Rabu, 07 Februari 2018

Mengenal Jenis-Jenis Ikan Air Tawar yang Digunakan Untuk Terapi Ikan

(sumber : https://seputarmancing50.blogspot.co.id/2017/01/mengenal-jenis-jenis-ikan-air-tawar.html) 

Ternyata selain dagingnya yang dapat dikonsumsi ikan juga sangatlah bermanfaat untuk kesehatan disisi lainnya,diantaranya ikan itu sangatlah sering digunakan untuk terapi,kita juga sangatlah sering atau pernah menjumpai terapi ikan itu,harganya yang murah tapi sangatlah bermanfaat dan banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan tubuh kita.
Tapi agan-agan harus mengetahuinya jenis ikan apa sih yang dapat digunakan untuk terapi atau ikan apa saja,untuk itu saya akan menginformasikannya :
  • IKAN NILEM

Ikan nilem termasuk salah satu jenis ikan air tawar yang dapat digunakan sebagai alternatif terapi,karena ikan nilem ini biasnya sangat bergerombol saatmemakan makanann jadi saat kita memasukan kaki atau bagian tubuh kita kedalam air yang ada si ikan nlemnya itu dengan jumlah ikan nilemnya banyak maka si baan tubuh kita akan di makannya.
Dalam artian bukan dimakan sama kulitnya namun memakan penyakit atau ada serpihan-serpihan yang menempel di bagian tubuh kita,misalkan bekas luka maka akan dimakannya oleh si ikan tersebut,nah jadi ikan nilem termasuk kedalam jenis ikan yang dapat digunakan sebagai ikan terapi.
  • IKAN WADER/BEUNTUER

Ikan wader atau orang sunda sering menyebutnya ikan beunteur ini juga ternyata sangalah baik untuk kesehatan atau termasuk kedalam jenis ikan air tawar yang dapat digunakan sebagai ikan terapi,jangan remehkan ukurannya yang mungil ya gan karena ikan ini sangatlah membantu dalam menyembuhkan seperti bekas luka.
Ikan wader atau ikan beunteur ini bentuknya agak mirip seperti ikan mas namun ukuranya yng relatif lebih mungil dan ukuran indukannya agak terlalu besar,sama halnya dengan ikannilem ikan wader juga memiliki fungsi seperti ikan nilem.
Nah agan-agan jadi selain ikan nilem tadi ternyata ikan wader juga termasuk kedalam ikan yang dapat digunakan sebagai salah satu ikan terapi.
  • IKAN MAS

Ternyata ikan mas juga dapat digunkan sebagai ikan terapi loh gan,wah mas iya?iya gan asalkan si jumalah ikannya itu banyak jadi mereka saat si bagian tubuh kita dimasukan kedalam air itu mereka akan memakanya.
Ikan mas juga untuk mafaatnya sama halnya dengan ika wader dan ikan nilem karena pada intinya kalau ikan terapi ataupun manfaat ikan terapi itu ya itu tadi intinya.
Namun untuk ukurannya iakn mas biasnya ikan mas itu dapat tumbuh dengan ukura yang sangatlah besar beda halanya dengan ikan nilem apalagi denga ikan wader.

  • IKAN MUAJER

Ada kabar baik nih ternyata ian mujaer juga dapat digunakan sebagai ikan terapi loh gan,gapercaya,kita buktikan di kolam kita sndiri saja ya gan ternyata biasnya kalau kita sedang berada di air kolam tersebut maka si ikan mujaer itu akan memakan bagian tubuh kita bukan memakan sih tapi hanya memakan kuman mungkin bisa dikatakan,apalagi kalau ada lukanya maka akan habis dimakannya hingga bersih.
Nah itu tadi jenis-jenis ikan air tawar yang dapat digunakan sebagai terapi ikan,cobalah terapi ikan gan selain untuk kesehatan ternyata kita akan mendapatkan keseruan lain yang dianaranya kita akan tertawa saat siikan mulai memakan bagian telapak kaki kita dan kita pasti ketawa karena geli haha.

Mengenal Lebih Dekat Jenis-Jenis Ikan Lele

ikan lele

Superperikanan- Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk ke dalam ordo `Siluriformes` dan digolongkan ke dalam ikan bertulang sejati. Lele dicirikan dengan tubuhnya yang licin dan pipih memanjang, serta adanya sungut yang menyembul dari daerah sekitar mulutnya.

