cepat besar dan cepat panen sebaiknya menggunakan benih yang berkelamin jantan semua (monosex).

3. Menggunakan Benih Ikan Nila yang Berkualitas

Selain kedua hal diatas, faktor lain yang juga harus diperhatikan dalam pemilihan benih ikan nila adalah kualitas benih. Benih ikan yang berkualitas baik memiliki tingkat kematian yang rendah.
Sehingga biaya pembelian benih bisa lebih efektif dan efesien. Dengan demikian kerugian akibat kematian benih ikan dapat dihindari.
Ciri-ciri umum benih ikan nila yang berkualitas baik antara lain sebagai berikut :
a). Ukuran dan bentuk tubuh benih ikan seragam,
b). Benih terlihat aktif dan gesit,
c). Tidak cacat atau luka,
d). Tidak berpenyakit

4. Kolam Pemeliharaan Ikan Nila yang Baik

Kolam adalah habitat dimana ikan nila akan hidup dan tumbuh di sana. Kondisi kolam menentukan laju pertumbuhan ikan nila. Kondisi kolam yang tidak baik akan menghambat pertumbuhan ikan. Beberapa parameter yang harus diperhatikan dalam pembuatan kolam ikan antara lain jenis tanah, kontur lahan, tata letak kolam, dan saluran air.

5. Kualitas Air Kolam untuk Budidaya Ikan Nila
Kualitas air juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila, indikasi kolam yang sehat adalah kolam yang kondisiairnya selalu baik dan sehat.
Air kolam yang kotor, tercemar dan tidak sehat akan memicu tumbuhnya berbagai jenis penyakit ikan nila. Untuk itu airkolam harus diganti secara berkala.
Persyaratan kualitas air untuk pembesaran ikan nila adalah pH air antara 6,5 – 8,6, suhu air berkisar antara 25 – 30 derajat celcius. Oksigen terlarut lebih dari 5 mg/l,kadar garam air 0 – 28 ppt, dan Ammoniak (NH3) kurang dari 0,02 ppm

6. Kebutuhan Pakan Ikan Nila

Biaya pembelian pakan dalam budidaya ikan bisa mencapai 70% dari total biaya produksi. Oleh sebab itu pakan merupakan komponen yang sangat penting dalam budidaya pembesaran ikan nila.
Untuk menekan biaya produksi, pakan harus diberikan seefektif mungkin. Pakan ikan nila berupa pelet dengan kadar protein 20-30%. Pakan diberikan pagi dan sore hari.
Kebutuhan pakan ikan nila per hari adalah 3% dari bobot tubuh ikan tersebut. Untuk menentukan jumlah pakan, setiap 1-2 minggu ikan ditimbang kemudian disesuaikan jumlah pakan yang harus diberikan.
Caranya yaitu dengan mengambil sampel beberapa ikan secara acak kemudian ditimbang untuk mengetahui berat tubuh ikan rata-rata.
Rumus untuk menentukan jumlah pakan ikan nila adalah : Bobot Ikan Rata-rata x Jumlah Ikan x 3%
Pemeliharaan Indukan Ikan Nila
(Sumber : https://mitalom.com/cara-pembenihan-dan-teknik-pemijahan-ikan-nila/)

Untuk menghindari terjadinya pemijahan liar, sebaiknya indukan ikan nila jantan dan betina ditempatkan pada kolam yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menghindari terbentuknya benih yang kurang berkualitas. Siapkan dua kolam untuk pemeliharaan indukan, satu kolam untuk indukan jantan dan satu kolam lainnya untuk indukan betina. Induk jantan ditempatkan bersama induk jantan lainnya dan induk betina disatukan dengan induk betina yang lain pada kolam lainnya. Kepadatan tebar untuk kolam pemeliharaan indukan adalah 3 atau 5 ekor / m2 kolam.
Kolam pemeliharaan indukan jantan dan indukan betina dibuat terpisah dan harus memiliki sumber air dari tempat yang berbeda. Buangan air dari kolam indukan jantan jangan sampai masuk kekolam indukan betina, sebaliknya buangan air kolam indukan betina juga jangan sampai masuk ke kolam indukan jantan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemijahan secara liar, sebab ada kemungkinan sperma jantan akan terbawa air kekolam indukan betina dan akan terjadi pembuahan.
Pemberian pakan juga harus diperhatikan, kandungan protein pada pakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan gonad. Untuk pemeliharaan indukan diperlukan pakan dengan jumlah 3% dari bobot tubuh ikan per hari. Supaya pertumbuhan gonad indukan betina bisa maksimal pakan yang diberikan harus mengandung protein yang tinggi. Untuk pembesaran ikan nila hanya diperlukan pakan dengan kadar protein sekitar 2%, tetapi untuk calon indukan sebaiknya pakan yang diberikan harus mengandung kadar protein lebih dari 35%.

