Selasa, 22 Desember 2020

 

BIOTEKNOLOGI

Sumber : https://defishery.wordpress.com/2009/11/08/probiotik-dan-bioremidiasi/


Istilah bioteknologi untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Karl Ereky, seorang insinyur Hongaria pada tahun 1917 untuk mendeskripsikan produksi babi dalam skala besar dengan menggunakan bit gula sebagai sumber pakannya (Suwanto, 1998). Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘bio’ yang berarti makhuk hidup dan ‘teknologi’ yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology (1989) mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa.

Dengan definisi tersebut bioteknologi bukan merupakan sesuatu yang baru. Tanaman dan hewan telah didomestifikasi sejak ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang kita telah memanfaatkan mikroba untuk membuat produk-produk berguna seperti tempe, oncom, tape, arak, terasi, kecap, yogurt, dan nata de coco . Hampir semua antibiotik berasal dari mikroba, demikian pula enzim-enzim yang dipakai untuk membuat sirop fruktosa hingga pencuci pakaian. Dalam bidang pertanian, mikroba penambat nitrogen telah dimanfaatkan sejak abab ke 19. Mikroba pelarut fosfat telah dimanfaatkan untuk pertanian di negara-negara Eropa Timur sejak tahun 1950-an. Mikroba juga telah dimanfaatkan secara intensif untuk membersihkan dan mendekomposisi limbah dan kotoran selama berpuluh-puluh tahun. Dalam bidang medis, vaksin-vaksin tertentu dibuat dari virus atau bakteri yang telah dilemahkan. Bioteknologi memiliki gradien perkembangan teknologi, yang dimulai dari penerapan bioteknologi tradisional yang telah lama dan secara luas dimanfaatkan, hingga teknik-teknik bioteknologi baru dan secara terus menerus berevolusi.

Perkembangan bioteknologi secara drastis terjadi sejak ditemukannya struktur helik ganda DNA dan teknologi DNA rekombinan di awal tahun 1950-an. Ilmu pengetahuan telah sampai pada suatu titik yang memungkinkan orang untuk memanipulasi suatu organisme di taraf seluler dan molekuler. Bioteknologi mampu melakukan perbaikan galur dengan cepat dan dapat diprediksi, juga dapat merancang galur dengan bahan genetika tambahan yang tidak pernah ada pada galur asalnya. Memanipulasi organisme hidup untuk kepentingan manusia bukan merupakan hal yang baru, bioteknologi menawarkan cara baru untuk memanipulasi organisme hidup.

Seperti halnya teknologi-teknologi yang lain, aplikasi bioteknologi untuk pertanian selain menawarkan berbagai keuntungan juga memiliki potensi resiko kerugian. Keuntungan potensial bioteknologi pertanian antara lain: potensi hasil panen yang lebih tinggi, mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida, toleran terhadap cekaman lingkungan, pemanfaatan lahan marjinal, identifikasi dan eliminasi penyakit di dalam makanan ternak, kualitas makanan dan gizi yang lebih baik, dan perbaikan defisiensi mikronutrien (Jones, 2003).

Potensi resiko bioteknologi terhadap pertanian dan lingkungan antara lain efek balik terhadap organisme non-target, pembentukan hama resisten, dan transfer gen yang tidak diinginkan yang meliputi transfer gen ke tanaman liar sejenis, transfer gen penyandi untuk produksi gen toksik, dan transfer gen resisten antibiotik melalui gen penanda ( marker ) antibiotik. Beberapa kritikan menyebutkan bahwa modifikasi DNA rekombinan menyebabkan pangan tidak aman untuk dimakan. Kelompok pecinta lingkungan mengkritik bahwa organisme trasgenik menyebabkan kerusakan keragaman hayati, karena membunuh organisme liar yang berguna, atau membuat organisme invasif yang dapat merusak lingkungan (Conko, 2003).

Terlepas dari perdebatan keuntungan dan kerugian di atas, prinsip ”kehati-hatian” harus dikedepankan dalam aplikasi bioteknologi untuk pertanian di pedesaan, khususnya rekayasa genetika. Belajar dari pengalaman Revolusi Hijau yang semula dianggap aman, intensifikasi penggunaan pupuk dan pestisida terbukti berakibat buruk yang baru diketahui setelah beberapa puluh tahun kemudian.

BIOREMEDIASI

Remediasi : Kegiatan untuk membersihkan lingkungan.

Hal yang perlu diketahui dlm melakukan remediasi:

1. Jenis pencemar (organik atau anorganik),

2. terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,

3. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari lingkungan tersebut,

4. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),

5. Jenis tanah,

6. Kondisi tanah (basah, kering),

7. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,

8. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Atau Bioremediasi adalah penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi  polutan di lingkungan.

Bioremediasi adalah proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol,  mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan.

Yang termasuk dalam polutan-polutan antara lain :

– logam-logam berat,

– petroleum hidrokarbon, dan

– senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida dll.

Tujuan Bioremediasi : untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

Kelebihan teknologi ini adalah:

1. Relatif lebih ramah lingkungan,

2. Biaya penanganan yang relatif lebih murah

3. Bersifat fleksibel.

Saat bioremediasi terjadi, enzim” yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, disebut biotransformasi.

Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun.

Pendekatan umum untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi/ biodegradasi adalah dengan cara:

(i) seeding, mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan           mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi)

(ii) feeding, memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing).

Bioremediasi terbagi 2 :

1. In situ : dapat dilakukan langsung di lokasi tanah tercemar  2. Ex situ : tanah tercemar digali dan dipindahkan ke dalam        penampungan yang lebih terkontrol. Lalu diberi perlakuan khusus dengan memakai mikroba.

Bioremediasi ex-situ bisa lebih cepat dan mudah dikontrol. Dibanding in-situ, ia pun mampu me-remediasi jenis kontaminan dan jenis tanah yang lebih beragam.

Ø      Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi:

  1. Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb
  2. Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus
  3. Penerapan immobilized enzymes
  4.  Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

Kunci sukses bioremediasi adalah :

1. Dilakukan karakterisasi lahan (site characterization) :

    • sifat dan struktur geologis lapisan tanah,
    • lokasi sumber pencemar
    • perkiraan banyaknya hidrokarbon yang terlepas dalam tanah.
    • sifat-sifat lingkungan tanah : derajat keasaman (pH), temperatur tanah,  kelembaban hingga kandungan kimia yang sudah ada, kandungan nutrisi, ketersediaan oksigen.
    • mengetahui keberadaan dan jenis mikroba yang ada dalam tanah.

2. Treatability study.

    • Sesudah data terkumpul, kita bisa melakukan modeling untuk menduga pola distribusi dan tingkat pencemarannya. Salah satu teknik modeling yang kini banyak dipakai adalah bioplume modeling dari US-EPA. Di sini, diperhitungkan pula faktor perubahan karakteristik pencemar akibat reaksi biologis, fisika dan kimia yang dialami di dalam tanah.
    • Rekayasa genetika terkadang juga perlu jika mikroba alamiah tak memuaskan hasilnya.
    • Treatability study juga akan menyimpulkan apakah reaksi dapat berlangsung secara aerobik atau anaerobik.

Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasi gen” yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba” memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya.

Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan.

Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri “pemakan minyak”. Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan.

Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut:

1. Biostimulasi

Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.

2. Bioaugmentasi

Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat.

Hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan:

Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.

3. Bioremediasi Intrinsik

Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

Kelas zat kimia yang sering diolah dengan bioremediasi

Peluang kedepan adalah pengembangan green business yang berbasis pada teknologi bioremediasi dengan :

1.      System One Top Solution (close system) dan

2.  Dengan pendekatan multi-proses remediation technologies, artinya pemulihan (remediasi) kondisi lingkungan yang terdegradasi dapat diteruskan sampai kepada kondisi lingkungan seperti kondisi awal sebelum Kontaminasi ataupun pencemaran terjadi.

Usaha mencapai total grenning program ini dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan dengan melakukan kegiatan phytoremediasi dan penghijauan (vegetation establishement) untuk lebih efektif dalam mereduksi, mengkontrol atau bahkan mengeliminasi hasil bioremediasi kepada tingkatan yang sangat aman lagi buat lingkungan.

Biaya tehnologi Bioremediasi di Indonesia berada didalam kisaran 20-200 USD per meter kubik bahan yang akan diolah (tergantung dari jumlah dan konsentrasi limbah awalserta metoda aplikasi), jauh lebih murah dari harga yang harus dikeluarkan dengan teknologi lain seperti incinerasi dan soil washing (150-600 USD).

Bagi industri, penanganan lahan tercemar dengan teknologi bioremediasi memberikan nilai strategis :

  1. Effisiensi, kesadaran bahwa banyak sumber daya alam kita adalah non-renewable resources (ex. minyak dan gas), dengan teknologi ramah lingkungan yang cost-effective (seperti bioremediasi) akan secara langsung berimplikasi kepada pengurangan biaya pengolahan.
  2. Lingkungan, ketika suatu perusahaan begitu konsern dengan lingkungan, diharapkan akan  terbentuk sikap positif dari pasar yang pada akhirnya seiring dengan kesadaran lingkungan masyarakat akan mengkondisikan masyarakat untuk lebih memilih “green Industry” dibanding industri yang berlabel “red industri” atau mungkin “black industry”, evaluasi kinerja industri dalam pengelolaan lingkungan hidup (Proper) sudah mulai dilakukan oleh pemerintah (KLH), diharapkan kedepan, akan terus dikembangkan menjadi pemberian sertifikasi ISO 14001, hasilnya adalah perluasan pasar dengan “greening image”.
  3. Environmental Compliance, ketaatan terhadap peraturan lingkungan menunjukan bentuk integrasi total dan aktif dari industri terhadap regulasi yang dibangun oleh pemerintah untuk kepentingan masyarakat luas. Sikap ini juga akan memberi penilai positif dari masyarakat selaku konsumen terhadap perusahaan tertentu.