Nama ilmiah lele adalah Clarias sp. Yang berasal dari bahasa Yunani "Chlaros", yang berarti kuat dan lincah. Dalam bahasa Inggris lele disebut dengan beberapa nama, seperti catfish, walking catfish dan mudfish.

Berikut ini Klasifikasi ikan lele berdasarkan Saanin (1984) dalam Hilwa (2004):

Filum      : Chordata
Kelas      : Pisces
Subkelas: Teleostei
Ordo       : Ostarophysi
Subordo  : Siluroidae
Famili      : Clariidae
Genus     : Clarias

Nah itulah beberapa klasifikasi ikan lele, namun tidak cukup sampai di situ saja, kami yakin di antara sobat semua pasti ada yang bertanya-tanya, Ikan lele itu kok banyak sekali jenisnya, apa saja sih jenisnya? Nah, di sini kami akan menjawab semua rasa penasaran sobat.

Baca juga: 9 Rahasia Sukses Budidaya Lele di Kolam Terpal

Dengan seiring bergulirnya waktu, pertumbuhan pengetahuan kian meningkat tajam, tidak hanya saja dalam bidang ilmu sosial (humaniora), namun juga meliputi ilmu sains.

Baiklah jangan menunggu lama lagi, langsung saja kami berikan beberapa jenis ikan lele yang telah berhasil dikembangkan oleh para pakar ilmu perikanan.
Berikut jenis-jenisnya seperti dilansir dari berbagai sumber:

1. Lele Dumbo

Lele Dumbo (Clarias gariepinus) merupakan jenis ikan lele yang berasal dari Afrika yang diimpor ke Indonesia untuk dikawin silangkan dengan lele Lokal dan ikan ini dinamakan lele Dumbo. 

ikan lele dumbo
lele Dumbo. Binatang.net
Lele Dumbo memiliki tubuh yang lebih besar 6-8 kali panjang standar dibandingkan lele Lokal dan memiliki gen pertumbuhan yang lebih cepat, memiliki ukuran kepala 3-3,5 kali lebih besar, kepala agak persegi panjang dan lancip ke garis dorsal.

Moncongnya bulat melebar. Mata memiliki posisi supero lateral dan relatif kecil. Gigi pada premaxilla dan rahang bawah kecil, halus dan diatur dalam beberapa baris. Barbels 1/5 sampai ½ kali dari ukuran kepala dan ½ sampai 4/5 kali dari ukuran kepala ketika individu masih kecil.

Sirip pektoral hanya bergerigi di bagian luar dan tidak beracun. Jumlah gerigi semakin banyak seiring bertumbuhnya individu. Berwarna abu ungu kemerahan dan bercorak marble. Warnanya akan semakin pucat dan corak tampak lebih jelas apabila stress.

Bagian perut, ventral dan sirip yang berpasangan berwarna keputih-putihan. Selain itu juga lele Dumbo dapat dibudidayakan dalam tingkat kepadatan yang tinggi, tingkat kematangan gonad yang relatif lebih cepat dan dapat mengkonsumsi.

2. Lele Lokal

Lele Lokal (Clarias batrachus) atau ikan ini sering dipanggil “walking catfish” merupakan lele habitat asli di Indonesia. Dinamakan walking catfish karena kemampuannya untuk berjalan di daratan untuk mencari makanan atau lingkungan yang cocok.

ikan lele lokal

Lele ini berjalan dengan menggunakan sirip pektoral untuk mengangkat tubuhnya dan berjalan menyerupai ular. Lele Lokal memiliki tubuh yang pipih dibagian posterior. Rahang atas yang lebih menjorok. Ujung dari sirip pectoral mengeras menyerupai duri dan kasar dibagian sisi luar serta bergerigi di bagian ujung dalam.

Duri atau sirip pektoral mengandung racun, dan memiliki panjang 2 kali dari lebar tubuh. Genital jantan panjang dan meruncing, serta memiliki warna hitam ke abuan walaupun dalam keadaan stress disertai bintik putih.

Lele Lokal dapat bertahan hidup dengan berpindah tempat selama tempat itu tetap menjaga lele dalam keadaan lembab dan basah seperti berpindah dari kolam air stagnan, rawa, sungai, atau bahkan lahan padi yang terkena banjir.

