Senin, 30 Desember 2019

BUDIDAYA IKAN NILA DALAM KOLAM

(Sumber :https://nurhasanaquacultur.wordpress.com/2014/06/24/pembesaran-ikan-nila-pada-kolam/)
 

Ikan nila merupakan jenis ikan untuk konsumsi dan hidup di air tawar ikan ini cenderung sangat mudah dikembangbiakkan serta sangat mudah dipasarkan karena merupakan salah satu jenis iklan yang paling sering dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat. Dengan teknik budidaya yang sangat mudah serta pemasarannya yang cukup luas sehingga budidaya ikan nila sangat layak dilakukan baik skala rumah tangga maupun skala besar atau perusahaan.
Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut :
Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Crdo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
Terdapat beberapa jenis nila yang dikenal di masyarakat antara lain : nila biasa, nila merah (nirah), nila albino, nila gesit, dan nila gift
Persyaratan Lokasi Budidaya Ikan Nila
  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung tidak berporos jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  3. Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi.
  4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
  5. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus deras.
  6. Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
  7. Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 ÂșC.
  8. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
Persiapan Kolam
Kolam adalah salah satu hal yang paling penting untuk membudidayakan ikan nila. Kolam sebagai tempat pembiakan ikan nila perlu dipersiapakan secara maksimal dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
  1. Pengeringan kolam.
  2. Perbaikan pematang saluran pemasukkan dan pengeluaran.
  3. Pengapuran dengan ukuran 25-1000 gram/m2.
  4. Pemupukan dengan pupuk kandang 500 gram/ M2, urea 15 gram/ m2 dan TSP gram/ m2.
  5. Pengisian air kolam.
  6. Dapat dilakukan penyemprotan dengan pestisida.
  7. Untuk mencegah hewan/ikan lain masuk maka dapat dipasang saringan pada pintu masuk air.
  8. Kedalaman air 80 – 150 cm kemudian tutup pintu pemasukkan dan pengeluarannya biarkan air tergenang.
  9. Penebaran ikan nila dilakukan setelah 5 – 7 hari pengisian air kolam.
Penebaran Benih Ikan Nila
Setelah tahapan proses persiapan kolam terlaksana dengan baik, maka pada hari yang kelima samapai hari ketujuh setelah masa pengisian air kolam dilakukan akan dilakukan penebaran benih ikan nila. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah ukuran benih ikan yang disebarkan hendaknya berukuran antara 8-12 cm atau dengan ukuran berat 30 gram/ekor dengan pada tebar sekitar 5-10 ekor/m2. Pemeliharaan ikan nila dilakukan selama 6 bulan atau hingga ukuran berat ikan nila sudah mencapai 400-600 gram/ekor. Untuk mengetahui cara membuat bibit ikan nila unggulan silahkan lihat.
Pemberian Pakan
Dalam pemberian makanan ikan nila diberikan setiap hari dengan komposisi makanan alami dan juga makanan tambahan. Makanan ikan nila ini bisa terdiri dari dedak, ampas kelapa, sisa-sisa makanan dapur dan pelet dengan ukuran protein 20-30%, lemak 70% (maksimal) karbohidrat 63 – 73%. Umumnya pemberian pakan dilakukan 3 kali dalam sehari secara adlibitum yakni pada (pagi, siang dan sore).
Penyakit Ikan
Ikan nila pada umumnya dapat diserang oleh penyakit serius yang disebabkan oleh lingkan dan keadaan yang tidak menyenangkan, seperti populasi yang terlalu padat, kekurangan makanan, penanganan yang kurang baik dan sebagainya. Penanggulangan yang paling efektif dilakukan adalah dengan memberikan kondisi yang lebih baik pada kolam ikan tersebut. Apabila sudah terjadi penyakit yang serius pada sebuah kolam ikan nila maka semua upaya yang dilakukan akan terlambat dan sia-sia. Penyembuhan dengan memberikan antibiotic atau fungisida ke seluruh kolam memerlukan biaya yang cukup mahal. Untuk mengatasi hal ini maka salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah melakukan pencegahan akan lebih murah dibandingkan dengan melakukan pengobatan yaitu dengan jalan lain melakukan pengeringan pada kolam dan melakukan penyiapan dari permulaan.
Pemanenan Ikan Nila
Masa pemanenan ikan nila sudah dapat dilakukan setelah masa pemeliharaan 4 – 6 bulan. Ikan nila pada usia 4-6 bulan pemeliharaan akan memiliki berat yang bevariasi yaitu antara 400-600 gram/ekor. Bila ukuran berat dari masing-masing ikan dirasa belum maksimal maka pemanenan bisa juga dilakukan dengan sistem bertahap dimana hanya dipilih ukuran konsumsi (pasar). Pada tahap pertama dengan menggunakan jaring dan setiap bulan berikutnya secara bertahap.
Untuk melakukan pemanenan secara mudah bisa juga dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara total atau sebagian. Bila ikan dipanen secara keseluruhan, maka kolam dikeringkan sama sekali. Akan tetapi apabila akan memanen sekaligus maka hanya sebagian air yang dibuang. Dalam budidaya ikan nila tidak hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kolam yang terbuat dari semen taupun langsung menggunakan tanah melainkan juga dapat menggunakan kolam yang terbuat dari terpal.

POIN - POIN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB)

(SUmber : http://azizpenyuluh.blogspot.com/2018/04/poin-poin-cara-budidaya-ikan-yang-baik.html)
 
Perdagangan bebas antar negara yang sebentar lagi akan diberlakukan, menuntut para pelaku pasar untuk meningkatkan daya saing produknya. Bukan hanya berkualitas, namun juga dengan harga yang murah. Persaingan produk bukan hanya dalam tataran lokal, namun juga akan bertarung dengan pesaing dari luar negeri. Apabila pelaku pasar tidak dapat meningkatkan daya saing produknya, bukan tidak mungkin produk-produk dari luar negeri yang berkualitas tinggi dan murah akan membanjiri pasar dalam negeri, dan menjadi idola konsumen lokal.
Perdagangan bebas antar negara berlaku juga untuk produk-produk perikanan. Untuk dapat bertarung dengan produk-produk perikanan dari luar negeri, kita tentu harus memiliki kualitas produk perikanan yang baik dan juga harga produk yang murah. Nilai kualitas suatu produk didasarkan pada suatu pengakuan system jaminan mutu (standard mutu) pada masing-masing negara berdasarkan transparasi, objektivitas dan kepercayaan. Disamping itu, produk perikanan juga diharapkan aman untuk dikonsumsi dan ramah lingkungan.
Ilustrasi ikan hias yang sehat
Beberapa negara pengimport produk-produk perikanan, memberlakukan aturan yang ketat dan melakukan pemeriksaan sebelum produk perikanan yang masuk ke negaranya beredar bebas. Diantaranya adalah memeriksa residu logam berat dan anti biotik serta kandungan bakteri yang ada. Mereka memberlakukan standard yang ketat dengan memberi nilai ambang batas kandungan-kandungan bahan atau organisme berbahaya tersebut.
Jadi jangan pernah mimpi produk ikan kita akan diterima pasar bebas, apabila kita masih memelihara lele di kolam yang juga berfungsi sebagai jamban, atau mengobati ikan dengan obat yang mengandung antibiotik tinggi. Mungkin saat ini kita beranggapan bahwa toh produk perikanan kita hanya dijual pada pedagang lokal, jadi tidak masalah apabila masih melakukan hal tersebut. Namun ke depan apabila pasar kita sudah dibanjiri produk perikanan dari Vietnam atau RRC yang terkenal murah dan juga siap olah (berupa fillet), kita baru akan sadar dan mulai memperhatikan masalah mutu.
Agar kita tidak terlambat dalam mengantisipasi hal tersebut, ada baiknya apabila kita memulai untuk melakukan sebuah tindakan yang kongkrit dalam meningkatkan mutu produk perikanan kita.