Pemijahan Ikan Nila
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang sangat mudah sekali dipelihara dan dipijahkan. Bahkan ikan nila mudah memijah secara alami. Untuk kolam pemijahan sebaiknya dasar kolam didesain miring dengan tingkat kemiringan sekitar 2 atau 5%. Pada dasar kolam atau lantai kolam pemijahan dibuat kubangan-kubangan (kemalir) sedalam 20 atau 30 cm. Kubangan-kubangan tersebut nantinya akan digunakan indukan sebagai tempat memijah. Pemijahan ikan nila bisa dilakukan secara massal dengan perbandingan jumlah indukan jantan dan indukan betina 1 : 3 (1 indukan jantan dan 3 indukan betina). Kepadatan tebar kolam pemijahan adalah 1 ekor indukan per m2.
Pemijahan ikan nila pada umumnya berlangsung pada hari ke tujuh sejak indukan dimasukkan kekolam pemijahan. Pemberian pakan selama proses pemijahan sebaiknya harus mengandung protein yang tinggi, yaitu pakan yang memiliki kadar protein diatas 35%. Pemijahan akan terjadi pada kubangan-kubanagan (kemalir) yang telah dibuat didasar kolam. Indukan betina akan mengeluarkan telur pada tempat tersebut dan kemudian akan dibuahi oleh indukan jantan. Setelah dibuahi telur-telur akan dierami oleh indukan betina didalam rongga mulutnya.
Indukan betina akan mengerami telur didalam mulutnya selama sekitar 7 hari. Selama proses pengeraman tersebut pemberian pakan sebaiknya dikurangi, karena saat mengerami telur indukan betina tidak makan alias berpuasa. Hal ini juga akan mengurangi biaya produksi dan pengeluaran biaya untuk pembelian pakan bisa ditekan.
Setelah 7 hari biasanya telur-telur dierami didalam mulut indukan betina akan menetas menjadi larva. Sebaiknya saat melakukan persiapan kolam diberikan pupuk dasar supaya pakan alami akan tumbuh didalam kolam. Pakan alami tersebut berguna sebagai pakan larva ikan nila yang baru menetas. Induk betina akan mengeluarkan larva dari mulutnya secara serempak jika ia merasa didalam kolam banyak tersedia pakan alami untuk anak-anaknya. Larva ikan nila yang sudah menetas dan sudah dikeluarkan dari mulut induk betina segera dipindahkan ke kolam pemeliharaan larva. Larva dipindahkan kekolam pemeliharaan larva setelah berumur 5 sampai 7 hari setelah menetas.

Pemeliharaan Larva Ikan Nila

Gambar Kolam Pemeliharaan Larva Ikan Nila Menggunakan Hapa
Pemeliharaan benih ikan nila menggunakan hapa