Pemerintah, melalui Kementrian Lingungan Hidup, membuat  Payung hukum yang mengatur standar baku kegiatan Bioremediasi untuk mengatasi permasalahan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dan perminyakan serta bentuk pencemaran lainnya (logam berat dan pestisida) disusun dan tertuang didalam:

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.128 tahun 2003 tentang tatacara dan persyaratan teknis dan pengelolaan limbah minyak bumi dan tanah  terkontaminasi oleh minyak bumi secara biologis (Bioremediasi).

7. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,

8. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

dari berbagai sumber

 

IKAN HIAS

Sumber : https://defishery.wordpress.com/2009/11/08/primadona-ikan-hias/

Sejalan dengan lajunya pembangunan indonesia, maka perkembangan perikananpun mengalami peningkatan yang sangat pesat. Hal ini dimungkinkan karena pada hakekatnya Kota Jakarta merupakan Wilayah konsumen yang potensil, sehingga sangat mendukung dalam usaha pemasarannya.


Mengamati kegiatan usaha Perikanan khususnya ikan hias tentunya tak dapat dipisahkan dengan sarana penunjang yang yang tak kalah pentingnya dengan usaha ikan hias itu sendiri yaitu “AQUARIUM” karena betapun indahnya ikan hias apabila tidak ditunjang dengan penampilan aquarium serta dekorasi yang memadai, maka sesungguhnya nilai keindahan itu telah berkurang dan ini hanya bisa dicapai melalui penanganan yang tekun dan berkelanjutan.


Untuk mengembangkan usaha ikan hias diwilayah DKI Jakarta dilaksanakan melalui Pusat Promosi Hasil-hasil Perikanan yang beralokasi di Jalan Sumenep, Jakarta Pusat.

PERLENGKAPAN AQUARIUM

  1. Aquarium dalam keadaan bersih dan tidak bocor
  2. Tanaman hdiup secukupnya
  3. Bahan-bahan dekorasi: pasir bersih (tidak mengandung lumpur), koraltex, akar kayu dan batu karang
  4. Pompa udara (aerator) sebagai alat penambah oksigen dalam air
  5. Lampu neon ultra violet pada malam hari dapat menimbulkan rasa alami yang mempesona
  6. Filter yang dihubungkan dengan aerator berfungsi sebagai penyaring kotoran dalam air
  7. Peralatan lainnya: slang plastik, serokan dan pembersih kaca.


TEKNIS DEKORASI AQUARIUM

  1. Pasir dimasukkan kedalam aquarium lalu diatur/dipadat sambil diberi percikan air secukupnya.
  2. Kemudian tanaman air ditanam dengan cara dibenamkan kedalam pasir (tanaman yang lebih tinggi diletakkan dibagian belakang)
  3. Setelah diperkirakan siap untuk didekor, maka sebelum diisi air permukaan tanaman dan pasir ditutup dengan kertas koran atau plastik. Hal ini dilakukan dengan maksud agar tekanan air tidak merusak tanaman dan tidak menimbulkan kekeruhan.
  4. Air dalam aqurium ditunggu sampai kotorannya mengendap, lalu ikan dimasukkan (diusahakan jenis ikan yang tidak saling memangsa)
  5. Tahap selanjutnya aerator dipasang sesuai ukuran aquarium, tapi bila tersedia banyak tanaman hidup, aerator cukup dipasang pada malam hari saja
  6. Aquarium diletakkan ditempat yang datang agar tekanan air merata dan diusahakan jangan terlalu banyak terkena sinar matahari karena akan mempercepat tumbuhnya lumut.

MAKANAN IKAN

  • Makanan ikan hias air tawar terdiri dari 2 macam yaitu: makanan alami seperti kutu air (Moina) cacing rambut (Fubifek, Chironomus) dan lawa nyamuk (cuk).
  • Makanana alami harus dibersihkan/dibilas terlebih dahulu dengan air bersih sebelum di berikan pada ikan dan satu hari cukup 1 (satu) kali saja
  • Makanan buatan: wafer, tahu, darah ayam/kerbau/marus
  • Makanan buatan sebaiknya diberikan pada saat tidak ada makanan alami
  • Pemberian makanan diusahakan jangan sampai tersisa karena dapat menimbulkan pembusukan/keracunan

MANFAAT

Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari keindahan aquarium ikan hias antara lain:

  1. dapat mendidik rasa cinta alami
  2. merupakan hiburan yang dapat mengendorkan urat syaraf serta menimbulkan rasa tentram di rumah
  3. menambah keindahan ruangan dan tidak memerlukan tempat yang luas
  4. merupakan usaha sambilan yang dapat menambah penghasilan keluarga
  5. menjaga kelestarian sumber daya perikanan

Sumber: Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta

RED BEE (red crystal)

Seekor Rp232-juta Anda mungkin terbelalak bila membaca email yang masuk ke Harlequin Aquatic, perusahaan ekspor-impor ikan hias di bilangan Bambuapus, Jakarta Timur. Surat elektronik yang datang dari Hirotaka Sato, peternak udang hias di Tokyo, Jepang, menyebutkan harga seekor red bee-udang hias baru-di negeri Matahari Terbit mencapai ?2.000. 000 atau setara Rp232-juta.

Itulah harga red bee kualitas A. Ia istimewa lantaran corak dan warna lebih mewah dibanding pendahulunya, red crystal. Lazimnya, warna merah red crystal mendominasi seluruh tubuh dengan garis putih tipis. Red bee hadir dengan tampilan warna putih bak salju hampir menutupi seluruh cangkang. Sedangkan warna merah hanya sedikit menghiasi tubuh.

Selain red bee, black bee juga menjadi incaran mania udang hias dunia. Walaupun harga seekor black bee menyamai harga red bee, si hitam itu tetap diburu. Maklum, warna hitam terang di cangkang black bee lebih keren dibanding bumble bee. Yang mencolok, warna putih lebih banyak dan mendominasi seluruh tubuh.

Kualitas warna memang mempengaruhi harga keduanya. ?Sekarang hobiis ingin warna putih yang dominan. Semakin banyak putihnya semakin mahal,? kata Hendra Iwan Putra, eksportir udang hias. Menurutnya harga bisa melonjak 2-3 kali lipat dibanding red crystal. Itulah sebabnya Hendra memboyong 400-500 red bee dan 200 black bee ke tanahair untuk diternakkan.

Perawatan khusus
Namun, untuk menghasilkan kualitas udang hias seperti red bee dan black bee bukanlah pekerjaan gampang. Peternak di Jepang saja membutuhkan waktu bertahun-tahun agar warna putih lebih banyak dibanding warna lain. Namun, biasanya untuk mendapatkan red bee atau black bee pemilihan indukan menjadi kunci sukses. Induk yang baik dipilih saat berukuran 1, 5 cm. Saat itu perbandingan warna merah dan putih di kulit telah terlihat jelas. ?Kalau putihnya dominan berarti ia calon induk yang baik, ? kata Jeffrey Christian, peternak udang hias.

Indukan yang baik perlu pemeliharaan intensif. Red bee dan black bee membutuhkan suhu dingin, sekitar 21-23o C, untuk mempertahankan kesehatan dan warna tubuh. Selain itu, ia menginginkan derajat keasaman air 6, 8-7, 2. Kesadahan air lunak, 0 – 1 ppm dan bebas polutan. Pakan bloodworm diberikan dengan dosis 1 batang untuk populasi 50-100 ekor, 2 kali sehari.

Ikan hias corydoras merupakan ikan hias primadona ekspor. Permintaan terhadap ikan hias ini datang dari Amerika Serikat, Australia, Jepang dan Eropa. Salah seorang yang menggeluti usaha pembibitan ikan hias corydoras adalah Imam, di aquarium budidaya miliknya di kawasan Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang, Banten.

Untuk mencapai tempat pengembang biakkan ikan hias corydoras milik imam dari Jakarta dapat mengambil arah ke Lebak Bulus. Lalu dilanjutkan ke arah Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang, Banten. Di tempat ini, Imam memiliki sekitar 700 aquarium untuk membudidayakan ikan hias corydoras.

Dari sekitar 80 spesies ikan hias corydoras, beberapa diantaranya telah dapat ditangkarkan di Indonesia. Antara lain jenis corydoras sterbey, panda, adolfoi dan albino. Corydoras adolfoi aslinya berasal dari Brazil. Permintaan dari luar negeri untuk ikan hias jenis ini bisa mencapai puluhan ribu ekor per bulan.

Proses pembibitan ikan hias dimulai dari perkawinan antara ikan jantan dan betina. Setelah dua bulan dikawinkan, satu indukan ikan corydoras dapat menghasilkan 200 hingga 500 telur. Telur akan menetas dalam waktu 3 hingga 5 hari. Dan berubah menjadi larva.

Setelah berusia 11 hari, larva berkembang menjadi anakan dan disortir, lalu ditempatkan di aquarium yang maksimal berisi 300 anak ikan. Membudidayakan ikan hias corydoras perlu ketelitian dan kesabaran, karena resiko kematiannya tinggi. Tingkat keasaman air harus dijaga pada posisi 7,2, dan suhu 26 derajat celcius.

Ikan hias corydoras harga jualnya ditentukan berdasarkan ukurannya. Permintaan paling banyak untuk jenis corydoras sterbey dan panda. Ikan yang dijual umumnya berukuran midle atau sedang. Untuk ikan corydoras sterbey, permintaan biasanya untuk ukuran panjang 2,5 centimeter. Sedangkan jenis panda ukuran panjang 2,8 centimeter.

Setiap bulannyanya, tidak kurang dari 50 ribu ekor ikan hias didistribusikan dari tempat ini. Sebagian besar untuk pasaran ekspor. Permintaan dari luar negeri biasanya paling banyak pada bulan September hingga Januari. Harga ikan hias corydoras sterbey ukuran sedang sekitar 4.500 rupiah per ekor. Sedangkan ikan corydoras panda sekitar 1.250 rupiah per ekor.(Helmi Azahari/Dv)

dari : indosiar.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Para pembudidaya (breeder) ikan hias Neon Tetra mengaku kewalahan menghadapi permintaan ekspor. Aditya Satya, salah satu breeder di Sawangan, Depok, Jawa Barat, mengatakan permintaan dari eksportir akan ikan Neon Tetra itu dua juta ekor per bulan. “Namun, koperasi kami hanya mampu memproduksi satu juta ekor per bulan,” kata Aditya kepada KONTAN.