Penerapan Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) merupakan salah satu upaya menciptakan ikan yang berkualitas. CBIB adalah penerapan cara memelihara dan atau membersarkan ikan serta mamanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol sehingga memberikan jaminan pangan dari pembudidayaan dengan memperhatikan sanitasi, pakan obat ikan dan bahan kimia serta bahan biologi.
Ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam penerapan CBIB, berikut poin - poin tersebut :
1. LOKASI
Unit usaha budidaya berada pada lingkungan yang sesuai, bebas banjir, pencemaran bahan kimiawi, biologis, selengkapnya dapat dilihat disini Pemilihan Lokasi.
Ilustrasi wadah budidaya ikan hias yang baik
2. SUPLAI AIR
Saluran air
3. TATA LETAK DAN DESAIN
Unit usaha budidaya mempunyai desain dan tata letak yang dapat mencegah pencemaran lingkungan dan dibuat untuk memenuhi persyaratan pertumbuhan dan perkembangan ikan. Toilet, septic tank, gudang dan fasilitas lainnya terpisah dan tidak berpotensi mengkonta-minasi produk budidaya.
Unit usaha budidaya memiliki fasilitas pembuangan limbah yang ditempatkan di area yang sesuai. Wadah budidaya di-desain dan dibangun agar menjamin kerusakan fisik dan kenyamanan ikan selama pemeliharaan dan panen, selengkapnya dapat dilihat di Tata Letak dan Desain.
Ilustrasi tata letak dan desain budidaya ikan hias
4. KEBERSIHAN FASILITAS DAN PERLENGKAPAN
Unit usaha budidaya dan lingkungannya dijaga kondisi kebersihan&higienis.  Wadah, perlengkapan dan fasilitas budidaya dibuat dari bahan yang tidak menyebabkan Pencemaran lingkungan dan tidak melukai ikan.
Fasilitas dan perlengkapan dijaga dalam kondisi higienis dan dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan; serta (bila perlu) didesinfeksi dengan desinfektan yang diizinkan, selengkapnya dapat dilihat pada Kebersihan Fasilitas dan Perlengkapan.
Sarana dan prasarana budidaya ikan hias
5. PERSIAPAN WADAH BUDIDAYA
Wadah budidaya dipersiapkan dengan baik sebelum penebaran benih. Dalam persiapan wadah dan air, hanya menggunakan pupuk, probiotik dan bahan kimia  yang direkomendasikan, selengkapnya dapat dilihat pada Persiapan Wadah Budidaya.
Wadah budidaya ikan hias
6. PENGELOLAAN AIR
Dilakukan upaya filterisasi air atau pengendapan serta menjamin kualitas air yang sesuai untuk ikan yang dibudidayakan. Monitor kualitas air sumber secara rutin untuk menja min kesehatan & kebersihan ikan yang dibudidayakan. Pengolahan air sesuai sumber air dan jenis ikan yang dibudidayakan (Kesadahan, pH, suhu, CO2), selengkapnya dapat dilihat pada Pengelolaan Air.
Sistem filtrasi pada budidaya ikan hias

CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) DAN CARA PEMBENIHAN IKAN YANG BAIK (CPIB)