Ikan lele Lokal mampu bertahan cukup lama di daratan karena memiliki alat bantu pernapasan berupa arborescent. Lele Lokal memiliki tubuh paling panjang rata-rata 30 cm, lele Lokal biasanya mengkonsumsi ikan kecil, moluska, invertebrata lain, detritus, bahkan gulma air di habitat alaminya.

3. Lele Sangkuriang

Lele Dumbo yang ada di Indonesia mengalami penurunan kualitas diakibatkan sering terjadinya perkawinan satu keturunan (inbreeding). Untuk itu Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) memutuskan untuk melakukan pemurnian kembali.

ikan lele sangkuriang

Betina keturunan kedua lele Dumbo asli dari Afrika Selatan (F2) dikawinkan dengan pejantan keturunan keenam yang Lokal (F6). Dari proses pemurnian Back cross ini anakan yang dihasilkan kemudian dinamakan Lele Sangkuriang. Melihat hal diatas bahwa lele Sangkuriang adalah lele Dumbo hasil pemuliaan atau peremajaan.
Secara garis besar ikan lele Sangkuriang memiliki tingkat pertumbuhan dan kualitas dan kuantitas fekunditas yang lebih baik dibanding dengan lele Dumbo sebelumnya. Sangkuriang memiliki fekunditas 33.33% lebih tinggi dibandingkan lele Dumbo dan umur pertama matang gonad yang lebih tua.

Baca juga: Rahasia Jitu Mancing Ikan Lele, Terbukti

Pada pemeliharaan umur 5-26 hari ikan ini menghasilkan laju pertumbuhan harian 43.57% lebih tinggi dibandingkan lele Dumbo sedangkan pada pemeliharaan umur 26-40 hari 14.61% lebih tinggi.

Pada pembesaran calon tetua tingkat pertama dan kedua, lele Sangkuriang menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan lele Dumbo yaitu 11.36% dan 16.44%. sedangkan pada pembesaran kelas konsumsi, konversi pakan pada lele Sangkuriang mencapai 0.8 dibandingkan lele Dumbo yang mencapai >1 (Sunarma et al. dalam Hilwa 2004).

4. Lele Albino

Lele Albino merupakan lele jenis apa saja yang memiliki gen resesif dari parental, tercermin dari warnanya yang putih akibat gen yang tidak dapat membentuk pigmen melanin.

ikan lele sangkuriang

Biasanya ikan lele Albino ini dipertahankan dan diperbanyak oleh beberapa pembudidaya karena tergolong ikan lele hias serta memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan ikan lele konsumsi pada umumnya.

5. Lele Phyton

Lele phyton atau yang biasa disebutkan dengan nama paiton adalah jenis lele baru, ikan ini merupakan hasil perkawinan silang anatara lele Dumbo thailand dan Dumbo lokal. Ikan ini juga merupakan jenis lele terbaik, karena ikan ini mudah dibudidayakan.

ikan lele piton

Lele phyton adalah varietas unggul sebagai pengganti lele Dumbo yang bisa disebut sebagai rajanya lele yang memiliki kualitas di atas ikan lele sangkuriang. Ikan ini pertaman kali ditemukan pada tahun 2004 di Kabupaten Pandeglang Banten.

Awal mulanya lahri jenis ikan ini karena coba-coba dari sekelompok pelaku budidaya ternak lele dan dari kreasi mereka lahirlah ikan lele Phyton sebagai ikan lele unggulan terbaru dan raja lele atau lele raksasa ukuran konsumsi. 

Ikan ini memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari pada ikan lele jenis lain. Ikan mampu menyaingi keunggulan lele Sangkkuriang. Selain itu ikan ini juga lebih tahan terhadap perubahan kualitas air, seperti suhu dan pH daripada lele Sangkuriang.

Probiotik, Atasi Permasalahan Budidaya Gurami 

(sumber : http://amongkurniaebo.blogspot.co.id/2008/09/probiotik-atasi-permasalahan-budidaya.html)


Ikan Tahan Penyakit dan Pertumbuhan Lebih Cepat

Musim pancaroba seperti sekarang ini menjadi problem tersendiri bagi para pembudidaya gurami. Pasalnya, suhu yang fluktuatif, sangat dingin di malam hari dan sangat panas di malam hari, menimbulkan masalah tersendiri bagi ikan. Misalnya, menjadikan gurami gampang lesu, malas makan, mudah stres, bahkan seringkali terserang luka fisik yang mengakibatkan satu persatu ikan mati.