Pasar ekspor ikan bernama latin Paracheirodon innesi ini terbuka di Singapura, Amerika Serikat, dan Eropa. Selain sebagai ikan hias, di Eropa, ikan Neon Tetra ini diambil zat warnanya untuk bahan kosmetika. Peluang bisnis semakin manis lantaran baru Indonesia dan China yang berhasil membenihkan neon tetra.

Aditya mengatakan anakan ikan berukuran 0,8 cm yang berusia 40 hari dihargai Rp 150 per ekor. Sedang harga neon tetra berukuran 3 cm mencapai Rp 600 per ekor. Kapasitas breeding neon tetra milik Aditya berkisar 120.000-200.000 ekor sebulan.

Aditya mengaku sudah 10 tahun membudidayakan neon tetra. Dia tertarik ikan ini karena permintaannya tak pernah surut. Sejak awal budidaya sampai sekarang, harga ikan ini juga stabil. “Kalau harga ikan kardinal tetra itu bisa naik turun berkali-kali lipat,” ujarnya.  (Dupla Kartini/Kontan)

Black Ghost

Tahukah kalian, ikan Black Ghost (Apteronotus albifrons) asalnya dari Amazon -waw, temennya Kamen Rider Amazon neh- Ukurannya bisa sampe 1/2 m dengan panjang rata-rata sekitar 35 cm. Kalo yang aq beli baru 5 cm-an seh. Kayak bisa kalian liat di gambar, warnanya item (ada temennya, namanya White Ghost-but not perfectly white- n harganya lebih mahal) di ekornya doang ada strip putih. Karena bentuknya yang mirip pisau, melebar di kepala, menyempit sampe ke ekor, ikan ini digolongkan ikan pisau (Knifefishes),
Selain itu, Black Ghost juga ternyata teman seperguruan belut Listrik, cuz ternyata bisa juga menghasilkan listrik (electric fish).Tapi ikan ini cuma bisa menghasilkan listrik lemah (< 1V/cm), frekuensi 0.1 – 10 kHz. Mirip kelelawar yang pake sonar, ikan ini memakai listrik buat ngenalin objek sekitarnya. Sering disarankan, agar tidak melihara 2 atau lebih ikan ini dalam satu tempat, atau dicampur dengan ikan penghasil listrik lainnya, karena diduga bisa mengganggu sistem radar n navigasinya.. Lah, kasian ikan lainnya yang sekandang ma dia, jangan-jangan diisengin n disetrum,,hehehe.. Namuuuuunn,, karena makanannya yang g sesuai harusnya makan cacing rambut -aku kasih pelet biasa- akhirnya cacing ini menghembuskan nafas terakhir beberapa hari setelah aku beli,, huhuhu.. aku kuburin di depan rumah akhirnya..

Lemon Fish

Ikan kedua yang aku pelihara, yaitu ikan lemon. Mungkin dikatain begitu karena sekujur tubuhnya warnanya kuning kayak lemon,, Nama latinnya Neolamprologus leleupi,, lebih akrab disebut leleupi berasal dari danau Tangayika, Afrika. Di habitat aslinya, ikan ini hidup di pH tinggi, sekitar 7.8 sampai 9.0 dan suhu sekitar 25°C – 30°C. Tapi karena ikan” di pasaran itu hasil peranakan turunan, udah bisa beradaptasi dengan lingkunganya, maka g butuh kondisi yang seekstrim itu. Ikan ini gampang dikasi makan loh. Setelah aku beli, n bawa pulang, ikan ini paling rakus makannya dibanding yang laen. Bikin aku seneng ngasih makan,, entah mengapa, keesokan harinya ikan ini mati duluan, lebih pendek umurnya daripada Popo, bahkan belum sempet aku kasih nama.. akhirnya aku kuburin juga di depan rumah.

Ikan buntal mengandungi racun yang menyerang saraf (neurotoxin) yang dipanggil tetrodotoxin. Maklumat saintifik menyatakan ikan buntal adalah haiwan kedua paling beracun selepas Golden Poison Frog dan 1.200 kali lebih keupayaan membunuh berbanding cyanida. Oleh kerana racun ini adalah sejenis neurotoxin, ia boleh menyebabkan kelumpuhan otot-otot penting seperti otot yang terlibat dalam proses pernafasan. Dan sekiranya ini berlaku, ianya boleh membawa maut.

3. Bagaimana ikan buntal boleh dicemari racun?
Memang tidak dinafikan ada orang yang memakan ikan buntal, tetapi tidak mengalami sebarang masalah. Di Jepun, masyarakatnya mempunyai hidangan istimewa ‘fugu’ dari sejenis ikan buntal. Di Korea pula, hidangan istimewa ikan buntal dinamakan ‘bok-uh’Di dalam ikan buntal, racun tetrodotoxin terdapat di kulit, telor(ovaries), hempedu, hati, usus dan kulit. Racun tetrodotoxin ini boleh mencemari isi ikan buntal sekiranya semasa proses menyiang ikan ini, bahagian-bahagian ikan yang mengandungi racun tersebut telah terluka/terpotong, ini menyebabkan racun tersebut terkena isi ikan.Oleh itu, penjual ikan buntal selalunya telah menyiang ikan ini terlebih dahulu dengan membuang kulit, kepala dan isi perut ikan. Hanya mereka yang mahir menyiang ikan buntal dengan kaedah yang betul dapat menyelamatkan isi ikan buntal dari dicemari racun tetrodotoxin ini. Di Negara Jepun misalnya, hanya mereka yang diberi tauliah sahaja dibenarkan menyiang ikan buntal ini. Proses memasak tidak memusnahkan racun ini kerana ianya tahan haba.

4. Apa tanda-tanda keracunan ikan buntal?
Gejala keracunan ikan buntal/hasilnya adalah berpunca dari gangguan toxin terhadap fungsi tubuh manusia. Seseorang yang memakan ikan buntal/hasilnya yang mengandungi racun akan mula mendapat gejala seawal 10 – 45 minit. Mereka akan mendapat kebas mulut dan lidah, mabuk (melayang-layang), pening, loya, muntah, lemah dan seterusnya kelumpuhan anggota, kesukaran bernafas dan boleh pengsan . Keterukan gejala yang dihadapi bergantung kepada jumlah racun yang telah dimakan dan mangsa boleh maut jika tidak dibantu.
5. Bagaimana keracunan ikan buntal dirawat?
Mereka yang mengalami keracunan ikan buntal dinasihatkan mendapatkan rawatan dari doktor dengan segera. Racun tetrodotoxin ini tiada penawarnya, namun bantuan awal terhadap masalah yang dihadapi dapat segera memulihkan mangsa.Rawatan yang tidak khusus seperti tambahan air badan, menggeluarkan sisa makanan yang terdapat didalam perut serta bantuan pernafasan jika terdapat gangguan pernafasan dapat menyelamatkan mangsa.Lazimnya mangsa akan pulih sepenuhnya apabila semua gejala berakhir.

6 Dimana boleh didapati ikan buntal?
Terdapat bebagai jenis ikan buntal diperairan tepi pantai terutamanya dikawasan tropika. Sebahagian besar ikan ini sangat beracun dan sebahagian lagi dikatakan kurang beracun. Badan ikan buntal berbentuk bulat, tidak bersisik, pergerakannya perlahan didalam air dan akan mengembongkan badannya jika terancam. Ikan buntal yang sering ditangkap oleh nelayan Malaysia dinamakan Buntal Pisang. Nelayan atau ahli keluarga yang berpengalaman sahaja dibenarkan menyiang ikan buntal. Proses menyiang ikan buntal melibatkan proses menyiat kulit ikan yang tebal dan liat, mengeluarkan isi perut dan membuang kepala ikan tersebut. Sekiranya secara tidak sengaja isi perut ikan tersebut terpotong, lazimnya mereka akan membuang seluruh ikan tersebut bagi mengelakkan keracunan.Di Malaysia amnya, di Negeri Johor khasnya, sebahagian masyarakat meminati isi ikan buntal yang dikatakan sangat enak. Oleh kerana ada permintaan terhadap isi ikan buntal, maka penjualannya juga berlaku walau pun tidak berleluasa. Ikan buntal dijual dalam keadaan telah di siang tanpa kepala, kulit dan isi perut atau dalam bentuk fillet .

1620 SM, Konon pada waktu teknologi Silver Stone (Zaman Kerajaan Mataram), diselatan pantai jawa terkenal kecantikan seorang gadis yang berinisial NR (Nyi Rorokidul), hal ini membuat para pengagumnya ingin berpartisipasi menyunting gadis NR tersebut, terutama para pejabatnya dilingkungan departemen kerajaan. Hasrat ini muncul di mimpi sang Pejabat Kelautan Mataram yang dengan diam diam menuju pantai selatan……Tolah…toleh..amaan..! (Istrinya sudah minum jamu kecantikan sampai OD).

Kok nasib lagi bagus, gelap-gelap dipinggiran pantai ada yang manggil2…Pak ..nyemplungo Pak, aku disini…wee…suara alus tenaan pikirnya! nggak pakek pakaian diving si pejabat langsung nyemplung ke laut selatan…sudah tak kowaat..!

itu laut diobok-obok mulai dari cilacap sampe banyuwangi, nggak nemuin NR, si Pak Pejabat caapeek dee…! Pas dipantai ada ikan lorek menggelepar-gelepar, timbul rasa nasionalnya untuk membudidayakan ikan lorek tersebut sesuai mandat departemennya.