Perdagangan bebas antar negara yang sebentar lagi akan diberlakukan, menuntut para pelaku pasar untuk meningkatkan daya saing produknya. Bukan hanya berkualitas, namun juga dengan harga yang murah. Persaingan produk bukan hanya dalam tataran lokal, namun juga akan bertarung dengan pesaing dari luar negeri. Apabila pelaku pasar tidak dapat meningkatkan daya saing produknya, bukan tidak mungkin produk-produk dari luar negeri yang berkualitas tinggi dan murah akan membanjiri pasar dalam negeri, dan menjadi idola konsumen lokal. Perdagangan bebas antar negara berlaku juga untuk produk-produk perikanan. Untuk dapat bertarung dengan produk-produk perikanan dari luar negeri, kita tentu harus memiliki kualitas produk perikanan yang baik dan juga harga produk yang murah. Nilai kualitas suatu produk didasarkan pada suatu pengakuan system jaminan mutu (standard mutu) pada masing-masing negara berdasarkan transparasi, objektivitas dan kepercayaan. Disamping itu produk perikanan juga diharapkan aman untuk dikonsumsi dan ramah lingkungan.
Beberapa negara pengimport produk-produk perikanan memberlakukan aturan yang ketat dan melakukan pemeriksaan sebelum produk perikanan yang masuk ke negaranya beredar bebas. Diantaranya adalah memeriksa residu logam berat dan anti biotik serta kandungan bakteri yang ada. Mereka memberlakukan standard yang ketat dengan memberi nilai ambang batas kandungan-kandungan bahan atau organisme berbahaya tersebut. Jadi jangan pernah mimpi produk ikan kita akan diterima pasar bebas, apabila kita masih memelihara lele di kolam yang juga berfungsi sebagai jamban, atau mengobati ikan dengan obat yang mengandung antibiotik tinggi. Mungkin saat ini kita beranggapan bahwa toh produk perikanan kita hanya dijual pada pedagang lokal jadi tidak masalah apabila masih melakukan hal tersebut. Namun ke depan apabila pasar kita sudah dibanjiri produk perikanan dari Vietnam atau RRC yang terkenal murah dan juga siap olah (berupa fillet) kita baru akan sadar dan mulai memperhatikan masalah mutu. Agar kita tidak terlambat dalam mengantisipasi hal tersebut ada baiknya apabila kita memulai untuk melakukan sebuah tindakan yang kongkrit dalam meningkatkan mutu produk perikanan kita.
Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) merupakan sebuah konsep bagaimana memelihara ikan, agar ikan yang kita pelihara nantinya memiliki kualitas yang baik dan meningkatkan daya saing produk yaitu bebas kontaminasi bahan kimia maupun biologi dan aman untuk dikonsumsi. Disamping itu konsep CBIB juga menolong kita agar dalam proses pemeliharaan ikan menjadi lebih efektif, efisien, memperkecil resiko kegagalan, meningkatkan kepercayaan pelangggan, menjamin kesempatan eksport dan ramah lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor. 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)
Sama halnya dengan CBIB, Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) juga tidak kalah penting karena benih ikan yang berkualitas merupakan salah satu hal penting dan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah kegiatan budidaya ikan.
Aspek Penerapan Dalam CBIB/CPIB
Dalam penerapan CBIB dan CPIB ada 4 Aspek yang harus diperhatikan yaitu aspek teknis, aspek manajemen, aspek keamanan pangan dan aspek lingkungan. Aspek teknis meliputi kelayakon lokasi dan sumber air, kelayakan fasilitas, proses produksi dan penerapan biosecurity. Lokasi harus bebas banjir dan bebas cemaran sumber air juga harus diperiksa laboratorium untuk mengetahui kandungan logam berat dan bakteri coliform. Fasilitas juga harus sesuai diantaranya terdapat gudang pakan dan gudang peralatan yang layak sarana pengemasan dsb. Proses produksi/pemeliharaan sebaiknya mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) dari pemeliharaan sampai pengemasan. Benih ikan harus berasal dari unit pembenihan yang bersertifikasi CPIB dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (SKA) Benih Ikan. Induk Ikan juga harus berasal dari lembaga yang berwenang memproduksi Induk Ikan dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (SKA) Induk Ikan. Penerapan biosecurity adalah sebuah upaya agar tempat budidaya/pembenihan tidak terkontaminasi zat-zat atau organisme berbahaya yang dapat mengganggu proses pemeliharaan. Diantaranya adalah dengan membuat pagar keliling, foot bath, sebelum memasuki ruang pembenihan, pencuci roda mobil/motor di pintu gerbang dsb. Aspek manajemen meliputi struktur organisasi dan manajemen serta pengolahan data untuk dokumentasi dan rekaman. Dokumentasi dalam hal ini adalah Standard Operasional Prosedur (SOP) atau Instruksi Kerja, yang merupakan pedoman dalam melaksanakan kegiatan, yang dilengkapi dengan formulir isian untuk mengumpulkan data yang diperlukan selama proses pemeliharaan. Rekaman dalam hal ini adalah merupakan bukti obyektif untuk menunjukan efektivitas penerapan CBIB/CPIB. Contoh rekaman diantaranya adalah pembelian pakan, pengolahan kolam, data kematian, pemberian pakan, pemeriksaan kualitas air dsb.
Aspek keamanan pangan merupakan sebuah ketentuan bahwa dalam memelihara ikan tidak boleh menggunakan obat-obatan/bahan kimia/bioloi yang dilarang yang bisa menyebabkan residu termasuk antibiotik. Obat-obatan yang boleh digunakan adalah obat-obatan yang sudah mendapat ijin dari kementerian kelautan dan perikanan. Demikian juga dengan pakan pakan yang boleh digunakan adalah pakan yang sudah disertifikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Apabila pembudidaya/pembenih menggunakan pakan buatan sendiri, maka pembudidaya harus bisa menjelasakan tentang bahan formula serta proses produksi pakan tersebut dan juga memberikan sejumlah sampel pakan yang diproduksi untuk dianalisis di laboratorium. Aspek lingkungan adalah sebuah jaminan bahwa kegiatan budidaya/pembenihan ikan kita tidak mencemari lingkungan sekitar. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengendapkan air buangan dari proses budidaya/pembenihan ikan kita dalam sebuah bak sebelum dibuang ke perairan umum.
Sertifikasi CBIB dan CPIB
Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini tengah mendorong pelaku usaha budidaya/pembenihan ikan untuk menerapkan CBIB dan CPIB. Bagi para pembudidaya/pembenih yang serius melakukannya disarankan untuk mengajukan sertifikasi CBIB dan CPIB pada unit usahanya. Untuk memperoleh sertifikat tersebut tentu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan tersebut pastinya tidak jauh dari 4 aspek yang dijelaskan di atas.
Syarat Sertifikasi CBIB
Adapun yang menjadi syrata-syrat sertifikasi CBIB di antaranya adalah :
  1. Lokasi bebas banjir dan cemaran.
  2. Air tersedia sepanjang tahun dan tidak tercemar.
  3. Menerapkan biosecurity.
  4. Pakan bersertifikat, atau melampirkan bahan/formula dan menyerahkan sampel apabila menggunakan pakan buatan sendiri.
  5. Benih memiliki Surat Keterangan Asal (SKA).
  6. Mempunyai Standard Operasional Prosedur (SOP) dari pengolahan kolam, pengadaan benih, sampai dengan panen.
Syarat Sertifikasi CPIB
Adapun yang menjadi syrata-syrat sertifikasi CPIB di antaranya adalah :
  1. Surat keterangan dari Desa.
  2. Lokasi bebas banjir dan cemaran.
  3. Air tersedia sepanjang tahun dan tidak tercemar (dibuktikan dengan hasil analisis laboratorium).
  4. Fasilitas unit lengkap (ada gudang, tempat pengemasan dsb).
  5. Menerapkan biosecurity.
  6. Pakan bersertifikat, atau melampirkan bahan/formula dan menyerahkan sampel apabila menggunakan pakan buatan sendiri.
  7. Induk memiliki Surat Keterangan Asal (SKA).
  8. Mempunyai Standard Operasional Prosedur (SOP) dari pengolahan kolam, pengadaan induk, pemeriksaan kesehatan ikan, emeriksaan kualitas air, sampai dengan panen dan pengemasan
  9. Mempunyai data rekaman selama proses produksi.
  10. Didampingi satu orang bersertifikat Manager Pengendali Mutu (MPM) Perbenihan.