Bagaimana solusinya? Salah satu langkah yang efektif antara lain dengan memanfaatkan probiotik pada kolam maupun ikan. Cara ini bahkan sudah lama diterapkan oleh Galih Adi, petani gurami dari Maos, Cilacap, yang kini tinggal di Bantul dan mengembangkan gurami dengan ratusan plasmanya.

“Probiotik sangat bagus untuk kolam dan ikan. Kolam lebih sehat dan ikannya juga lebih kuat terhadap stres dan penyakit. Dan yang pasti, pertumbuhan ikan akan sangat pesat karena probiotik juga merangsang nafsu makan ikan,” jelas Adi, yang alumni Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Menurut Adi, probiotik berasal dari kata pro yang artinya mendukung dan biotik yang berarti kehidupan. Maka probiotik artinya sesuatu yang bisa membantu atau mendukung kehidupan ikan. Aplikasi probiotik bisa dengan dua cara, yakni langsung diguyur ke air kolam (misalnya Nature Simba, Masterfish, Superplankton)maupun dicampurkan ke dalam pakan ikan (misalnya Rajagrameh, Rajalele, Nutrisi, SPF, dan jenis probiotik lainnya).

Dijelaskannya, probiotik itu ibarat benteng pertahanan diri. Sebagai benteng, diberikan sejak dini semakin baik. “Semacam imunisasi. Jangan menunggu kondisi kolam jelek dan ikan kena masalah atau terserang penyakit. Tapi, berikan secara teratur sejak pertama kali bibit masuk kolam. Maka ikan akan selamat sampai panen,” ujar pemilik Mangestoni PS Surabayan, Sanden, Bantul ini menandaskan.

Bukti bahwa aplikasi probiotik sangat efektif juga diakui Jumadi, petani gurami desa Ceme, Sanden, Bantul. Ketika melihat di kolamnya banyak ikan yang stres dan ngambang, buru-buru sore harinya ia mengguyurkan sebotol probiotik Nature yang dicampur segenggam gula pasir ke kolamnya. Keesokan harinya air kolam jernih dan semua guraminya sehat kembali.

“Nyaris tak percaya, karena biasanya satu hari pasti mati 8 atau 10 ekor. Padahal ikan sudah ukuran kilon. Ruginya kan banyak. Setelah kena probiotik kok langsung sehat semua dan selamat sampai panen. Sekarang pemberian nature saya ulang tiap dua minggu sekali karena saya sudah percaya 100%. Ibaratnya saya sudah fanatik sekarang,” jelas Jumadi.

Budidaya gurami sekarang makin diminai petani karena prospeknya yang cerah. Apalagi saat ini seiring kenaikan harga pakan, harga panen gurami dari kolam petani juga membaik. “Saya mengambil gurami dari kolam petani dengan harga Rp 18.000,- hingga Rp 19.000,- yang saya sesuaikan dengan standar pemasaran di Jakarta. Kalau di bawah harga itu, kasihan petaninya, untungnya mepet. Padahal, tujuan kita kan sejahtera bersama-sama petani. Maka saya menerapkan pola plasma yang fair kepada petani-petani saya. Semua panenan saya ambil dengan harga sangat layak dan timbangannya tepat,” ujar ketua Asosiasi Petani Ikan Sanden (APIS).

Pacu Bobot Gurame Ala Juwari

(sumber : https://rochimarmandoblog.wordpress.com/2016/12/02/pacu-bobot-gurame-ala-juwari/ )

 ak diragukan lagi bila budidaya ikan gurame membutuhkan waktu yang relatif lama. Setidaknya, untuk menghasilkan gurame konsumsi dengan ukuran 500 g per ekor atau sekilo isi 2 ekor membutuhkan waktu satu tahun. Tak heran, meskipun harga per kilogramnya cukup prospektif sebagai tambang uang, tak banyak yang menekuninya.