Larva yang sudah berumur 5 – 7 hari setelah menetas dipindahkan kekolam khusus pemeliharaan larva yang sudah dipersiapkan. Pemindahan dilakukan menggunakan saringan halus secara hati-hati. Kolam pemeliharaan larva ikan nila bisa berupa bak plastik, kolam semen, drum, akuarium, hapa (jaring halus) atau kontainer. Kepadatan tebar larva per meter persegi antara 100 – 200 ekor larva.
Setelah dipindahkan kekolam pemeliharaan, larva juga harus diberikan pakan agar bisa tumbuh dengan baik. Pakan yang diberikan berbentuk tepung halus dan memiliki kadar protein tinggi. Berikan pakan secukupnya, dalam satu hari pakan diberikan sebanyak 4 atau 5 kali. Pakan laternatif lain untuk larva ikan nila adalah kuning telur ayam yang direbus. Caranya dengan melumatkan 1 butir kuning telur rebus yang dilarutkan dengan 500 ml air bersih. Pakan diberikan dengan cara disemprotkan menggunakan hand sprayer, setiap kali pemberian pakan diberikan sebanyak 100 ml.
Pembesaran larva ikan nila berlangsung selama 3 sampai 4 minggu atau sampai ukuran larva mencapai 2 atau 3 cm. Setelah mencapai ukuran tersebut, larva dipindahkan lagi kekolam pendederan. Sebab daya tampung kolam sudah tidak memadai lagi untuk ukuran larva tersebut. Jika ukuran kolam memungkinkan, larva tidak harus dipindahkan dan bisa dipelihara seterusnya didalam kolam tersebut.

Pendederan Benih Ikan Nila
Kolam untuk pendederan benih sebaiknya dibuat dengan ukuran yang lebih besar, sebab ukuran tubuh benih ikan juga semakin besar. Pada tahap ini, peternak bisa membuat benih ikan nila menjadi berjenis kelamin jantan semua. Benih nila jantan pertumbuhannya lebih cepat daripada ikan betina. Ini bisa dilakukan jika budidaya hanya ditujukan untuk usaha pembesaran, yaitu untuk keperluan ikan konsumsi. Untuk menghasilkan benih ikan berjenis kelamin jantan semua bisa dilakukan dengan pemberian hormon 17 alpha methyltestosteron. Hormon tersebut diberikan pada tahap pendederan larva.
Catatan : Tetapi sebaiknya cara menghasilkan jenis kelamin jantan menggunakan hormon 17 alpha methyltestosteron tidak dilakukan. Sebab cara ini sudah tidak dianjurkan lagi. Dikhawatirkan penggunaan hormon tersebut bisa menyebabkan efek negatif bagi yang mengkonsumsi.
Kepadatan tebar pada tahap pendederan benih setiap meter persegi adalah 30 sampai 50 ekor benih. Lama pendederan benih sampai benih ikan siap dipindah kekolam pembesaran adalah 4 sampai 6 minggu. Pada saat itu kira-kira benih ikan nila sudah memiliki ukuran panjang tubuh 10 – 12 cm. Pakan yang diberikan pada tahap ini adalah pakan yang memiliki kadar protein antara 20 – 30%. Pakan diberikan 2 atau 3 kali dalam sehari. Banyaknya pakan yang diberikan adalah 3% dari bobot tubuh ikan.
Jika sudah berumur 4 – 6 minggu didalam kolam pendederan dan ukurannya mencapai 10 – 12 cm, benih ikan sudah siap untuk dijual atau dibesarkan sendiri dikolam pembesaran. Namun masa pendederan bisa lebih lama jika ukuran benih yang diinginkan lebih besar. Sebab kadang-kadang konsumen membutuhkan benih yang lebih besar dari ukuran tersebut. Sehingga lama pendederan bisa disesuikan dengan permintaan pasar atau konsumen.

Panen Benih Ikan Nila
Pemanenan benih ikan nila disesuiakan dengan permintaan pasar atau konsumen. Jika konsumen menginginkan ukuran benih yang standar (10 – 12 cm) panen benih bisa dilekukan lebih cepat. Tetapi jika konsumen menginginkan benih dengan ukuran yang lebih besar maka panen dilakukan sesuai dengan kenginan konsumen atau pembeli. Pemanenan benih ikan nila sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Kemudian benih ikan nila dikemas dengan baik. Benih dikemas dalam wadah tertutup untuk pengiriman jarak jauh. Sedangkan untuk jarak dekat pengemasan dengan wadah terbuka masih bisa dilakukan. Untuk pengiriman jarak jauh biasanya benih dikemas dalam kantong-kantong plastik berwarna putih transparan. Kantong plastik diisi air 1/3 dari ukuran wadah tersebut selebihnya diisi dengan oksigen.
Pembenihan dan Pemijahan IKAN NILA
(sumber : https://mitalom.com/cara-pembenihan-dan-teknik-pemijahan-ikan-nila/)