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB)

PENERAPAN

CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB)

PADA UNIT USAHA BUDIDAYA
image
CBIB - Cara Budidaya Ikan yang Baik
Pendahuluan
Dalam rangka menghadapi era globalisasi, maka produk perikanan diharapkan aman untuk dikonsumsi sesuai persyaratan yang dibutuhkan pasar sebagai konsekuensi dari kebutuhan pasar global, produk perikanan budidaya harus mempunyai daya saing, baik dalam mutu produk maupun efisiensi dalam produksi. Hal tersebut akan berpengaruh positif dalam upaya meningkatkan ekspor dan menekan impor serta pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya dapat meningkatkan devisa dan pendapatan masyarakat.
Peningkatan mutu produk perikanan budidaya lebih diarahkan untuk memberikan jaminan keamanan pangan (food safety) mulai bahan baku hingga produk akhir hasil budidaya yang bebas dari bahan cemaran seperti sesuai persyaratan pasar.
Cara budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) adalah penerapan cara memelihara dan atau membersarkan ikan serta mamanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol sehingga memberikan jaminan pangan dari pembudidayaan dengan memperhatikan sanitasi, pakan obat ikan dan bahan kimia serta bahan biologi.
Dalam menerapkan CBIB, pembudidaya perlu memahami ketentuan yang dipersyaratkan sehingga dapat juga melakukan pengawasan internal terhadap pelaksanaan usaha budidaya dengan menggunakan checklist CBIB.
Dokumen yang harus dimiliki dan diterapkan oleh suatu unit usaha budidaya dalam menerapkan CBIB adalah
1) SPO (Standar Prosedur Operasional), yang merupakan prosedur yang harus dipedomani dalam melakukan kegiatan usaha budidaya.
2) Catatan / rekaman sebagai bukti tertulis bahwa kegiatan usaha budidaya yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur SPO.
Untuk menjamin bahwa penerapan CBIB telah memenuhi persyaratan, maka perlu dilakukan Sertifikasi terhadap unit usaha budidaya yang bersangkutan.
Dengan cara penilaian yang obyektif dan transparan, sertifikasi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan baik produsen maupun konsumen dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing produk perikanan budidaya.
Persyaratan penilaian kesesuaian meliputi :
1. Lokasi
2. Suplai air
3. Tata letak dan desain
4. Kebersihan fasilitas dan perlengkapan
5. Persiapan wadah budidaya
6. Pengelolaan air
7. Benih
8. Pakan
9. Penggunaan bahan kimia, bahan biologi dan obat ikan
10. Penggunaan es dan air
11. Panen
12. Penanganan hasil
13. Pengangkutan
14. Pembuangan limbah
15. Pencatatan
16. Tindakan perbaikan
17. Pelatihan
18. Kebersihan Personil
1. Lokasi
Unit usaha budidaya berada pada lingkungan yang sesuai dimana resiko keamanan pangan dari bahan kimiawi, biologis dan fisik diminimalisir.
2. Suplai Air
Unit usaha budidaya mempunyai sumber air yang baik dan air pasok terhindar dari sumber polusi.
3. Tata Letak dan Desain
(1). Area usaha budidaya hanya digunakan untuk pembudidayaan ikan
(2). Unit usaha budidaya mempunyai desain dan tata letak yang dapat mencegah kontaminasi silang
(3). Toilet, septic tank, gudang dan fasilitas lainnya terpisah dan tidak berpotensi mengkontaminasi produk budidaya
(4). Unit usaha budidaya memiliki fasilitas pembangunan limbah cair ataupun padat yang ditempatkan di area yang sesuai
(5). Wadah budidaya seperti karamba dan jaring didesain dan dibangun agar menjamin kerusakan fisik ikan yang minimal selama pemeliharaan dan
panen
4. Kebersihan Fasilitas dan Perlengkapan
(1). Unit usaha budidaya dan lingkungan dijaga kondisi kebersihan dan higienis
(2). Dilakukan tindakan pencegahan terhadap binatang dan hama yang menyebabkan kontaminasi
(3). BBM, bahan kimia (desinfektan, pupuk, reagen), pakan dan obat ikan disimpan dalam tempat yang terpisah dan aman
(4). Wadah, perlengkapan dan fasilitas budidaya dibuat dari bahan yang tidak menyebabkan kontaminasi
(5). Fasilitas dan perlengkapan dijaga dalam kondisi higienis dan dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan serta (bila perlu) didesinfeksi dengan desinfektan yang diizinkan
5. Persiapan Wadah Budidaya
(1) Wadah budidaya dipersiapkan dengan baik sebelum penebaran benih
(2) Dalam persiapan wadah dan air, hanya menggunakan pupuk, probiotik dan bahan kimia yang direkomendasikan.
6. Pengelolaan Air
(1). Dilakukan upaya filterisasi air atau pengendapan serta menjamin kualitas air yang sesuai untuk ikan yang dibudidayakan
(2). Monitor kualitas air sumber secara rutin untuk menjamin kualitas air yang sesuai untuk ikan yang dibudidayakan
7. Benih
Benih yang ditebar dalam kondisi sehat dan berasal dari unit pembenihan bersertifikat (memiliki sertifikat CPIB) dan tidak mengandung penyakit berbahaya maupun obat ikan.
image
UPR Pasir Gaok Fish Farm bersertifikat CPIB
8. Pakan
(1). Pakan ikan yang digunakan memiliki nomor pendaftaran / sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal atau surat jaminan dari institusi yang berkompeten
(2). Pakan ikan disimpan dengan baik dalam ruangan yang kering dan sejuk untuk menjaga kualitas serta digunakan sebelum tanggal kadaluarsa
(3). Pakan tidak dicampur bahan tambahan seperti antibiotik, obat ikan, bahan kimia lainnya atau hormon yang dilarang dan bahan tambahan yang digunakan harus terdaftar pada DJPB.
(4). Pakan buatan sendiri harus dibuat dari bahan yang direkomendasikan oleh DJPB dan tidak dicampur dengan bahan-bahan terlarang (antibiotik,
pestisida, logam berat.
(5). Pemberian pakan dilakukan dalam efisiensi sesuai dengan dosis yang direkomendasikan
(6). Pakan berlabel / memiliki informasi yang mencantumkan komposisi, tanggal kadaluarsa, dosis dan cara pemberian dengan jelas dalam bahasa Indonesia
9. Penggunaan Bahan Kimia, Bahan Biologi dan Obat Ikan
(1). Hanya menggunakan obat ikan, bahan kimia dan biologis yang diijinkan (dengan nomor registrasi dari DJPB).
(2). Penggunaan Obat ikan yang diijinkan sesuai petunjuk dan pengawasan (obat keras harus digunakan dibawah pengawasan petugas yang berkompeten).
(3). Obat ikan, bahan kimia dan biologis disimpan dengan baik sesuai spesifikasi.
(4). Penggunaan obat ikan, bahan kimia dan biologis sesuai instruksi dan ketentuan / petunjuk pada label
(5). Dilakukan test untuk mendeteksi residu obat ikan dan bahan kimia dengan hasil dibawah ambang batas
(6). Obat ikan, bahan kimia dan bahan biologis yang digunakan mempunyai label yang menjelaskan: dosis dan aturan pemakaian, tanggal kadaluarsa
dan masa henti obat yang ditulis dalam bahasa Indonesia
10. Penggunaan Es dan Air
(1) Air bersih digunakan dan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk panen, penanganan hasil dan pembersihan
(2) Es hanya berasal dari pemasok yang disetujui dan menggunakan air minum / air bersih
(3) Es diterima dalam kondisi saniter
(4) Es ditangani dan disimpan dalam kondisi higienis
11. Panen
(1) Perlengkapan dan peralatan mudah dibersihkan dan dijaga dalam kondisi bersih dan higienis
(2) Panen dipersiapkan dengan baik untuk menghindari pengaruh temperatur yang tinggi pada ikan
(3) Pada saat panen dilakukan upaya untuk menghindari terjadinya penurunan mutu dan kontaminasi ikan
(4) Penanganan ikan dilakukan secara higienis dan efisien sehingga tidak menimbulkan kerusakan fisik.
12. Penanganan Hasil
(1) Peralatan dan perlengkapan untuk penanganan hasil mudah dibersihkan dan didisinfeksi (bila perlu) serta selalu dijaga dalam keadaan bersih.
(2) Ikan mati segera didinginkan dan diupayakan suhunya mendekati 0°C di seluruh bagian
(3). Proses penanganan seperti pemilihan, penimbangan, pencucian, pembiasaan, dll dilakukan dengan cepat dan higienis tanpa merusak produk
(4) Berdasarkan persyaratan yang berlaku, bahan tambahan & kimia yang dilarang tidak digunakan pada ikan, yang diangkut dalam kondisi mati
atau hidup
13. Pengangkutan
(1). Peralatan dan fasilitas pengangkutan yang digunakan mudah dibersihkan dan selalu terjaga kebersihannya (boks, wadah, dll)
(2). Pengangkutan dalam kondisi higienis untuk menghindari kontaminasi sekitar (seperti udara, tanah, air, oli, bahan kimia, dll) dan kontaminasi silang.
(3). Suhu produk selama pengangkutan mendekati suhu cair es (0°C) pada seluruh bagian produk
(4). Ikan hidup ditangani dan dijaga dalam kondisi yang tidak menyebabkan kerusakan fisik atau kontaminasi
14. Pembuangan Limbah
Limbah (cair, padat dan berbahaya) dikelola (dikumpulkan dan dibuang) dengan cara yang higienis dan saniter untuk mencegah kontaminasi
15. Pencatatan
(1). Dilakukan rekaman pada jenis dan asal pakan (pakan pabrikan) serta bahan baku pada ikan (untuk pakan buatan sendiri)
(2). Penyimpanan rekaman penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi atau perlakuan lain selama masa pemeliharaan
(3). Penyimpanan rekaman kualitas air (air sumber, air pasok, air pemeliharaan dan limbah cair) sesuai kebutuhan (lihat poin 6)
(4). Penyimpanan rekaman kejadian penyakit yang mungkin berdampak pada keamanan pangan produk perikanan
(5). Rekaman panen disimpan dengan baik
(6). Catatan / rekaman pengangkutan ikan disimpan dengan baik
16. Tindakan Perbaikan
Tindakan perbaikan (atas bahaya keamanan pangan) dilakukan sebagai kegiatan yang rutin dan terkendali. Tindakan perbaikan dilakukan dengan tepat dan segera sesuai masalah yang ditemukan.
17. Pelatihan
Pemilik unit usaha atau pekerja sadar dan terlatih (pelatihan, seminar, workshop, sosialisasi, dsb) dalam mencegah dan mengendalikan bahaya keamanan pangan dalam perikanan budidaya.
18. Kebersihan Personil
Pekerja yang menangani ikan dalam kondisi sehat
Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Direktorat Produksi
(2010)