Ditemui di lokasi kolamnya di Desa Junjung, Tulungagung, Juwari (49 tahun) mengungkapkan bahwa tahun 2001, ia menggeluti usaha pembibitan gurame dan lele. Baru pada tahun 20016 dirinya memutuskan untuk menekuni pembesaran gurame.
Di awal, pria yang pernah mengikuti transmigrasi di Aceh ini memulai usaha pembesaran gurame dengan dua petak kolam, masing-masing berukuran 8 m x 8 m dan 10 m x 16 m. Ia menebari kedua kolam dengan total jumlah benih sebanyak 2.600 ekor.
Bukan tanpa aral. Selain menghadapi masalah soal kualitas air, Juwari sempat menemukan gangguan kesehatan pada guramenya yang bersumber dari pakan. “Badan gurame jadi pecah, seperti mbledos begitu, Mas,” kenang Juwari.
Sempat berganti merk pakan, tetapi masalah lain datang. Dari pakan yang ditawarkan pabrikan, hasil rendemennya kurang memuaskan.”Apalagi ditambah masalah kualitas air, yang seharusnya mulai panen pada umur 12 bulan, tapi panen saat itu bisa 13—14 bulan,” ungkap Sumari (54 tahun), kakak Juwari.
Mantab di usaha pembesaran gurame
Juwari memang tidak sendiri. Bersama dengan saudara lainnya, lima bersaudara ini terjun semua di usaha pembesaran gurame. Total jenderal, jumlah kolam yang dimiliki keluarga sebanyak 50 petak. Sementara Juwari sendiri, berawal dari dua petak, kini kolamnya sendiri ada 16 petak.
“Masing-masing petak diisi benih gurame seukuran silet sebanyak 2.500 ekor,” terang Sumari. Dari situ terlihat bahwa kebutuhan total benih gurame Juwari sebanyak 40.000 ekor. Sementara total kebutuhan bibit milik keluarga sebanyak 125.000 ekor.
Masih menurut Sumari, setiap 1.000 ekor gurame membutuhkan pakan pelet pabrik sebanyak 25 sak volume 30 kg. Artinya, dalam satu kali siklus budidaya membutuhkan pakan sebanyak 3.125 sak atau 93,75 ton pakan.
Dari Desa Junjung sendiri, keluarga Juwari bukan satu-satunya pembudidaya ikan gurame. Maklum, desa ini dianggap sebagai sentra gurame di Tulungagung. Sebagaimana pengakuan Agus (35 tahun), salah satu bakul gurame, ia mampu mengirim 1—2 rit gurame atau rata-rata 1,5 ton sehari. Gurame itu Agus distribusikan ke berbagai pasar luar Tulungagung seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Semarang, dan Yogyakarta. Sementara itu, menurut pengakuan Agus, total gurame yang dikirim ke luar Tulungagung sebanyak 20 rit per hari alias 15 tom per hari.
Atur pola makan hasilkan rendemen tambahan
Selama ini, Juwari memberi pakan guramenya dengan pakan dari salah satu merk pabrikan berprotein 24—26%. Menurut pengakuannya, penggunaan pakan dengan kadar protein sejumlah itu mampu menghasilkan rendemen sebesar 65%. Artinya, satu kilogram pakan menghasilkan 650 gram daging gurame.
“Paling bagus, jika cuaca sedang bagus dan ikan sehat, rendemennya bisa mencapai 70%. Kisarannya pada 65—70%,” terang Juwari.
Pemilihan pakan yang tepat memang berawal dari nafsu makan ikan yang bagus. Dengan asupan nutrisi yang cukup,ikan menjadi lebih sehat dan gesit. Selain itu, gurame terhindar dari gangguan kesehatan seperti pecah atau retaknya badan akibat nutrisi yang tidak  seimbang,
“Nutrisi dalam pakan tidak sesuai dengan kebutuhan ikan gurame, terang Krido Retmonojati, Asisten Kepala Divisi Marketing Pakan Ikan Wonokoyo. Seperti diketahui, gurame memiliki kecenderungan pemakan tumbuh-tumbuhan atau herbivora. Meskipun begitu, rata-rata ikan budidaya telah dibiasakan untuk menjadi pemakan segala atau omnivora.  Namun tetap saja, karakteristiknya sebagai herbivora tetap ada. Terbukti, gurame suka sekali jika diberi pakan tambahan berupa dedaunan seperti daun sente atau talas atau pun daun singkong.
Meskipun begitu, berdasarkan pengalaman Juwari, ia bisa memacu pertumbuhan guramenya sehingga menghasilkan rendemen sebesar 75%. Rahasianya?
Tak mau pelit, Juwari membeberkan triknya. “Sekitar 2 bulan sebelum panen, pakan yang diberikan pada gurame mengandung protein 31—33%, terang Juwari.
Pakan berkadar protein setinggi ini biasa ditemukan pada pakan ikan lele. Juwari mengaku ikannya tumbuh lebih pesat dan aman dari kondisi badan pecah seperti penggunaan pakan gurame merk sebelumnya. Diduga, gurame dengan umur sekira delapan bulan sudah mampu beradaptasi dengan pakan berprotein tinggi dan mengonversi protein tersebut dalam bentuk daging. Inilah yang membuat rendemen gurame jadi bertambah.
Di samping bisa memacu rendemen menjelang panen, pakan lele yang diberikan pada gurame dua bulan sebelum panen jelas hemat biaya produksi. Maklum, harga pakan berprotein tinggi tentu lebih mahal. “Selisihnya mencapai 30.000 per sak,” ujar Krido.
“Yang paling penting kondisi gurame aman dan sehat, Mas. Tidak lagi terkena badan pecah,” ujar Andre (33 tahun). Menurut pria yang pernah merantau menjadi TKI di Malaysia ini, budidaya ikan gurame lebih “nyaman” secara finansial. “Kalau lele, butuh modal lebih besar, Mas,” ungkapnya pada Info Akuakultur.
Ternyata, dengan menerapkan model pemberian pakan ala Juwari, bobot gurame bisa dipacu lebih cepat. Rendemen bertambah dan pastinya menghasilkan panen yang  bisa membuat wajah para pembudidaya sumringah.