Ikan lorek yang nggak pernah tau namanya dan imut, rencana akan diberikan kepada Pak Mentri Kelautan Mataram karena langka untuk dilestarikan. sambil jalan…basah kuyup si ikan lorek di tenteng sampai mangap2 (Zaman dulu belum ada tas plastik di mataram, kalaupun ada mesti pakek ngajuin anggaran doeloe)

 Cara Penanganan Ikan yang Baik

(Sumber : https://defishery.wordpress.com/2011/03/11/wisata-bahari/)

Penanganan ikan segar merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan. Penanganan ikan laut pada dasarnya terdiri dari dua tahap, yaitu penanganan di atas kapal dan penanganan di darat. Penanganan ikan setelah penangkapan atau pemanenan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual ikan yang maksimal.

            Tahap penanganan ini menentukan nilai jual dan proses pemanfaatan selanjutnya serta mutu produk olahan ikan yang dihasilkan. Salah satu faktor yang menentukan nilai jual ikan dan hasil perikanan yang lain adalah tingkat kesegarannya. Tingkat kesegaran ikan terkait dengan cara penanganan ikan. Ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya.

            Kecepatan pembusukan ikan setelah penangkapan dan pemanenan sangat dipengaruhi oleh teknik penangkapan dan pemanenan, kondisi biologis ikan, serta teknik penanganan dan penyimpanan di atas kapal. Oleh karena itu, segera setelah ikan ditangkap atau dipanen harus

secepatnya diawetkan dengan pendinginan atau pembekuan.

            Teknik penangkapan tergantung pada alat tangkap yang digunakan, untuk menjaga kualitas ikan yang baik dan menjaga kelestarian lingkungan, alat tangkap yang sebaikny adigunakan adalah alat tangkap yang ramah lingkungan. Ciri – ciri alat tangkap yang ramah lingkungan adalah

  • Selektivitas yang tinggi

Mampu menangkap sedikit species dengan ukuran yang relatif seragam ( selektif terhadap species dan ukuran ).

  •     Tidak merusak habitat

Alat tangkap yang digunakan tidak menyebabkan kerusakan wilayah yang sempit maupun yang luas.

  • Menghasilkan ikan berkualitas tinggi

Ikan hasil tangkapan mempunyai beberapa kriteria, yaitu ikan mati dan busuk ; ikan mati, segar, cacat fisik; iakn mati dan segar ; atau ikan segar.

  • Tidak membahayakan nelayan
  • Produksi ikan tidak membahayakan konsumen
  • By – catch rendah

Ada beberapa ikan yang tidak laku dijual atau memiliki nilai ekonomis rendah tertangkap oleh alat tangkap yang digunakan. Bahkan ikan yang masih kecil – kecil. Sehingga pada akhirnya ikan – ikan itu hanya akan dibuang begitu saja.

  • Dampak biodiversity rendah
  • Tidak membahayakan ikan – ikan yang dilindungi
  • Dapat diterima secara sosial

            Proses atau prosedur penanganan ikan di atas kapal merupakan penanganan awal yang sangat menentukan terhadap penangananan dan pengolahan ikan selanjutnya. Teknik penanganan pasca penangkapan dan pemanenan berkolerasi positif dengan kualitas ikan dan hasil perikanan yang diperoleh. Semakin baik teknik penanganannya maka semakin bagus kualitas ikan, dan semakin tinggi nilai jual ikan tersebut.

            Batasan penanganan ikan di atas kapal meliputi perlakuan-perlakuan yang diberikan sejak ikan ada dalam alat tangkap (pancing atau jaring) hingga ikan tersebut sampai ke darat. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan kerusakan-kerusakan fisik, kimia, dan mikrobiologi serta

memperlambat proses biokimia yang mengarah pada proses pembusukan.

            Penanganan dan penempatan ikan secara higienis merupakan prasyarat dalam menjaga ikan dari kemunduran mutu karena baik buruknya penanganan akan berpengaruh langsung terhadap mutu ikan sebagai bahan makanan atau bahan baku untuk pengolahan lebih lanjut. Demikian juga penempatan ikan pada tempat yang tidak sesuai, misalnya pada tempat yang bersuhu panas, terkena sinar matahari langsung, tempat yang kotor dan lain sebagainya akan berperan mempercepat mundurnya mutu ikan

            Produk perikanan termasuk produk yang memiliki sifat sangat mudah rusak/busuk. Tubuh ikan mempunyai kadar air yang tinggi dan pH tubuh yang mendekati netral sehingga merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lain. Setelah ikan mati, berbagai proses perubahan fisik, kimia, dan organoleptik berlangsung dengan cepat. Semua proses perubahan ini akhirnya mengarah ke pembusukan. Proses perubahan pada tubuh ikan terjadi karena adanya aktivitas enzim, mikroorganisme atau oksidasi oksigen.   Penanganan dilakukan dalam rangka menghambat proses penguraian jaringan tubuh (pembusukan) sehingga ikan dapat disimpan selama mungkin dalam keadaan baik. Oleh karenanya begitu ikan tertangkap harus diangkat secepat mungkin ke atas kapal dan ditangani dengan baik serta hati-hati untuk kemudian disimpan di cold storage atau diolah bahkan langsung dimasak untuk dikonsumsi.

            Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses penanganan di atas kapal diantaranya adalah alat penanganan, media pendingin, teknik penanganan, dan keterampilan pekerja. Penggunaan alat-alat penanganan yang lengkap, bersih, dan baik dapat memperkecil kerusakan fisik, kimia, mikrobiologi dan bikimia. Media pendingin yang memberikan hasil terbaik adalah media pendingin yang dapat memperlambat proses biokimia dan pertumbuhan mikroba daging ikan.

            Teknik penanganan yang dilakukan sesuai akan memberikan hasil yang baik pula. Pekerja yang terampil dan cekatan akan memberikan hasil penanganan yang baik pula. Penangkapan ikan di laut biasa dilakukan oleh penangkap ikan baik

dengan perahu layar hingga kapal besar dengan fasilitas mesin pendingin atau pabrik pengolah di atas kapal. Alat penangkapannyapun berbeda-beda, dari jaring kantung, jaring insang, long line maupun pancing tonda. Semua cara penangkapan mempengaruhi cara penanganannya.

            Banyak cara untuk penanganan ikan seperti diuraikan di atas dari mulai penyiapan deck dan peralatan yang higienis, penyortiran atau pemisahan ikan perjenis, pemilahan ikan yang rusak, pembersihan dan pencucian, perlindungan dari sengatan matahari dan suhu tinggi, penyimpanan dalam ruang suhu dingin (chilling room) termasuk di dalamnya pemalkahan, peng-es-an, perendaman dengan air laut yang didinginkan (iced sea water, refrigerated sea water dan lain sebagainya). Prinsip yang harus dilakukan dalam penanganan dan penyimpanan hasil perikanan adalah mempertahankan kesegaran dengan perlakuan yang cermat dan hati-hati serta cepat menurunkan suhu ikan hingga 0° C bahkan suhu pusatnya mencapai -18° C dengan perlakuan secara bersih dan hygiene (Ilyas, S., 1993).

Garis besar tahapan kegiatan penanganan ikan di kapal penangkap :

  • Mengangkat ikan dari air
  • Melepas ikan dari alat tangkap
  • Mendinginkan ikan
  • Menyiangi ikan apabila diperlukan
  • Mencuci ikan dengan air dingin
  • Menempatkan ikan dalam wadah portable sesuai dengan jenis, ukuran dan mutu ikan (sortasi/seleksi) serta memberinya es dengan jumlah yang cukup.
  • Menyimpan didalam palkah berisolasi dengan es.
  • Merawat ikan selama penyimpanan sampai dengan saat pembongkarannya di pangkalan pendaratan ikan (PPI) atau pelabuhan perikanan.

            Semua peralatan penanganan, penyaluran dan penyimpanan ikan yang digunakan di atas kapal ikan harus didesain, dikonstruksi dan dibuat dari material yang baik agar tidak mencemari ikan hasil tangkapan, memudahkan, mempercepat dan meningkatkan efisiensi penanganan ikan serta memudahkan dalam pencucian dan pembersihannya.

Dasar-dasar penyimpanan yang baik :

  • Segera dinginkan dan diberi es yang cukup.
  • Ikan harus berkontak dengan es, bukan dengan lainnya.
  • Air lelehan es mendinginkan dan menyegarkan ikan, sambil menghayutkan lendir, darah dan kotoran.
  • Pengusahaan suhu yang cukup rendah sekitar tumpukan ikan es.
  • Pemerliharaan kebersihan segala peralatan, papan-papan, dan rak dalam palka harus bersih sebelum ikan disusun. Sisa-sisa es dari perjalanan sebelumnya harus dibuang habis.
  • Perlakuan dalam palka. Perlakuan yang utama adalah bahwa setibanya ikan dalam palka, harus cepat-cepat didinginkan dan suhu dipelihara pada 0°C.

            Begitu kapal penangkap ikan atau kapal pengangkut hasil tangkapan sampai di pelabuhan ( TPI ), maka ikan akan segera di proses. Ikan akan di kelompokkan menurut jenis dan ukurannya, kemudian akan dilakukan pelelangan yang di pimpin oleh juru lelang. Setelah proses pelelangan selesai termasuk urusan administrasi TPI, ikan akan dimasukkan ke dalam drum – drum yang diberi es. Ikan – ikan siap didistribusikan.

            Pengawetan dan pengolahan yang cermat dan cepat adalah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah proses pembusukan dan agar sebagian besar ikan yang diproduksi dapat dimanfaatkan. Pengawetan tidak banyak berbeda dengan pengolahan. Keduanya merupakan usaha manusia untuk mempertinggi daya tahan dan daya simpan ikan dengan tujuan agar kualitas ikan dapat dipertahankan tetap dalam kondisi yang baik. Perbedaan kedua proses tersebut terletak pada produk akhir.