Cara Membuat Pakan Ikan Sederhana Dan Keuntungannya Lengkap

Membuat Pakan Ikan
Table of Contents

Cara Membuat pakan Ikan Sederhana

Cara Membuat Pakan Ikan Sederhana Dan Keuntungannya Lengkap

Berikut ini adalah tahapan atau cara untuk membuat sebuah pakan ikan yang baik dan sangat sederhana yang dapat membantu anda dalam menghemat pengeluaran dan biaya pemeliharaan ikan. Simak selengkapnya dibawah ini.

Alat Dan Bahan

  • Alat yang digunakan dalam pembuatan pakan ikan :
  1. Mesin penepung / diskmill (opsional)
  2. Mesin pencampur/mixer (opsional)
  3. Mesin cetak pellet.

Dalam operasional produksi, mesin yang kami gunakan adalah diesel dengan kekuatan 10 PK, dengan ukuran pellet 3.5 – 4 mm. Jika ingin mencetak pelet ukuran 2 – 3 mm, maka kekuatan diesel minimal 24 PK. Bahan-bahan yang kami cetak tidak mengalami proses penepungan karena bahan pakan kami mengalami proses fermentasi, dimana tekstur bahan sudah menjadi lunak pada saat akan di cetak.

  • Adapun proses fermentasi bahan adalah sbb:
  1. Semua bahan seperti tepung ikan, tepung bungkil kedelai, kanji dll, di timbang sesuai dengan formulasi yang diinginkan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada lampiran formulasi pakan.
  2. Bahan kering maupun bahan basah, dicampur secara manual atau pakai mixer.
  3. Adonan bahan di atur kelembabannya dengan kadar air antara 10 – 15 %.
  4. Pengaturan kelembaban adalah dengan penambahan tetes/mollase yang telah diencerkan dengan air.
  5. Tambahkan ragi tape secukupnya, aduk dan campur sampai merata.
    f. Masukkan adonan dalam sak yang telah dilapisi plastik di dalamnya, ikat agar udara tidak masuk.
  6. Peram adonan tadi selama minimal 5 hari,atau sampai adonan dingin dan siap cetak.

Keuntungan dari Teknik Fermentasi

  1. Bahan pakan menjadi lebih lunak, sehingga tidak memerlukan proses penepungan, ini berarti menghemat ongkos produksi.
  2. Kandungan gizi bahan pakan (protein) akan meningkat, karena aktifitas bakteri fermentasi mengubah protein yang komplek menjadi asam amino yang langsung terserap oleh ikan.
  3. Mengurangi bakteri pathogen yang terdapat dalam bahan pakan.
  4. Pelet yang dibuat dari bahan fermentasi, dapat memacu terbentuknya bio flock (red water system) pada kolam pemeliharaan.
  5. Mempermudah penanganan bahan yang cepat membusuk, seperti bahan dari limbah peternakan atau limbah perikanan, sehingga dapat memperpanjang masa penyimpanan bahan.

Proses Cetak Pelet

Bahan yang sudah terfermentasi, jika kurang lembab bisa di tambah air, jika terlalu lembek bisa ditambahkan bahan kering, seperti tepung ikan. Pada saat akan di cetak, dapat juga ditambahkan feed supplement seperti premix vitamin dan mineral, yang banyak di jual di pasaran.

Hasil cetak pelet akan baik jika kelembaban adonan sudah pas. Pelet yang sudah di cetak bisa langsung di jemur di bawah sinar matahari selama 1 – 2 jam atau bisa juga di oven. Pelet yang sudah kering siap di kemas. Sebelum di kemas pellet perlu di ayak agar terbebas dari serbuk pakan.