 Jenis Dan Ciri Induk Ikan Gurami yang Baik 2018

 (sumber : http://www.masharno.com/2016/06/jenis-dan-ciri-induk-ikan-gurami-yang.html)

Jenis dan ciri idukan yang baik sangat lah penting untuk menghasil benih yang cepat bongsor induk harus berasal dari populasi gurami yang terpilih. Memiliki tubuh yang sehat dan tidak cacat tubuh,Bila anda bermaksud ingin mengebangkan ikan gurami jenis tertentu saja.

Misalkan gurami soang atau angsa dan pilih calon induk dari anakan gurami soang yang pertumbuhannya sangat menojol bila dibandingkan dengan ikan gurami lain nya,Sebab hal yang sama juga berlaku terhadap jenis gurami lain.

Ikan gurami yang dinilai yang pantas untuk dijadikan induk harus mempunyai berat minimum 1,5-2kg/ekor nya.Andainya ikan gurami indukan dipelihara sejak sejak berukuran benih ( 0,5 gram/ekor ),Yang dibutuhkan waktu 2-3 tahun untuk mencapai ukuran induk siap pijah.

Namun begitu ,sebaiknya gunakan induk berusia sekitar lima tahun untuk betina, Dan untuk induk yang jantan tiga tahun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.Dan masa produksi optimal induk betina berlangsung 5 - 7 tahun .

Setelah lewat umur tersebut semakin tua indukn ,kuantitas telur yang dihasilkan semakin baik, Akan tetapi telur yang dihasilkan menurun.Secara umum ciri dan jenis bentuk gurami calon induk yang baik sebagai berikut.

Induk sehat ,tidak cacat pada bagian tubuhnya atau terluka.
-    Sisik tersebar merata ,teratur ,dan berukuran agak besar.
-    Bentuk tubuhnya proporsional serta seimbang tidak terlalu gemuk ataupun kurus.
-    Bentuk sirip, baik sirip ekor, sirip dada ,mau pun sirip punggung normal .
-    Pergerakan dan cara berenangnya normal seimbang.

Adapun perbedaan antara induk gurami jantan dan betina  dapat diketahui dengan memperhatikan beberapa ciri - ciri fisik pada tabel 1.

 Tabel 2.Perbedaan Induk Gurami Jantan Dan Betina.















Menyiapkan Indukan Gurami.

Apabila sudah mendapatkan induk yang baik dan sesuai baik jenis nya maupun ukuran tubuh,Induk jantan dan betina harus siap dimelalui proses adaptasi selama kurang lebih dua bulan.Proses adaptasi  berketujuan mengodisikan induk gurami agar terbiasa dengan lingkungannya yang baru di kolam pemeliharaan induk.

Selain untuk beradaptasi ,proses ini juga berketujuannya untuk mempercepatan kematangan kelamin induk gurami agar bisa segera di pijahkan.Dan karena itu persiapan nya harus dilakukkan terpisah.Ingat hal penting yang harus diperhatikan  selama selama persiapan induk.

Kolam Untuk  Pemeliharaan Indukan.