Cara Memijahkan Ikan Nila di Kolam Pemijahan
Benih ikan nila merah

Budidaya Perikanan – Ikan nila adalah jenis ikan konsumsi yang banyak dibudidayakan diperairan air tawar di Indonesia. Ikan nila sangat populer di masyarakat karena rasa dagingnya yang gurih dan lezat. Selain itu ikan nila terkenal sangat produktif. Dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, ikan nila adalah yang paling produktif. Ikan ini juga banyak dibudidayakan diberbagai negara di dunia. Ikan yang konon berasal dari afrika ini sangat mudah dibiakkan. Karena mudahnya dipelihara dan dikembangbiakkan, ikan nila menjadi sangat populer di Indonesia. Meskipun harga jual ikan nila tidak terlalu tinggi, tetapi budidaya ikan jenis ini bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Bukan hanya usaha pembesaran, pembenihan nila juga memiliki prospek yang cerah mengingat ikan nila sangat populer dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat.
Usaha pembenihan ikan nila bisa menjadi pilihan sebagai bisnis sampingan atau bisnis utama. Ikan nila tergolong sangat produktif karena frekuensi pemijahan ikan ini cukup sering, meskipun sekali memijah jumlah telur yang dihasilkannya sedikit. Sekali memijah satu ekor ikan nila betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 300 – 100 butir, tergantung pada ukuran tubuhnya. Ikan nila bisa dikawinkan setiap bulan sampai masa produktifnya habis. Bahkan ikan nila mudah sekali memijah secara liar dikolam peliharaan. Namun pemijahan secara alami sangat sulit dalam pengelolaannya. Sehingga untuk melakukan usaha pembenihan nila diperlukan cara dan pengelolaan khusus agar usaha pembenihan nila bisa menghasilkan keuntungan.
Berikut ini persiapan dan langkah-langkah untuk memulai bisnis pembenihan ikan nila :
1. Persiapan Tempat Pembenihan Ikan Nila
Untuk memulai usaha pembenihan ikan nila, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan tempat
pembenihan. Tempat pembenihan atau kolam bibit ikan nila tersebut berupa kolam yang nantinya akan digunakan ikan nila untuk berkembangbiak. Untuk pembenihan diperlukan 4 type kolam, masing-masing type kolam memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan fase pertumbuhan ikan. Kolam pembenihan ikan nila dibuat sebaik mungkin agar usaha pembenihan berlangsung dengan baik.
Berikut ini keempat type kolam pembenihan ikan nila tersebut ;
a). Kolam indukan
Kolam indukan adalah kolam yang berfungsi untuk memelihara indukan ikan nila. Indukan terdiri dari ikan nila jantan dan betina. Ukuran kolam untuk indukan disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan lahan. Kolam indukan tidak harus berukuran besar tetapai harus memiliki kedalaman yang cukup untuk ikan dewasa. Kedalaman kolam indukan antara 1 – 1,4 meter. Indukan jantan dan betina harus ditempatkan pada kolam yang berbeda, sehingga diperlukan 2 buah kolam indukan.
b). Kolam pemijahan
Kolam pemijahan adalah kolam yang digunakan untuk mengawinkan indukan. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Kolam pemijahan sebaiknya berlantai tanah dan pada dasar kolam dibuat kemalir atau kubangan-kubangan. Untuk kolam pemijahan hanya diperlukan 1 buah kolam saja.
c). Kolam pemeliharaan larva
Kolam pemeliharaan larva adalah kolam yang digunakan untuk memelihara larva-larva ikan nila yang sudah menetas. Kolam yang digunakan bisa berupa bak, drum, bak semen, kolam tanah atau jaring halus (hapa). Hapa adalah jaring khusus berukuran kecil untuk memelihara larva ikan, bentuk hapa mirip dengan kelambu. Hapa diletakkan mengapung diatas kolam.
d). Kolam benih
Kolam benih adalah kolam yang digunakan sebagai tempat pendederan benih ikan nila atau kolam tempatmembesarkan benih. Ukuran kolam benih juga dibuat sesuai dengan kebutuhan, tergantung banyaknya benih yang diproduksi. Benih ikan ditempatkan pada kolam pembesaran sampai benih ikan siap untuk dibesarkan dikolam pembesaran atau kolam budidaya. Biasanya benih ikan siap dibesarkan ketika panjang tubuhnya berukuran 10 – 12 cm.
2. Pemilihan Indukan Ikan Nila