Tata Cara Pemberian Pakan Pada Ikan

Pada awal penebaran benih ikan, pakan yang diberikan adalah pakan komersial/pabrik. Mengingat pakan yang kami hasilkan diameter 3 – 4 mm, maka dianjurkan diberikan sesuai dengan bukaan mulut ikan. Kalau lele, biasanya pada saat ukuran 40 ekor/kg, dengan kombinasi 50% pakan pabrik dan 50% pakan buatan sendiri. Persentase pakan pabrik terus dikurangi seiring dengan besarnya ikan. Pada saat ikan lele berisi 15 ekor/kg, pakan buatan sendiri diberikan 100% sampai panen.

Pakan pelet yang kami hasilkan adalah tenggelam, pada saat akan diberikan pada ikan sebaiknya dibasahi/dibibis terlebih dahulu, dengan probiotik yang mengandung bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus sp atau premix yang mengandung vitamin dan mineral, guna membantu daya cerna pakan dalam usus ikan. Pemberian pakan buatan sendiri sebaiknya diberikan sedikit demi sedikit, agar bisa mengontrol dosis pakan yang kita berikan.

Mengenai bahan pakan yang kami cantumkan dalam lampiran, bukan syarat mutlak yang harus diikuti, kita bisa memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan kita masing-masing dengan harga yang murah. Pelet yang kita buat sendiri adalah pakan yang bersifat subtitusi/tambahan, yang kita buat dengan teknologi yang sangat sederhana, sebagai upaya untuk mengurangi efek ketergantungan kita pada pakan komersial/pabrik. Sehingga tercipta kondisi yang lebih kreatif dan mandiri. Demikian ringkasan modul pembuatan pakan sederhana ini, semoga bisa bermanfaat.

Cara Budidaya Ikan Gabus

Cara Budidaya Ikan Gabus – Bibit, Pakan, Panen & Perawatannya – Cork fish is known by many names. Some call it as Aruan, haruan (Malay and Banjar), kocolan (Betawi); bayong, Bogo, licingan, curses (Java), and others. In English, the eel is also called by various names, such as the common snakehead, snake-head murrel, chevron snakehead, striped snakehead also Aruan. Scientific name is Channa striata (Bloch, 1793) and some call Ophiocephalus striatus.
Ikan-Gabus

Ikan gabus merupakan ikan air tawar liar dan predator benih yang rakus dan sangat ditakuti pembudidaya ikan. Ikan ini merupakan ikan buas (carnivore yang bersifat predator). Di alam, ikan gabus tidak hanya memangsa benih ikan tetapi juga ikan dewasa dan serangga air lainnya termasuk kodok. Bahkan di Kalimantan pernah dilaporkan gabus memangsa anak bebek. Ini masuk akal karena di sungai dan di rawa-rawa Kalimantan terdapat jenis gabus berukuran besar (gabus toman/aruan dan sejenisnya).

Cara Budidaya Ikan Gabus

Ikan gabus dikenal dengan banyak nama. Ada yang menyebutnya sebagai aruan, haruan (Melayu dan Banjar), kocolan (Betawi); bayong, bogo, licingan, kutuk (Jawa); dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris, belut juga disebut dengan berbagai nama, seperti common snakehead, snake-head murrel, chevron snakehead, striped snakehead juga aruan. Name ilmiahnya adalah Channa striata (Bloch, 1793) dan ada yang menyebutnya Ophiocephalus striatus.
Cara-Budidaya-Ikan-Gabus

Kelas:  Pisces Subkelas: Actinopterygii Ordo: Perciformes Famili: Channidaeae Genus: Channa
Species: Channa sriata/ Ophiocephalus striatus

Ada beberapa jenis gabus. Channa striata merupakan jenis ikan gabus yang banyak ditemui dan memiliki ukuran tubuh relatif kecil. Jenis lain adalah gabus toman Channa micropeltes dan Channa pleuropthalmus. Gabus toman merupakan jenis gabus yang berukuran tubuh besar, mencapai panjang 1 meter dengan berat 5 kg.Ikan gabus memiliki kepala berukuran besar dan agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead). Terdapat sisik-sisik besar di atas kepala.

Tubuh berbentuk bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali atau torpedo. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya. Sisi atas tubuh dari kepala hingga ke ekor berwarna gelap, hitam kecokelatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata).Warna ini sering kali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.

Ikan gabus biasa ditemukan di perairan umum sebagai ikan liar. Banyak ditangkap di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Di Indonesia, ikan gabus awalnya hanya terdapat di barat garis Wallacea (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan). Namun dalam perjalanan waktu, ikan gabus diintroduksi (dimasukkan) ke wilayah Indonesia Timur.

Pada beberapa daerah yang dilalui aliran sungai besar seperti di Sumatera dan Kalimantan, ikan gabus seringkali terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan- ikan peliharaan. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui ―berjalan‖ di daratan—khususnya di malam hari di musim kemarau—mencari tempat lain yang masih berair. Ikan gabus bisa bertahan hidup tanpa air karena bisa bernapas menyerap oksigen bebas menggunakan alat bantu pernapasan berupa ―labirin‖.

Pengendalian Ikan Gabus

Biasanya ikan ini menyambar mangsa di permukaan sehingga jika masuk ke kolam ikan yang lain kehadirannya dapat segera diketahui. lkan gabus yang akan menyambar mangsa biasanya berdiam diri di sekitar tanaman air (sehingga tidak terlihat oleh mangsanya) dan secara tiba-tiba meluncur cepat ke arah mangsanya dan langsung menelannya. Mulutnya yang besar memungkinkan untuk itu.

Pada musim kawin, ikan gabus jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan di tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijaga oleh induknya. Ini merupakan saat yang paling baik untuk menangkap/mengusir gabus dari kolam.

Untuk mencegah masuknya gabus ke kolam, pada saat pengolahan, dasar kolam harus benar-benar kering sampai retak-retak sehingga tidak memungkinkan gabus bertahan hidup. Biarkan dasar kolam dijemur sinar matahari selama beberapa hari. Pada bagian saluran pemasukan, dipasang saringan dari ijuk yang sangat rapat sehingga benih dan telur gabus tidak ikut masuk ke kolam bersama aliran air.

Jika di dalam kolam sudah terdapat ikan gabus, harus segera ditangkap. Biasanya populasinya tidak begitu banyak. Gabus dapat dipancing dengan mengggunakan umpan berupa ikan kecil, anak kodok atau eating. Cara pemancingannya cukup unik, yaitu dengan menggerak-gerakkan umpan di permukaan air. Umpan yang bergerak biasanya disambar gabus karena disangka mangsanya. Gabus yang tertangkap dapat dikonsumsi karena memang rasanya enak dan menjadi makanan favorit di beberapa daerah baik dalam bentuk segar maupun kering/asin.