Kolam induk dibuat sedimikian rupa sehingga memiliki konstruksi yang kokoh kolam bisa dibuat dari beton kolam tanah ,kolam terpal,dan lain sebaginya.Jika kolaminduk terbuat dari tanah ,sebaiknya dilapisi dengan anyaman bambu.hal ini untuk mencegah kerusakan pada pematang yang di akibatkan oleh kebiasaan gurami dewasa yang suka mengadu - adu dasar kolam di bagian kaki pematang kolam.

Kolam indukan harus dilengkapi dengan saluran air masuk dan air keluar ditaruh disisih tembok arah yang berlawanan.Saluran air bisa di buat dari paralon dan bambu tergantung pada tersediaan dana.Dalam kolam air untuk induk minimum 80 cm.Kolam yang kurang dari 80 cm tidak baik pada perkembangan induk karena gurami senang bergerak vertikal ( Naik turun ) disamping itu juga kondisi air harus berkualitas .

Adapun kolam induk berukuran minimum 12 mtr,dengan padat tebar induk betina 2 ekor/ mtr,dan induk jantan 1 ekor /mtr.Apabila memungkinkan sebaiknya induk gurami jantan dan betina di pelihara secara berpisah.Sebelum induk ditebar kolam harus dipersiapkan terlebih dahulu.Persiapan ini berupa pengeringan pada kolam pembalikan dasar tanah dengan cara di pacul.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan kondisi kolam keadaan semula dan membuang kemungkinan yang ada sisa - sisa bahan beracun dan bibit penyakit.Setelah selesai maka lakukkan pengapuran menggunakan kapur pertanian dengan doses sekitar 15-25 gram /mtr.Pengampuran berfungsi juga pada pH tanah.

Penebaran Indukan.

Dilakukan secara berhati - hati saat penebaran induk ke dalam kolam,jangan ceroboh karena induk ikan gurami bisa stres dan bisa berpengaruh saat proses pemijahan nantinya.Waktu yang baik penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu udara masih sejuk.

Kolam induk yang sudah disi sebaiknya dibuatkan pelidung atau atap agar dapat menahan sinar matahari pada siang hari,Sehingga induk dapat merasa tenang ,nyaman berada didalam kolam tersebut.

Pembenihan Ikan Gurame

(sumber :http://1001budidaya.com/pembenihan-ikan-gurame/)


Usaha pembenihan meliputi kegiatan pemeliharaan induk pemijahan, penetasan telur, dan perawatan larva sampai berukuran sebesar biji oyong. Larva berumur 12-30 hari ini selanjutnya dirawat sampai bobotnya mencapai 10 – 15 g/ekor (umur 4 bulan). Benih sebesar ini siap untuk didederkan. Namun, ada juga yang menjual telur untuk ditetaskan.

Pemeliharaan Induk

Induk yang digunakan dalam pembenihan harus sudah berusia di atas lima tahun atau sedang dalam masa produktif. Selain itu, induk harus berasal dari strain yang bagus, sehat, kuat, dan tidak cacat fisik. Bobot gurame yang pantas dijadikan induk adalah 1,5 – 2 kg per ekor.
Induk gurame yang sudah dipilih kemudian dipelihara dalam kolam pemeliharaan. Pemeliharannya dapat dcampur dengan ikan jenis lain seperti ikan mas atau ikan tambak yang mirip gurame. Kedalaman kolam induk minimum 75 cm. Kolam yang terlalu dangkal tidak baik digunakan, karena gurame suka sekali begerak naik turun. Kolam juga harus dilengkapi dengan pintu masuk dan keluarnya air sehingga air dapat diganti-ganti. Lahan yang digunakan sebaiknya tidak berlumpur, tetapi memiliiki air yang jernih. Kepadatan kolam hendaknya disesuaikan dengan tingkat luas kolam. Jika luas kolam 3-4 m2, induk ikan yang dimasukkan berukuran 2-3 kg per ekor.
Sebelum benih ditebarkan, kolam induk harus diolah terlebih dulu dengan cara membalik dasar tanah dengan cangkul. Cara ini berguna untuk mengembalikan kondisi tanah serta membuang sisa bahan beracun dan penyakit. Oleh sebab itu, setelah pembalikan tanah dilakukan pengapuran untuk menaikkan pH tanah. Dosis pengapuran 15-25 g/m2.
Konstruksi kolam induk harus dibuat kokoh. Kolam dapat dibuat dari tembok dengan dasar tanah. Namun jika dasar kolam dan dinding pematang terbuat dari bahan dasar tanah, dinding kolam harus dilapisi dengan bilik atau anyaman bambu. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan pematang akibat perilaku ikan yang suka mengorek makanan dari tanah pematang, sehingga menyebabkan kebocoran.
Penebaran indukan harus dilakukan hati-hati. Pasalnya penebaran yang dilakukan secara serampangan akan menyebabkan induk stres. dan dapat mengganggu proses pemilahan nantinya. Sebaiknya penebaran induk dilakukan pada pagi hari agar suhu udara tidak terlampau panas. Lebih baik lagi jika kolam induk dberi naungan yang berfungsi menahan sinar matahari berlebih sehingga ikan di dalamnya dapat berenang dengan tenang.
Selama pemeliharaan induk, pemberian pakan harus dilakukan secara intensif. Pakan yang diberikan dapat berupa pelet dengan kadar protein berkisar 40% dengan dosis 1,5 – 2% dari bobot badan ikan per hari. Selain berkadar protein tinggi pakan juga harus mengandung vitamin dan mineral yang cukup. Selain itu, pakan alami berupa daun talas dapat dijadikan makanan tambahan yang diberikan sekitar 0,5% dari bobot badan ikan. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan secara bertahap, karena gurame termasuk ikan yang lamban dalam merespon makanan terutama makanan buatan. Pemberian pakan yang bermutu dimaksudkan untuk memacu kematangan gonad induk gurame.
Kembali ke Daftar Isi