            Produk akhir hasil pengawetan tidak berbeda jauh dengan bahan asli. Sedangkan produk akhir hasil pengolahan mempunyai bentuk yang jauh berbeda dibandingkan dengan aslinya. Pengawetan diartikan sebagai setiap usaha untuk mempertahankan mutu ikan selama mungkin sehingga masih dapat dimanfaatkan dalam keadaan yang baik dan layak. Peranan pengawetan :

  1. Dalam bidang produksi ikan:
  • Setiap perusahaan perikanan dapat menangkap ikan sebanyak mungkin tanpa kekhawatiran akan busuk dan percuma.
  • Kapal-kapal penangkap ikan dapat beroperasi dengan jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang.
  • Memberi tunjangan bagi usaha mencari lokasi penangkapan ikan (fishing ground) yang baru dengan jarak yang lebih jauh.
  1. Dalam bidang distribusi/perdagangan
  • Ikan dapat diperdagangkan setelah lewat musim.
  • Memungkinkan distribusi ikan secara lebih luas dan lebih jauh sampai ke pelosok-pelosok pedalaman, sehingga setiap manusia di manapun dapat menikmati ikan.
  • Memungkinkan perdagangan ikan secara internasional.
  • Memungkinkan stabilitas harga di pasar

Beberapa jenis metode pengawetan dan pengolahan ikan, diantaranya :

  1. a)      Pendinginan (chilling) dengan es, es kering, air dingin, air laut dingin, atau alat pendingin mekanis.
  2. b)      Pembekuan (freezing)
  3. c)      Pengalengan (canning)
  4. d)     Penggaraman (salting), termasuk pemindangan
  5. e)      Pengeringan (drying) secara alami dan mekanis
  6. f)       Pengasaman
  7. g)      Pengasapan (smoking)
  8. h)      Pembuatan hasil olahan khusus seperti bakso ikan, abon, kamaboko, surimi, dan lain-lain.
  9. i)        Pembuatan hasil sampingan seperti tepung ikan, minyak ikan, kecap ikan, dan lain-lain.

Pengelompokan produk perikanan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dapat dibedakan atas produk tradisional dan produk modern atau produk siap masak dan produk siap saji/siap konsumsi. Semua jenis produk tersebut dapat ditemukan di Indonesia dan biasanya memiliki penggemar atau kalangan konsumen sendiri-sendiri.

Sumber : http://cahayapenge-tahu-an.blogspot.co.id/2013/04/cara-penanganan-ikan-yang-baik-tugas.html

 

PENGAWAS PERIKANAN

MSumber : https://defishery.wordpress.com/2011/03/11/info-budidaya/)

Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Kelautan dan Perikanan . Secara resmi dibentuk pada 23 November 2000 sesuai Kepres Nomor 165 Tahun 2000[1], Ditjen PSDKP adalah Direktorat Jenderal yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan di bidang sumberdaya kelautan dan perikanan. Dalam melakukan pengawasan Ditjen PSDKP berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut, Bakorkamla dan Polair.

Struktur organisasi

  • Sekretariat Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
  • Direktorat Pengawasan Sumber Daya Perikanan
  • Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan
  • Direktorat Kapal Pengawas
  • Direktorat Pemantauan Sumber Daya KP dan Pengembangan Infrastruktur Pengawasan
  • Direktorat Penanganan Pelanggaran

Tugas dan Kewenangan

(1) Pengawas Perikanan bertugas untuk mengawasi tertib pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang                     perikanan.

(2) Pengawas Perikanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dalam melaksanakan tugasnya mempunyai kewenangan:

  1. memasuki tempat-tempat yang akan dilakukan pemeriksaan;
  2. meminta dokumen untuk diperiksa;
  3. mengambil contoh ikan atau bahan yang diperlukan untuk pengujian laboratorium;
  4. memeriksa kapal perikanan;
  5. memeriksa dokumen perizinan dan dokumen kapal pendukung lainnya.
  6. memeriksa alat tangkap dan alat bantu penangkapan;
  7. menyetujui/menolak bongkar muat hasil tangkapan;
  8. menunda keberangkatan kapal perikanan dalam hal tidak terpenuhi persyaratan administrasi perizinan dan teknis kelaikan operasional;
  9. menurunkan alat tangkap yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditentukan;
  10. menerbitkan SLO kapal perikanan;
  11. merekomendasikan sanksi administrasi bagi kapal perikanan yang melakukan pelanggaran kepada Direktur Jenderal;
  12. Pengawas Perikanan yang berstatus PPNS Perikanan berwenang melakukan penyidikan tindak pidana dibidang perikanan

Cabang-cabang di Daerah (UPT)

Ditjen PSDKP terdiri dari lima cabang-cabang di daerah (UPT)

  • Stasiun PSDKP Belawan: Bermarkas di Belawan Medan
  • Pangkalan PSDKP Jakarta:Bermarkas di Muara Baru Jakarta
  • Stasiun PSDKP Pontianak: Bermarkas di Sungai Rengas, Kab Kubu Raya, Kalimantan Barat
  • Pangkalan PSDKP Bitung:Bermarkas di Bitung, Sulawesi Utara
  • Stasiun PSDKP Tual: Bermarkas di Tual Maluku Utara

Sarana

  • 27Kapal Pengawas Perikanan
  • 86 Speed boat
  • 58 Satuan Kerja di Seluruh Indonesia
  • Vessel Monitoring System (VMS) dan Puskodal

Kapal Pengawas

Kapal Pengawas Perikanan adalah kapal yang digunakan untuk melindungi sumber daya kelautan dan perikanan. Kapal Pengawas Perikanan merupakan penegak hukum dilaut di bidang perikanan. Dalam melakukan pengawasan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut, Polair dan Bakorkamla. Kapal Pengawas Perikanan berada dalam lingkup Ditjen PSDKP naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dalam melaksanakan tugasnya, Kapal Pengawas Perikanan dapat menghentikan, memeriksa, membawa, dan menahan kapal yang diduga melakukan pelanggaran ke pelabuhan terdekat untuk pemprosesan lebih lanjut.

Kapal pengawas perikanan (fishery patrol ship) dalam dunia pelayaran sering disebut “Kapal Putih“, Hal ini karena kapal pengawas perikanan berwarna dominan putih mengingat warna abu-abu maupun kamuflase hanya boleh untuk kapal milite

Kerjasama Pengawasan SDKP

  1. Kerjasama Luar Negeri

Beberapa kerjasama penting yang telah dan terus dijalin oleh Ditjen. PSDKP adalah Indonesia-Australia Fisheries Surveillance Forum (IAFSF) dan Regional Plan of Action (RPOA) to Promote Responsible Fishing Practices including Combating IUU Fishing in the Southeast Asia Region.

  • Indonesia-Australia Fisheries Surveillance Forum (IAFSF)

Indonesia-Australia Fisheries Surveillance Forum (IAFSF) merupakan bagian dari Indonesia-Australia Ministerial Forum (IAMF) yang dikhususkan pada kerjasama bidang pengawasan SDKP, termasuk kerjasama penanggulangan illegal fishing di perairan perbatasan kedua negara. Pada tahun 2013 serangkaian kerjasama Indonesia-Australia di dalam kerangka IAFSF yang telah dilaksanakan antara lain: Coordinated patrols (patroli bersama dan terkoordinasi yang dilakukan oleh masing-masing negara di masing-masing batas ZEE kedua negara), Technical AssistancesPort Visit (Masing-masing pihak saling mengunjungi pelabuhan dalam rangka latihan Ship Search Training)

  • Regional Plan of Action (RPOA) to Promote Responsible Fishing Practices including Combating IUU Fishing in the Southeast Asia Region.

Merupakan regional initiative yang diprakarsai oleh Indonesia-Australia dan disepakati oleh 11 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja, Singapura, Brunei Darussalam, Timor Leste, Australia, dan Papua New Guinea. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab termasuk penanggulangan IUU Fishing di kawasan yang menjadi wilayah kerja sama, yaitu : Laut Cina Selatan, Laut Sulu-Sulawesi dan Laut Arafura. Kerjasama ini diiniasiasi oleh Indonesia dan Australia sejak tahun 2007, Indonesia telah menjadi Sekretariat RPOA yang berkedudukan di GD. Minabahari III Lantai 15, Jl. Medan Jakarta Timur no 16 Jakarta Pusat.

  1. Kerjasama Dalam Negeri

Dalam melaksanakan berbagai tugas dan operasionalnya Ditjen. PSDKP bekerjasama dengan instansi

  • TNI-AL

– Operasi Pengawasan Bersama di Laut [ZEEI] – Kesepakatan Bersama Penanganan TP. Perikanan – Pertukaran data dan Informasi Pengawasan di Laut – Pelatihan Awak Kapal Pengawas, Pinjam pakai senjata api di Kapal Pengawas

  • TNI-AU

– Operasi Pengawasan Lewat Udara (Air Surveillance) ; – Pertukaran data dan Informasi Pengawasan di Laut

  • POLAIR

– Operasi Pengawasan Bersama di Laut – Kesepakatan Bersama Penanganan Tindak Pidana Perikanan – Pertukaran data dan Informasi Pengawasan di Laut – Pelatihan Menembak – Pelatihan PPNS Perikanan dan Polsus P3K

  • BAKORKAMLA

– Operasi bersama penegakan hukum di laut (Operasi Gurita); – Pertukaran data dan Informasi Pengawasan di Laut

  • PEMDA

– Operasi/patroli Kapal Pengawas KKP di dalam wilayah perairan Pemda; – Penempatan sementara dan sandar Kapal Pengawas KKP secara bergiliran; – Partisipasi dan dukungan BBM, logistik dan operasional dari Pemda dalam operasi Pengawasan SDKP yang dilaksanakan oleh Kapal Pengawas KKP; – Partisipasi dan dukungan Pemda dalam pengamanan barang bukti hasil tangkapan, proses penyidikan dan dalam hal keterangan saksi ahli. Keterangaan: Pada tahun 2013 telah disepakati Mou kerjasama pengawasan antara Ditjen. PSDKP dengan Kabupaten Anambas dan Kabupaten Natuna.