Perbedaan Ikan Nila Jantan dan Nila Betina
Perbedaan bentuk fisik indukan jantan dan betina

Langkah kedua dalam usaha pembenihan ikan nila adalah memilih indukan jantan dan indukan betina yang akan dikawinkan. Jika kolam pembenihan sudah disiapkan, selanjutnya adalah memilih indukan. Untuk menghasilkan bibit ikan nila yang berkualitas, sebaiknya calon indukan menggunakan galur murni yang secara genetis memiliki sifat-sifat unggul. Calon indukan unggul bisa diperoleh di balai perikanan setempat atau menghubungi BBPBAT (Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar) setempat.
Ciri-ciri calon indukan ikan nila yang berkualitas baik adalah sebagai berikut ;
a). Calon indukan jantan dan betina adalah galur murni yang berasal dari keturunan yang berbeda.
b). Calon indukan memiliki bentuk tubuh yang normal, tidak cacat dan kondisi fisiknya sehat.
c). Calon indukan memiliki sisik-sisik yang besar dengan susunan sisik yang rapi.
d). Calon indukan memiliki ukuran pada bagian kepala yang relatif kecil dibandingkan tubuhnya.
e). Calon indukan memiliki warna yang mengkilap dan tubuhnya tebal.
f). Calon indukan terlihat sangat aktif, gerakannya lincah dan sangat responsif terhadap pemberian pakan.
Indukan ikan nila bisa berproduksi hingga usianya 2 – 3 tahun. Namun untuk pembenihan sebaiknya menggunakan indukan yang berusia maksimal 2 tahun. Indukan yang berusia lebih dari 2 tahun akan menghasilkan benih yang kurang baik, jumlah telurnya juga semakin sedikit. Indukan ikan nila bisa dipijahkan kembali setelah 4 – 6 minggu kemudian. Indukan ikan nila betina sudah siap dipijahkan ketika usianya mencapai 5 atau 6 bulan. Pada masa itu indukan betina sudah memasuki matang gonad. Indukan ikan nila yang akan dipijahkan setidaknya bobot tubuhnya telah mencapai 200 atau 250 gram untuk indukan betina, dan 250 atau 300 gram untuk indukan jantan.


Selasa, 17 Maret 2020

CARA MENETASKAN TELUR GURAME DAN MERAWAT BENIH GURAME
(Sumber : http://www.benihgurame.com/2014/12/cara-menetaskan-telur-gurame-dan.html)

Telur gurame bisa didapatkan dari pengepul telur gurame atau bisa juga telur gurame didapat langsung dari petani budidaya ikan gurami,sehingga hal ini pelaku penetasan telur gurami tidak memerlukan lahan yang besar untuk merawat induk gurame,karena perawatan induk gurami memerlukan lahan/kolam yang luas,harga telur gurame di tingkat petani dan pengecer rata=rata RP.25,- hingga Rp.45,-.harga telur gurami sering berubah karena peternak ikan masih mengandalkan perkawinan secara alami dan tergantung sekali dengan cuaca atau iklim pada saat gurame dipijahkan.

PEMINDAHAN TELUr  GURAME /seleksi telur gurami

Pemindahan telur gurami dari sarang atau palstik tempat membawa telur gurami dari pengepul harus hati-hati agar tidak merusak telur gurame. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan sendok sayur plastik. Saat pemindahan, telur  gurame tidak boleh bersentuhan dengan alat, yaitu setiap pemindahan harus dengan menggunakan air, dan dilakukan secara bertahap.