Ikan inipun mudah sekali didapat, bisa dibeli di pasar, bahkan di warung-warung sekitar tempat tinggal. Namun apakah mereka tahu asal-usul ikan tersebut. Tentu saja tidak semua orang tahu, termasuk cara budidayanya. Inilah yang akan dikupas dalam artikel ini.

Soal asal usul. Ternyata ikan gabus adalah ikan asli Indonesia. Hidup di perairan sekitar kita, di rawa, di waduk dan di sungai-sungai yang airnya tenang. Namun ikan gabus yang bisa dibeli di pasar-pasar dan warung-warung, kemungkinan besar dari Kalimantan. Karena pulau itulah yang kini menjadi pemasok terbesar untuk pasar- pasar seluruh Indonesia. Namun sayang, populasi ikan gabus di alam sudah mulai berkurang, sehingga budiadaya ikan ini perlu dikembangkan.

Lalu soal cara budidaya ikan gabus. Ternyata ikan inipun tidak susah. Tidak perlu dengan pemijahan buatan, cukup dengan pemijahan alami. Tentu saja hal ini disebabkan karena ikan gabus sudah akrab dengan perairan kita. Salah satu instansi perikanan yang sudah berhasil adalah Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin, Kalimantan Selatan. Artikel inipun diambil dari salah satu leafletnya.

Namun sebelum mengupas tentang cara budidayanya, alangkah lebih baiknya kita tahu dulu tentang biologinya, terutama habitat, kebiasaan hidup, kebiasaan makan dan sistematikanya. Di Kalimantan, ikan gabus banyak ditemukan di rawa-rawa daerah pedalaman, hidup di dasar perairan yang dangkal, bersifat carnivor atau pemakan daging, terutama ikan-ikan kecil yang mendekatinya. Ikan gabus bersifat musiman, memijah pada musim hujan dari Bulan Oktober hingga Desember.

Secara sistematika, seorang ahli perikanan, Kottelat (1993) memasukan kedalam : Kelas : Pisces; Ordo : Labyrinthycy; Famili : Chanidae; Genus : Channa; Spesies : Channa striata; sinonim dengan Ophiochephalus striatus. Ikan gabus memiliki nama lain, yaitu gabus isilah Indonesia, Haruan merupakan nama daerah Kalimantan. Sedangkan dalam Bahasa Inggeri disebut Snaka Head Fish.

Perbedaan Jantan Dan Betina Ikan Gabus

Jantan dan betina ikan gabus bisa dibedakan dengan mudah. Caranya dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Jantan ditandai dengan kepala lonjong, warna tubuh lebih gelap, lubang kelamin memerah dan apabila diurut keluar cairan putih bening. Betina ditandai dengan kepala membulat, warna tubuh lebih terang, perut membesar dan lembek, bila diurut keluar telur. Induk jantan dan harus sudah mencapai 1 kg.

Pemijahan Ikan Gabus

Pemijahan dilakukan dalam bak beton atau fibreglass. Caranya, siapkan sebuah bak beton ukuran panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; keringkan selama 3 – 4 hari; masukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan; sebagai perangsang pemijahan, masukan eceng gondok hingga menutupi sebagian permukaan bak; masukan masukan 30 ekor induk betina; masukan pula 30 ekor induk jantan; biarkan memijah; ambil telur dengan sekupnet halus; telur siap untuk ditetaskan.
Untuk mengetahui terjadinya pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari. Telur bersifat mengapung di permukaan air. Satu ekor induk betina bisa menghasilkan telur sebanyak 10.000 – 11.000 butir.

Penetasan Telur Ikan Gabus

Penetasan telur dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan sebuah akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 40 cm; pasang dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan; pasang pula pemanas air hingga bersuhu 28 O C; masukan telur dengan kepadatan 4 – 6 butir/cm2; biarkan menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam. Sampai dua hari, larva tidak perlu diberi pakan, karena masih menyimpan makanan cadangan.

Pemeliharaan Larva Ikan Gabus

Pemeliharaan larva dilakukan setelah 2 hari menetas hingga berumur 15 hari, dalam akuarium yang sama dengan kepadatan 5 ekor/liter. Kelebihan larva bisa dipelihara dalam akuarium lain. Pada umur 2 hari, larva diberi pakan berupa naupli artemia dengan frekwensi 3 kali sehari. Dari umur 5 hari, larva diberi pakan tambahan berupa daphnia 3 kali sehari, secukupnya. Untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiponan, dengan membuang kotoran dan sisa pakan dan mengganti dengan air baru sebanyak 50 persen. Penyiponan dilakukan 3 hari sekali, tergantung kualitas air.

Pendederan Ikan Gabus

Pendederan I ikan gabus dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 200 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 4.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu

Cara Budidaya Ternak Lele Bioflok Bagi Pemula Terbaru

(Sumber :http://bbppkupang.bppsdmp.pertanian.go.id/blog/post/cara-budidaya-ternak-lele-bioflok-bagi-pemula-terbaru)