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BIDANG PERIKANAN

(Sumber : https://defishery.wordpress.com/2011/03/06/karantina-ikan/) 

 

1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Kesehatan dan keselamatan kerja pada dunia usaha dan dunia industry harus diperhatikan dengan seksama pada semua para tenaga kerja yang berada didalam lingkup tersebut. Pelaksanaan K3 merupakan salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dengan menerapkan K3 akan dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kesehatan dan keselamatan kerja telah diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Dalam dunia usaha bidang perikanan khususnya budidaya ikan merupakan salah satu sector dunia usaha yang menggunakan tenaga kerja untuk memenuhi target produksinya. Tempat kerja adalah suatu ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja atau sering dimasuki tempat kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumbersumber bahaya. Pada dunia usaha budidaya ikan tempat bekerjanya terdapat di dalam ruangan atau diluar ruangan bergantung pada tingkat usahanya. Usaha budidaya ikan dapat dilakukan secara ekstensif, semi intensif ataupun intensif sangat menentukan penerapan kesehatan dan keselamatan kerjanya. Pada usaha budidaya ikan secara ektensif atau tradisional dimana pada usaha ini tidak banyak menggunakan peralatan-peralatan yang dapat menimbulkan bahaya bagi para pekerjanya

2. Penerapan kaidah K3 pada dunia usaha perikanan budidaya

Dalam dunia perikanan budidaya ada tiga fase yang dapat dijadikan segmen usaha yaitu pembenihan, pendederan dan pembesaran. Usaha pembenihan adalah usaha dalam budidaya ikan yang outputnya adalah benih ikan . Usaha pendederan adalah usaha dalam budidaya ikan yang outputnya ukuran ikan sebelum ditebarkan ke unit pembesaran atau ukuran sebelum konsumsi. Sedangkan usaha pembesaran adalah usaha dalam budidaya ikan yang outputnya adalah ikan berukuran konsumsi. Kegiatan produksi dalam budidaya ikan dibagi dalam beberapa kegiatan antara lain adalah pembenihan, pendederan dan pembesaran. Kesehatan dan keselamatan kerja pada kegiatan produksi tersebut harus dilakukan agar target produksi yang diharapkan tercapai dan tidak terdapat kecelakaan kerja. Penerapan kesehatan dan keselamatan kerja pada kegiatan produksi ini berkaitan dengan metode produksi yang digunakan. Metode produksi dalam budidaya ikan ada tiga yaitu :

1. Metode produksi secara ekstensif

2. Metode produksi secara semi intensif

3. Metode produksi secara intensif

Metode produksi secara ekstensif adalah suatu metode budidaya yang sangat membutuhkan areal budidaya yang luas dengan sumber pakan yang digunakan dalam budidaya adalah pakan alami. Pakan alami ini dibuat didalam wadah budidaya dimana ikan tersebut dipelihara. Dalam metode produksi ini hasil yang diperoleh membutuhkan waktu relatif lebih lama. Metode produksi secara semi intensif adalah suatu metode budidaya yang membutuhkan areal budidaya yang luas dengan sumber pakan yang digunakan dalam budidaya adalah pakan alami ditambah dengan pakan tambahan atau supplemental feed. Dalam metode produksi ini ditambahkan pakan buatan yang mempunyai kandungan nutrisi lebih rendah dari pakan pabrik dan hanya memberikan kontribusi terhadap penambahan energi kurang dari 50%. Metode produksi secara intensif adalah suatu metode budidaya yang menggunakan prinsip dari areal budidaya sekecil-kecilnya diperoleh hasil produksi sebesar-besarnya.

Dengan prinsip tersebut dalammelakukan budidaya ikan secara intensif adalah dalam wadah budidaya yang terbatas diperoleh hasil yang optimal. Penggunaan areal budidaya yang terbatas dengan hasil yang optimal maka dalam proses budidayanya hanya mengandalkan pakan buatan pabrik atau complete feed. Complete feed ini merupakan pakan ikan buatan yang memberikan kontribusi terhadap penambahan energi lebih dari 50%. Kesehatan dan keselamatan kerja pada setiap metode budidaya ikan ini sangat berbeda karena sangat berbeda tentang target produksi dan peralatan-peralatan yang digunakan untuk mencapai produksi. Pemilihan metode produksi ini sangat ditentukan dari ketersediaan sarana prasarana yang dimiliki. Peralatan produksi yang dapat digunakan dalam membudidayakan ikan ada beberapa macam. Jenis-jenis peralatan produksi yang dapat digunakan dalam budidaya ikan berdasarkan siklus budidaya kegiatannya dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Peralatan pembenihan ikan

2. Peralatan pendederan ikan

3. Peralatan pembesaran ikan

Berdasarkan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya ikan, peralatan yang harus disediakan antara lain adalah :

1. Peralatan pemberian pakan

2. Peralatan pengukuran kualitas air

3. Peralatan pencegahan hama dan penyakit ikan

4. Peralatan pengolahan lahan budidaya

5. Peralatan pembenihan ikan secara buatan

6. Peralatan panen

7. Peralatan listrik.

Peralatan yang akan disiapkan dalam membudidayakan ikan sangat bergantung kepada metode produksi yang telah ditetapkan. Peralatan yang digunakan dalam budidaya ikan secara tradisional atau ekstensif adalah peralatan yang sangat sederhana. Peralatan yang harus disiapkan dalam metode produksi secara tradisional atau ekstensif antara lain adalah cangkul yang berfungsi untuk mengolah tanah dasar kolam, timbangan yang berfungsi untuk menimbang berbagai macam bahan yang dibutuhkan dalam budidaya seperti pupuk, kapur,dan pakan. Peralatan lainnya adalah golok atau parang, seser halus dan kasar yang digunakan untuk mengambil benih atau ikan dari kolam pemeliharaan dan juga dapat digunakan untuk membuang kotoran yang terdapat didalam kolam. Selain itu biasanya petani ikan tradisional menggunakan kecrik untuk menangkap ikan. Penerapan kesehatan dan keselamatan kerja pada kegiatan budidaya ikan dengan metode ekstensif atau tradisional ini biasanya kecelakaan kerja diakibatkan oleh kecerobohan orang yang bekerja. Peralatan yang harus disediakan dalam budidaya ikan secara semi intensif dan intensif harus lengkap seperti dibawah ini ;

1. Peralatan pemberian pakan antara lain adalah :

    a. Timbangan : gantung, duduk atau digital

    b. Ancho

    c. Ember/baskom/piring plastik

    d. Saringan

2. Peralatan kualitas air antara lain :

    a. Termometer

    b. Secchi disk

    c. DO meter

    d. PH meter

    e. Mikroskop

3. Peralatan hama penyakit ikan antara lain :

    a. Seser halus

    b. Mikroskop

   c. Refregerator

   d. Peralatan gelas : baker glass, erlemeyer, petri dish, tabung reaksi, pipet, gelas ukur dan    lain-lain.

   e. Injection

4. Peralatan pengolahan tanah antara lain adalah :

    a. Traktor/hand traktor

    b. Cangkul

    c. Parang/golok

    d. Filter air

    e. Selang air

    5. Peralatan pemijahan ikan secara buatan antara lain adalah :

    a. Alat bedah

    b. Talenan

    c. Tisue grinder

    d. Spuit Injection

    e. Baki/baskom

    f.  Automatic heater

    g. Aerator/blower

    h. Batu aerasi dan selang aerasi

    i.  Alat siphon

    j.  Alat bedah

    k. Kain lap

6. Peralatan panen antara lain adalah :

    a.Tabung oksigen

    b. Kantong plastik

    c. Timbangan

    d  Kotak stryrofoam

    e. Selang oksigen

     f. Hapa

7. Peralatan listrik antara lain adalah :

    a.Genset

    b.Pompa air

Setelah peralatan yang akan digunakan dalam budidaya ikan tersedia langkah selanjutnya sebelum digunakan adalah mengecek kesiapan peralatan tersebut. Dengan pengecekan yang benar diharapkan alat yang disiapkan dapat dioperasionalkan dengan benar. Peralatan yang dibuat oleh pabrik biasanya didalam peralatan tersebut terdapat buku manual untuk mengoperasionalkan alat. Peralatan yang akan digunakan sebaiknya dilakukan pengecekan keberfungsinya karena setiap alat mempunyai fungsi yang berbedabeda, misalnya aerator digunakan untuk mensuplai oksigen pada saat membudidayakan ikan skala kecil dan menengah, tetapi apabila sudah dilakukan budidaya secara intensif maka peralatan yang digunakan untuk mensuplai oksigen kedalam wadah budidaya ikan menggunakan

blower.

Peralatan selang aerasi berfungsi untuk menyalurkan oksigen dari tabung oksigen kedalam wadah budidaya, sedangkan batu aerasi digunakan untuk menyebarkan oksigen yang terdapat dalam selang aerasi keseluruh permukaan air yang terdapat didalam wadah budidaya.

Selang air digunakan untuk memasukkan air bersih dari tempat penampungan air kedalam wadah budidaya. Peralatan ini digunakan juga untuk mengeluarkan kotoran dan air pada saat dilakukan pemeliharaan. Dengan menggunakan selang air akan memudahkan dalam melakukan penyiapan wadah sebelum digunakan untuk budidaya. Peralatan lainnya yang diperlukan dalam membudidayakan ikan adalah timbangan, timbangan yang digunakan boleh berbagai macam bentuk dan skala digitalnya, karena fungsi utama alat ini untuk menimbang bahan yang akan digunakan dalam budidaya ikan . Ikan yang dipelihara didalam wadah pemeliharaan akan tumbuh dan berkembang oleh karena itu harus dipantau pertumbuhan di dalam wadah pemeliharaan .