Sambil pemindahan, dilakukan pemisahan antara telur-telur gurami yang berkualitas baik dengan telur-telur yang berkualitas jelek. Keduanya bisa dibedakan dengan melihat warnanya. Telur gurame yang baik berwarna kuning tua, sedangkan telur gurame yang jelek berwarna putih. Telur gurame yang baik dimasukan langsung ke dalam wadah-wadah penetasan, sedangkan yang jelek dibuang.karena bisa mengotori air dalam wadah penetasan. Hingga akhirnya bisa membuat air menjadi bau dan kualitas air menjadi buruk, dimana oksigennya sangat rendah, sedangkan karbondioksida dan NH3 tinggi. Pembuangan telur gurame dilakukan dengan cara penyimponan atau mengalirkan telur lewat selang kecil yang telah diberi air.

Penetasan telur gurame bisa dilakukan dalam ember,paso, baskom plastik besar, bak plastik, bok sterefoam pengemasan ikan,akuarium dan tempat sejenis lainnya. Wadah-wadah itu harus diletakan di tempat yang teduh, misalnya samping rumah. Akan lebih baik lagi dalam ruangan, atau kamar agar fluktuasi suhu dapat terjaga. Lingkungan yang tenang adalah tempat penetasan yang baik, karena jika sering kaget telur tidak akan menetas.

PERSIAPAN PENETASAN TELUR GURAME

dalam kegiatan pemeliharaan larva ikan gurame hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
- wadah pemeliharaan
- kualitas air
- pakan
- pemeliharaan/cara penanganan

Cuci bersih wadah yang akan digunakan sebagai tempat penetasan, upayakan benar-benar bersih dari bahan kimia atau bahan beracun dan berbahaya lainnya dari wadah. Gunakan deterjen saat pencucian pertama kali, lalu dapat diulang menggosok permukaan bagian dalam wadah dengan potongan gedebog pisang.
Setelah wadah benar-benar bersih, isi dengan air bersih (tidak harus jernih), dari kolam/sawah/danau/irigasi, air sumur yang sudah diendapkan 2 hari, atau air PAM yang sudah diendapkan lebih dari 4 hari. Jangan menggunakan air PAM yang mengandung kaporit tinggi (biasanya tercium bau kaporit).

KEPADATAN TELUR

contoh: jika penetasan telur gurame menggunakan akuarium,untuk akuarium dengan ukuran 80 x 40 x 40 cm jumlah telur gurame yang bisa ditampung sekitar 2.000 butir telur. untuk menambah oksigen dan airnya diberi methilin blue dengan warna biru seulas untuk mencegah serangan jamur.
ketinggian air untuk pemeliharaan telur di akuarium 15 cm,Kepadatan telur selama proses penetasan adalah 4-5 butir/cm2 dengan pemberian aerasi kecil dan juga heater/pemanas air,pemberian airasi kecil dan pemanas air atau pemanas ruangan ini jika di perlukan karena setiap daerah berbeda beda cara penanganan perawatan telur gurami yang baik,jika lebih aman tidak memakai airasi karena pemakaian aerasi untuk penetasan telur gurami bisa membuat telur gurami mabuk. aerator berfungsi untuk mensuplai oksigen ke air akuarium. aerator ini berfungsi meningkatkan kandungan oksigen. oksigen diperlukan oleh ikan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ikan. proses metabolisme ikan dalam tahap pertumbuhan memerlukan oksigen, bila kandungan oksigen di dalam akuarium kurang maka akan mempengaruhi kehidupan ikan sehingga ikan pertumbuhannya kurang optimal.

Tipe heater berbeda-beda ada yang 50 watt, 75 watt dan 100 watt namun kesemuanya itu sama yaitu untuk meningkatkan suhu air dan mempertahankan suhu air pada media pemeliharaan agar suhu air stabil tidak berfluktuasi tinggi terutama pada pergantian cuaca, malam ke siang siang ke malam.

hal yang sangat berpengaruh terhadap adanya heater adalah suhu air, dimana suhu air membantu dalam meningkatkan nafsu makan ikan, ikan akan bertambah nafsu makannya pada kondisi air yang suhunya optimal (hangat) karena bila suhu optimal akan membantu proses metabolisme ikan dalam menguraikan makanan menjadi energi dan untuk pertumbuhan ikan. ikan akan bertambah berat dan panjang bila ada nutrisi yang didapatkannya, nutrisi yang utama untuk kebutuhan ikan adalah protein disamping nutrisi lainnya seperti karbrohidrat, lemak Suhu optimal untuk pemeliharaan larva adalah 20 - 29 derajat celcius.