Sumber : https://ukmkreatif.com/cara-ternak-lele-bioflok/
by : Andre Hq
Jika anda ingin memulai usaha budidaya lele, Anda dapat menggunakan cara ternak lele bioflok yang sangat membuahkan hasil. Karena budidaya dengan cara ini, membuat biaya yang di keluarkan relative rendah. Seperti, biaya produksi dalam pembelian makan dapat ditekan, sehingga bisa hemat. Tidak perlu khawatir jika anda memiliki lahan yang sempit. Metode ini akan tetap efektif dan dapat mendongrak produktifitas. Dengan sistem bioflok anda bisa melakukan padat tebar (tebar lele dalam kolam). Selain itu metode ini cenderung memiliki waktu panen yang singkat berbeda dengan penggunaaan kolam biasa. Ternak lele dengan metode biofolk juga dapat dilakukan siapapun termasuk pemula seperti anda. Berikut ini cara ternak lele bioflok bagi pemula dengan baik dan benar. Berkenalan Dengan Bioflok Cara ternak lele bioflok adalah suatu sistem pemeliharaan ikan lele yang menumbuhkan suatu mikroorganisme, yang memiliki fungsi untuk menggelola limbah budidaya itu sendiri, hingga menjadi gumpalan kecil (floc) yang di manfaatkan langsung sebagai makanan alami. Pertumbuhan mikrooganisme ini ditumbuhkan (dipacu) dengan cara memberikan probiotik atau kultur bakteri non pathogen, dan juga dilakukan pemasangan aerator penyuplai oksigen sekaligus untuk mengaduk air dalam kolam. Tahap Pembuatan Kolam pembuatan kolam merupakan tahap awal, yang perlu anda siapkan adalah besi/kayu, terpal plastik, pipa paralon untuk air dapat in-out, juga pipa dan selang untuk mengalirkan udara.Untuk cincin bawah kolam sipakan semen, pasir dan batu bata. Ini merupakan kolam terpal pasti yang dapat menekan modal. Anda bisa merangkai bahan-bahan tersebut membentuk sebuah kolam yang terdapat aerator. Anda juga harus membuatkan-Nya atap berupa kerangka bambu atau mungkin penutup lainya, untuk menghindari air hujan dan juga panasnya matahari, agar kondisi kolam (kualitas air) dapat terkontrol. Dalam kolam 1 meter anda bisa menebar bibit lele sebanyak 1000 ekor, jika di bandingkan dengan kolam biasa maka hanya bisa menampung 100 bibit ikan lele. Inilah yang menjadi kelebihan dari cara budidaya lele bioflok. ![](/storage/app/media/sa.jpg) Tahap Pengisian Air Dan Pembuatan Flok Pada Budidaya Lele Setelah kolam selesai dibuat, yang dilakukan adalah pengisian air. Hal tersbut di lakukan ketika semua keperluan media dalam kolam bioflok sudah terpenuhi. Jika anda mengisi air, Isilah misalnya kedalaman dengan 20-40 cm, untuk memudahkan bibit-bibit lele bergerak. Jika air terlalu dalam maka, akan membuat bibit lele menjadi strees. Bahkan bisa mati karena tidak mampu menahan tekanan air.Dan apabila melakukan pengisian air yang tidak terlalu banyak, akan memungkinkan pembentukan flok yang lebih cepatKemudian tambahkan probiotik, yang merupakan bibit bakteri pengurai zat organik yang akan menjadi flok protein dengan takaran 8 sampai 10ml/meter3. ternak ikan lele bioflok Anda juga harus menambahkan molase, tetes tebu, gula pasir gula batu juga aren ke dalam kolam, dengan takaran 50-100 ml/meter3. Molase dapat berfungsi sebagai bahan yang dapat merangsang tumbuh dan berkembangnya bakteri pengurai, agar dapat berkembang secara efektif. Pengadukan akan di lakukan 24 jam secara terus-menerus, dengan bantuan dari aerator. Anda dapat membiarkan proses ini selama beberapa hari, sehingga air benar-benar matang dan sudah terdapat flok protein di dalamnya. Tanda air tersebut sudah matang adalah air yang telah matang akan terlihat 3 warna, berwarna kuning hijau kecoklatan, hijau namun tidak hijau, kuning namun tidak kuning . Jadi terlihat berwarna samar tapi yang lebih dominan warna kecoklatan. Air terlihat keruh. Namun, jika di ambil sampel dalam gelas bening atau kaca akan terlihat jernih jika di diamkan. Dan anda akan melihat endapan berwarna hijau samar kuning dan tidak pekat apabila di pegang. Jika kolam diaduk maka akan keluar kabluk yaitu berupa debu yang melayang-layang di air. Selanjutnya terdapat pengelolaan air. Jika air sudah surut, maka anda harus menambahkan air, di mungkinkan karena air mengalami perembesan pada kolam. Seiring dengan bertambahnya bobot pada lele. Anda harus menambahkan pakan juga probiotik 5 hari sekali, dengan konsentrasi yang di berikan 5-10 ml/meter3. Supaya dapat menjaga kestabilan bakteri agar tetap terus ada. Tahap Penebaran Bibit Lele Bioflok Penebaran bibit di lakukan setelah air sudah matang serta flok terbentuk (yang sudah dijelaskan diatas). Anda harus melakukan pengecekan PH air terlebih dahulu. Jika sudah dipastikan PH dalam netral, barulah anda dapat menebar bibit lele. Anda dapat melakukan penebaran bibit lele pada malam hari atau pagi hari. Misalnya jam 5 pagi. Karena di saat tersebut air-nya sejuk. Seperti yang di katakan anggota BBI lampung selatan, bahwa bibit yang di tebar memiliki ukuran lebih dari 7cm. Menjaga supaya lele tetap utuh. jika lele memiliki ukuran lebih besar dari 7cm, maka akan lebih tahan terhadap kondisi dan lingkungan. Jadi padat tebar/meter dapat di sesuaikan pada benih yang akan anda tebar. ![](/storage/app/media/sasa.jpg) Tahap Pengelolaan Makanan Pada Budidaya Ternak Lele Bioflok Cara ternak lele bioflok yang terakhir adalah mengelola makanan atau pakan lele Biofol. Anda harus tahu kebutuhan maksiman makanan lele. Hal tersebut dapat dilihat pada saat pemberian pakan hingga tidak ada ikan yang datang atau merespon. Apabila pakan diberikan 100% dari kebutuhan maksimal, maka tingkat efisiensi 70%. Begitu pun sebaliknya, jika pakan di berikan 70% maka tingkat efisiensi 100%. Kekurangan dari yang 70% akan di dapat dari bioflok yang berkembang di dalam kolam Ini merupakan salah satu keuntungan dari sistem bioflok, karena dapat menekan porsi pakan yang sebenarnya. Di bandingkan dengan mengunakan kolam biasa, lele akan terbiasa atau membiasan diri untuk memakan bioflok yang ada di dalam kolam. Perlu diingat anda harus membuat jadwal rutin waktu pemberian makan . misalnya lele di berikan pakan sehari tiga kali dengan ukuran 7-10%dari bobot lele. Kemudian tambahkan air seminggu sekali tergantung pada seberapa cepat ikan tumbuh kembang. Hingga batas ideal 100-110cm. Anda dapat mengambil lele untuk menentukan pakan ideal yang di berikan. Hal tersebut berkisar antara7-5 dari bobot ikan. Anda juga harus menambahkan molase, tetes tebu, gula pasir, gula batu seminggu sekali. Dengan takaran 50-100 ml/meter kubik. Ini berfungsi agar menjaga keseimbangan C/N rasio agar tetap berada pada anga diatas ½ . Moles juga dapat diganti dengan mengunakan tepung trigu atau tapioca jika molase tetes tebu sudah didapat. pertahankan suhu kolam pada angka 280 C. Karena suhu ini sangat berpengaruh pada flok di kolam apalagi saat musim pancaroba datang. Anda juga harus mengontrol apa yang terjadi secara rutin. Dan harus dapat mengambil tindakan, apabila sesuatu terjadi, seperti berkurangnya nafsu makan pada ikan, kolam terlalu pekat. Jika semua berjalan sesuai rencana, kemungkinan hanya dalam waktu 2 bulan ikan dapat di panen. Itulah cara ternak lele bioflok yang harus anda ketahui sebelum memulai berternak lele. Mungkin saat ini, anda hanya mencoba dengan membuat 1 kolam. Jika usaha anda maju, bukan tidak mungkin anda akan memiliki banyak kolam lele dengan bioflok. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda.

  PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA CBIB - Cara Budidaya ...