Alat yang digunakan adalah seser, timbangan, ember, baskom yang berfungsi untuk menghitung pertumbuhan ikan yang

dibudidayakan didalam wadah pemeliharaan. Selain itu diperlukan juga seser atau saringan halus pada saat akan melakukan pemanenan ikan. ikan yang telah dipanen tersebut dimasukkan kedalam ember plastik untuk memudahkan dalam pengangkutan dan digunakan juga hapa untuk menampung ikan sebelum dijual. Setelah berbagai macam peralatan

yang digunakan dalam membudidayakan ikan diidentifikasi dan dijelaskan fungsi dan cara

kerjanya , langkah selanjutnya adalah melakukan pembersihan atau perawatan sesuai dengan jenis peralatannya. Peralatan yang sudah dibersihkan dari segala benda yang dapat menurunkan kualitas pekerjaan dapat langsung digunakan sesuai dengan prosedur. Dengan melakukan pengecekan pada semua peralatan yang akan digunakan untuk budidaya ikan maka

telah dilakukan pencegahan terhadap kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kelalaian atau kecerobohan dalam bekerja yang dapat membuat orang yang bekerja cedera.

Kesehatan tempat bekerja pada dunia usaha budidaya ikan pada umumnya diruang terbuka sehingga kebutuhan oksigen untuk para pekerja diluar ruangan tercukupi dan kondisi lingkungan budidaya ikan yang berair mengakibatkan kondisi kelembaban ruang budidaya sangat lembab.

Oleh karena itu dalam melakukan kegiatan budidaya ikan para pekerja harus selalu menggunakan pakaian kerja sesuai dengan peraturan perusahaan dan jangan menggunakan pakaian kerja yang basah. Pemakaian baju kerja yang basah dapat mengganggu kesehatan para pekerja oleh karena itu pada para pekerja yang bekerja berhubungan langsung dengan air yang akan membasahi pakaian kerja sebaiknya menggunakan pakaian kerja yang terlindung dari air. Atau dapat juga pada saat bekerja yang

berhubungan dengan air menggunakan pakaian kerja yang khusus dan jika sudah selesai dengan pekerjaan bias menggunakan pakaian yang lain sehingga kesehatan para pekerja

tetap terjamin. Penggunaan pakaian kerja yang basah dapat mengakibatkan kesehatan para pekerja terganggu. Oleh karena itu harus dipikirkan pakaian kerja yang tepat bagi para pekerja yang bermain dengan air sebagai media hidup ikan yang dipeliharanya.

Keselamatan kerja dalam kegiatan budidaya ikan yang menggunakan peralatan listrik harus diperhatikan beberapa hal yang biasanya menyebabkan kecelakaan diantaranya adalah :

1.Beban listrik terlalu besar untuk satu stop kontak sehingga dapat menimbulkan pemanasan yang dapat membakar kulit kabel.

2.Sistem kabling yang tidak memenuhi persyaratan standar

3.Kesalahan menyambungkan peralatan pada sumber listrik yang jauh lebih tinggi dari voltase  yang seharusnya

4.Adanya tikus-tikus yang mengerat kabel sehingga dapat menimbulkan hubungan pendek

  atau kebakaran.

Kesehatan dan keselamatan kerja pada usaha budidaya ikan yang mempunyai gudang bahan-bahan kimia harus diperhatikan tentangproses penyimpanannya. Penyimpanan bahan kimia yang salah dapat mengakibatkan kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh kecerobohan manusia. Oleh karena itu dalam menyimpan bahan kimia harus diperhatikan beberapa faktor yang akan mempengaruhi bahan kimia selama penyimpanan digudang antara lain adalah :

1.Temperatur, terjadinya kenaikan suhu dalam ruang penyimpanan akan memicu terjadinya reaksi bahkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan kimia.

   Kondisi ini dapat mengubah karakteristik bahan kimia. Resiko berbahayapun dapat terjadi

   sebagai akibat kenaikan suhu di dalam ruang penyimpanan. Oleh karena itu didalam ruangan

   penyimpanan bahan kimia harus terdapat alat ukur suhu ruang yaitu termometer. Ada beberapa termometer yang dapat mengukur temperatur ruangan. Termometer yang biasa digunakan untuk mengukur suhu ruangan yaitu temperature minimum dan maksimum.

2.Kelembaban, kelembaban dapat diartikan sebagai perbandingan tekanan uap air diudara terhadap uap air jenuh pada suhu dan tekanan udara tertentu. Kelembaban dapat diartikan

   sebagai banyaknya uap air diudara. Faktor kelembaban sangat penting diperhatikan karena berhubungan erat dengan pengaruhnya pada zat-zat higroskopis. Bahan kimiahigrokoskopis sangat mudah menyerap uap air dari udara, juga dapat terjadi reaksi hidrasi

   eksotermis yang akan menimbulkan pemanasan ruangan. Kontrol terhadap kelembaban ruang penyimpanan penting dilakukan untuk mencegah kerugian-kerugianyang tidak diinginkan. Ada beberapa alat pengukur kelembaban yang dapat digunakan seperti higrometer, termohigrometer atau thermometer bola basah dan bola kering.

3.Interaksi dengan wadah, bahan kimia tertentu dapat berinteraksi

   dengan kemasan atau wadah sehingga dapat merusak wadah

   sampai akhirnya menyebabkan kebocoran. Kebocoran bahan kimia terutama yang berbahaya dapat menimbulkan kecelakaan seperti ledakan, kebakaran dan melukai tubuh. Misalnya, wadah yang terbuat dari bahan besi/logam, sebaiknya tidak digunakan untuk menyimpan bahan kimia yang bersifat korosif karena akan terjadi peristiwa karatan/korosif sehingga akan merusak wadah.

4.Interaksi antar bahan kimia, selama penyimpanan bahan kimia dapat berinteraksi dengan bahan kimia lainnya. Interaksi ini dapat mengakibatkan perubahan karakteristik bahan kimia tersebut, misalnya interaksi antara bahan kimia yang bersifat oksidator dengan bahan kimia yang mudah terbakar dapat menimbulkan terjadinya kebakaran, sehingga dalam penyimpanannya harus terpisah. Penggunaan bahan-bahan kimia biasanya dilakukan pada usaha budidaya ikan yang intensif dan melakukan kegiatan pengukuran kualitas air, kesehatan ikan dengan bahan-bahan kimia. Oleh karena itu harus diperhatikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja para pekerja yang bertanggungjawab pada unit tersebut.

sumber ; diolah dari berbagai sumber

 

 BUDIDAYA CACING SUTRA

 (Sumber : https://defishery.wordpress.com/2011/05/31/pembenihan/)

Ikan hias dan ikan konsumsi merupakan ikan ekonomis penting di Wilayah Jakarta. Di daerah ini, masih banyak dijumpai petani yang mengandalkan usaha ikan hias maupun ikan konsumsi sebagai mata pencaharian utama. Apalagi dengan makin sempitnya lahan pertanian, menyebabkan usaha budidaya dan pembenihan ikan banyak dilakukan di lahan pekarangan.
Jenis ikan hias yang banyak dibudidayakan antara lain Oscar, Tetra, Blackghost, Koki dan Cupang. Sedangkan untuk jenis ikan konsumsi terdiri dari Bawal Air Tawar, Gurami, Patin dan Tawes. Saat masih benih, ikan tersebut sangat memerlukan pakan alami/kutu air.
Keberadaan pakan alami sangat diperlukan dalam budidaya ikan dan pembenihan, karena akan menunjang kelangsungan hidup benih ikan. Pada saat telur ikan baru menetas maka setelah makanan cadangan habis, benih ikan membutuhkan pakan yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Selama ini petani ikan melakukan pemberian pakan ke benih ikan yang baru menetas dengan kuning telur matang dan susu bubuk. Pemberian pakan seperti ini berakibat kualitas air media sangat rendah. Disamping air media cepat kotor dan berbau amis, berakibat pula kematian benih ikan sangat tinggi sampai sekitar 60 – 70%.
Dengan bentuk dan ukuran mulut yang kecil, benih ikan sangat cocok diberikan pakan alami. Untuk tahap awal, pakan yang diperlukan adalah pakan alami jenis Infusoria/Paramaecium. Pada tahap selanjutnya sesuai dengan perkembangan ukuran mulut ikan, jenis pakan alami yang cocok diberikan yaitu Moina, sedangkan pada tahap akhir sampai ikan siap tebar bisa diberikan pakan alami jenis Daphnia.
Pakan alami merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan produksi benih ikan hias maupun ikan konsumsi. Petani ikan di daerah Jakarta biasanya memenuhi kebutuhan pakan alami dengan membeli Artemia maupun mencari jenis pakan lokal seperti Moina dan Daphnia ke danau atau situ. Penggunaan pakan alami Artemia saat ini sangat tidak ekonomis, karena selain pengadaannya sulit juga sangat mahal. Selain itu pengadaan pakan dari alam tidak terjamin baik ketersediaan maupun kemurniannya. Pengambilan pakan dari alam ini juga beresiko membawa bibit penyakit yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih ikan.
Budidaya pakan alami yang dilakukan sendiri oleh petani menjanjikan sejumlah keuntungan, disamping kualitas kebersihan pakan terjamin, pakan alami produksi sendiri juga menghasilkan jenis pakan/kutu air seperti yang diharapkan. Penghematan waktu, tenaga dan biaya juga akan diraih apabila produksi pakan alami dilakukan dengan baik.
II. PAKAN ALAMI
Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva atau benih ikan dan udang. Beberapa jenis pakan alami yang sesuai untuk benih ikan air tawar, antara lain lnfusoria (Paramaecium sp.), Rotifera (Brachionus sp.), Kladosera (Moina sp.), dan Daphnia sp.
Pakan alami tersebut mempunyai kandungan gizi yang lengkap dan mudah dicerna dalam usus benih ikan. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil sangat sesuai dengan lebar bukaan mulut larva/benih ikan. Sifatnya yang selalu bergerak aktif akan merangsang benih/larva ikan untuk memangsanya. Pakan alami ini dapat diibaratkan “air susu ibu” bagi larva/benih ikan yang dapat memberikan gizi secara lengkap sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Pakan alami Infusoria dapat dibudidayakan dengan media sayuran, sedangkan pakan alami jenis Moina dan Daphnia dapat dilakukan dengan menggunakan kotoran hewan kering yang ada di sekitar kita.
Kandungan gizi setiap jenis pakan alami berbeda-beda, namun pada umumnya terdiri dari air, protein, lemak, serat kasar dan abu. Kandungan gizi pakan alami Moina dan Daphnia dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini
Tabel 1. Kandungan Gizi dan Kegunaan Pakan Alami
1. Moina
Di kalangan petani Moina dikenal dengan nama “kutu air”. Jenis kutu ini mempunyai bentuk tubuh agak bulat, bergaris tengah antara 0,9 – 1,8 mm dan berwarna kemerahan.
Perkembangbiakan Moina dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara asexual atau parthenogenesis (melakukan penetasan telur tanpa dibuahi) dan secara sexual (melakukan penetasan telur dengan melakukan perkawinan/pembuahan terlebih dahulu). Pada kondisi perairan yang tidak menguntungkan, individu betina menghasilkan telur istirahat atau ephipium yang akan segera menetas pada saat kondisi perairan sudah baik kembali.
Moina mulai menghasilkan anak setelah berumur empat hari dengan jumlah anak selama hidup sekitar 211 ekor. Setiap kali beranak rata-rata berselang 1,25 hari, dengan rata-rata jumlah anak sekali keluar 32 ekor/hari, sedangkan umur hidup Moina adalah sekitar 13 hari.
Moina biasa hidup pada perairan yang tercemar bahan organik, seperti pada kolam dan rawa. Pada perairan yang banyak terdapat kayu busuk dan kotoran hewan, Moina akan tumbuh dengan baik pada perairan yang mempunyai kisaran suhu antara 14-30 ° C dan pH antara 6,5 – 9. Jenis makanan yang baik untuk pertumbuhan Moina adalah bakteri. Untuk menangkap mangsa, Moina akan menggerakan alat tambahan pada bagian mulut, yang menyebabkan makanan terbawa bersama aliran air ke dalam mulut.
2. Daphnia
Daphnia mempunyai bentuk tubuh lonjong, pipih dan beruas-ruas yang tidak terlihat. Pada kepala bagian bawah terdapat moncong yang bulat dan tumbuh lima pasang alat tambahan. Alat tambahan pertama disebut Antennula, sedangkan yang ke dua disebut antenna yang mempunyai fungsi pokok sebagai alat gerak. Tiga lainnya merupakan alat tambahan pada bagian mulut.
Perkembangbiakan Daphnia yaitu secara asexual atau parthenogenesis dan secara sexual atau kawin. Perkembangbiakan secara parthenogenesis sering terjadi, dengan menghasilkan individu muda betina. Telur dierami di dalam kantong pengeraman hingga menetas. Anak Daphnia dikeluarkan pada saat pergantian kulit. Pada kondisi perairan yang baik, disamping individu betina dihasilkan pula individu jantan. Pada saat kondisi perairan yang tidak menguntungkan, individu betina menghasilkan 1 -2 telur istirahat atau epiphium yang akan menetas saat kondisi perairan baik kembali.
Daphnia mulai berkembang biak pada umur lima hari, dan selanjutnya setiap selang waktu satu setengah hari akan beranak lagi. Jumlah setiap kali beranak rata-rata sebanyak 39 ekor. Umur hidup Daphnia 34 hari, sehingga selama hidupnya mampu menghasilkan anak kurang lebih 558 ekor.
Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam atau danau. Daphnia dapat tumbuh optimum pada suhu perairan sekitar 21 °C dan pH antara 6,5 – 8,5. Jenis makanan yang baik untuk pertumbuhan Daphnia adalah bakteri, fitoplankton dan detritus.
Kebiasaan makannya dengan cara membuat aliran pada media, yaitu dengan menggerakan alat tambahan yang ada di mulut, sehingga makanan masuk ke dalam mulutnya.
III. PRODUKSI MASSAL PAKAN ALAMI