Telur  gurame akan menetas dalam selang waktu 24-48 jam tergantung suhu media penetasan. Sebaiknya suhu dipertahankan pada kisaran 29- 30 oC untuk meningkatkan derajat penetasan telur ikan gurame.  Larva biasanya akan bergerak berputar-putar dan berkelompok. Siapkan tempat untuk pendederan, karena pada hari ke 3-4 larva gurami sebaiknya sudah dipindahkan ke kolam pendederan untuk pemeliharaan selanjutnya. Di kolam pendederan (usia 4-5 hari) larva sudah berenang dengan perut buncit berisi kuning telur, sehingga belum perlu diberi pakan BIASANYA Pemberian pakan dimulai saat larva berusia 7-8 hari..

PAKAN SETELAH PENETASAN

 Pemberian pakan dapat dimulai setelah larva dipindahkan kekolam emen atau terpal. Pakan berupa cacing rambut (Tubifex sp.), Daphnia sp., Moina sp., atau pakan alami lainnya yang sesuai ukurannya. Benih gurame dapat dipelihara di akuarium, bak kayu yang dilapisi plastik, bak tembok atau ditebar langsung ke kolam pendederan. Pemeliharaan benih pada wadah terkontrol harus dilengkapi dengan aerasi untuk suplai oksigen dan terhindar dari kontak langsung dengan hujan namun hal ini tiap daerah berbada beda karena banyak petani gurame yang kolamnya tidak ada atapnya.

Pakan awal berupa cacing rambut, Daphnia sp., Moina sp., atau sumber protein hewani lainnya. Bahan-bahan nabati dapat mulai diberikan setelah larva berumur 36-40 hari. Sedangkan pakan buatan (pelet) dapat diberikan dengan menyesuaikan bukaan mulut ikan. Setelah 15-20 hari, lakukan seleksi dan kelompokan sesuai ukuran lalu pisahkan kolam pendederan untuk masing-masing ukuran, agar pertumbuhan bibit gurami seragam, dan mudah penentuan harga jika ada pesanan.

Lama pemeliharaan dan benih yang dihasilkan antara lain: Benih berumur 40 hari dapat mencapai ukuran 1-2 cm (setara ukuran kuku). Benih berumur 80 hari dapat mencapai ukuran 2-4 cm (setara ukuran jempol). Benih berumur 120 hari dapat mencapai ukuran 4-6 cm (setara ukuran silet). Dan benih berumur 160 hari dapat mencapai ukuran 6-8 cm (setara ukuran korek di masyarakat).

PENETASAN teler gurame  termasuk mudah untuk dipelajari. 
Jika sudah bisa membedakan mana telur yang bagus dan jelek ,maka memilih usaha penetasa /pem benih an ikan gurame merupakan pilihan yang tepat. Banyaknya pelatihan-pelatihan, buku-buku dan dan para ahli membuat kita bisa cepat belajar. Namun, bukan berarti tidak ada kelemahan pada cara budidaya penetasan telur gurame  ini, tetap ada kendala dan kesulitan yang akan kita hadapi. Karena kondisi lingkungan yang berbeda belum tentu keberhasilan yang kita dapat akan sama. Contohnya ketersediaan air alami dan suhu di tiap daerah ber beda beda.

Oleh karena itu kita sesuaikan dengan kemampuan kita dan jika bisa kita mungkin akan menemukan cara yang berbeda sehingga kelemahan dan kendala yang kita hadapi dapat kita minimalisir. Banyak - banyaklah belajar dan bertanya pada pakar maupun peternak ikan gurame yang sudah berpengalaman sebelumnya. Tidak ada salahnya kita mengikuti seminar yang biasanya diadakan di masyarakat setempat. Karena bisnis benih lgurame ini tidak akan ada habisnya, masih banyak peternak yang kesulitan memenuhi permintaan pasar ikan  benih gurami yang membludak .

  PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA CBIB - Cara Budidaya ...