1. Tujuan Produksi Pakan Alami :
* Menyediakan pakan alami secara massal dan berkesinambungan untuk menunjang usaha pembenihan ikan ekonomis penting.
* Meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan melalui pemberian pakan alami hasil
* Budidaya secara massal.
* Menekan pengeluaran biaya dan penggunaan tenaga serta waktu dalam penyediaan pakan alarm.
* Mencegah penyebaran bibit penyakit dan parasit yang dibawa pakan dari alam.
2. Produksi Massa Infusoria
A. Bahan-bahan yang diperlukan, antara lain :
– Bak/ember plastik ukuran 15 liter (jumlah Ember/ bak tergantung keperluan)
– Media budidaya terdiri dari kulit Pepaya matang, daun Kol/Selada atau pelepah pisang (gunakan salah satu media).
– Kain kasa untuk pembungkus sayuran dan tutup ember.
– Air kolam atau empang sebagai sumber bibit Infusoria
B. Pelaksanaan :
– Isi bak/ember dengan air sampai sekitar 10 liter
– Masukkan salah satu bahan (kulit Pepaya matang, daun Kol atau pelepah pisang) kedalam ember sebanyak 250 – 300 gram yang telah dibungkus kain kasa dan diikat.
– Tambahkan sekitar 2 – 3 gayung (1 – 2 liter) air empang/kolam, untuk memasukkan bibit Infusoria yang akan dibudidayakan
– Letakkan ember/bak plastik yang telah terisi kultur Infusoria pada tempat terlindung dari panas matahari dan hujan, untuk menghindari perubahan suhu yang tidak diinginkan.
– Tutup ember media budidaya dengan kain kasa untuk menghindari jentik nyamuk atau hewan lain masuk ke dalamnya.
C. Pemanenan :
– Pada hari ke-3, amati adanya lapisan tipis warna putih seperti awan di atas permukaan air media yang menandakan Infusoria sudah berkembang dengan baik (puncak populasi Infusoria biasanya terjadi pada hari ke-4 dan hari ke-5)
– Ambil lapisan putih tersebut dengan menggunakan mangkuk atau piring kecil untuk diberikan pada benih ikan.
– Satu siklus budidaya Infusoria (selama 1 minggu) dapat digunakan untuk makanan benih ikan sampai benih tersebut siap memakan jenis pakan alami yang lebih besar yaitu Moina dan Daphnia. Biasanya pemberian pakan alami Infusoria hanya berlangsung selama 2 – 3 hari.
Jenis Infusoria yang berkembang dipengaruhi oleh jenis media yang digunakan. Setiap media memiliki pH tertentu yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan benih ikan, apabila pemberian Infusoria dilakukan secara berlebihan. Pada media kulit pepaya jenis Infusoria yang dominan adalah Chlamydomonas sp. dan Colpoda sp. Sedangkan pada media kol, pelepah pisang dan daun kipahit adalah Paramaecium sp. dan Euglena sp. Media kulit pepaya dan pelepah pisang menunjukan pH yang cenderung asam dan ini disukai ikan Neon tetra, sedangkan pada media kol dan daun kipahit pH cenderung netral. Akan tetapi secara umum semua jenis media dapat digunakan untuk budidaya Infusoria.
Pemberian lnfusoria ke benih ikan yang baru menetas, temyata dapat meningkatkan derajat kehidupan benih menjadi 80 – 90%.
Tabel 2. Keadaan pH dan Jenis Infusoria dominan pada Beberapa Media Tumbuh Pakan Alami.
 
3. Produksi Massal Moina/Daphnia
A. Bahan-bahan yang diperlukan :
– Bak beton / kolam budidaya ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 1 meter.
– Pupuk organik, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos (kebutuhan masing-masing 1-1,5
kg/m3 air media)
– Kantong waring untuk tempat pupuk dan tali pengikat.
B. Pelaksanaan :
– Isi bak / kolam budidaya dengan air sampai ketinggian minimal 70 – 80 cm, untuk menjaga kestabilan suhu media dan menghindarkan Moina maupun Daphnia dari pengaruh langsung sinar matahari.
– Siapkan pupuk kandang, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos dengan dosis masing-masing sebanyak 1 kg/m3 untuk budidaya Moina, sedangkan pada budidaya Daphnia kotoran ayam 1,5 kg/m3 dan kompos 1 kg/m3.
– Masukkan pupuk kandang tersebut ke dalam kantong waring, ikat dan masukkan ke dalam kolam budidaya.
– Satu hari kemudian masukkan bibit Moina 2 gram/m3 atau sekitar 3 – 4 ekor/10 ml dan Daphnia sebanyak 5 gram/m3.
C. Pemanenan
– Moina mulai dipanen pada hari ke-7 sampai hari ke-10 dari pemupukan awal, sedangkan Daphnia pada hari ke-21 dan setelah itu pemanenan dapat dilakukan setiap hari selama 3 minggu sebanyak 25 gr/m3 .
– Untuk budidaya Moina pemupukan ulang sebanyak 0,2 dosis dari pemupukan pertama dapat dilakukan pada hari ke-4 setelah pemupukan awal. Sedangkan pada budidaya Daphnia, pemupukan ulang dilakukan sebanyak 0,5 dosis seminggu setelah pemupukan awal .
Pada budidaya Moina untuk menjamin penyediaan pakan alami secara terus menerus diperlukan paling sedikit 3 buah kolam. Pelaksanaan budidaya kolam ke-2 dimulai pada hari ke empat dari pelaksanaan budidaya kolam ke-1. Sedangkan budidaya kolam ke-3 dimulai pada hari ke empat setelah pelaksanaan budidaya kolam ke-2 dimulai. Dengan demikian pemanenan Moina dapat dilakukan setiap hari secara terus-menerus, mulai hari ke-7 sampai hari ke10, sebanyak 200 – 400 gr/m3 air.
Untuk mendapatkan Daphnia setiap hari diperlukan 2 buah kolam. Pelaksanaan budidaya kolam ke-2 dilakukan pada hari ke-20 setelah pelaksanaan budidaya pada kolam ke-1. Pemanenan Daphnia dapat dilakukan setiap hari mulai hari ke-21 selama tiga minggu, dengan jumlah 25 gr/m3/hari.


  PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA CBIB - Cara Budidaya ...