Pemilihan Induk Siap Pijah

Ciri induk jantan yang dipilah adalah adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah yang tebal dan tidak adanya bintik pada kelopak sirip dada. Warna tubuhnya memerah berbintik hitam terang degan perut membentuk sudut tumpul. Sedangkan induk betina yang siap pijah ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar rahang bawah tipis dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Warna tubuhnya lebih terang daripada induk jantan dan bentuk perutnya besar bulat.
Ciri lainnya adalah kelamin induk betina akan mengeluarkan telur berwarna putih jika perut ditekan ke arah kelamin. Sedangkan induk jantan yang sudah matang akan mengeluarkan sperma berwarna putih. Cara mudah menentukan kematangan gonad induk jantan adalah dengan melihat tingkah lakuya yang selalu beriringan bersama induk betina dan mulai membuat sarang dari rumput kering. Sementara itu, kematangan gonad betina dapat dilihat dari perut yang membesar dan terasa lunak saat diraba.
Kembali ke Daftar Isi

Pemijahan Ikan Gurame

Induk yang sudah matang gonad siap untuk ditebarkan di kolam pemijahan. Kolam pemijahan merupakan kolam khusus yang ukuran minimumnya 20 m2 dan maksimum 1.000 m2, dengan kedalaman 1-1,5 m. Kualitas air kolam pemijahan yang baik bersuhu 25 – 30 C, nilai pH 6,5 – 8,0, laju penggantian air 10-15% per hari, dan ketinggian air kolam 40 – 60 cm.
Di dalam kolam harus dipasang bahan sarang dan sosog. Sosog sebagai tempat sarang telur diletakkan 25-30 cm dari permukaan air kolam, sementara bahan sarang dapat diletakkan di permukaan air atau di kedalaman 5-10 cm dari permukaan air.
Pemindahan induk dari kolam pemeliharaan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan baskom. Perpindahan dengan cara ini akan mengurangi risiko stres pada ikan. Sebaiknya, induk diletakkan dekat pintu pemasukan air, karena pada bagian tersebut oksigen yang terlarut di dalamnya masih tinggi. Padat tebar induk adalah 1 ekor ikan untuk 5 m2 kolam, dengan perbandingan jumlah jantan : betina adalah 1 : 3.
Proses pemijahan ikan gurame biasanya akan berlangsung satu minggu setelah induk gurame berada di dalam kolam pemijahan. Keberhasilan pemijahan dapat diamati dengan melihat permukaan air kolam. Jika tercium bau amis yang diikuti dengan munculnya banyak minyak di permukaan air, berarti telah terjadi proses pemijahan.
Setelah pemijahan selesai. Pengambilan sarang dilakukan secara hati-hati dengan cara memegang sisi luar bagian paling bawah sarang.
Artikel lengkap: Pemijahan Ikan Gurame
Kembali ke Daftar Isi

Penetasan Telur Gurame

Sarang yang telah diangkat dari kolam pemijahan dimasukkan ke dalam ember yang berisi air dan campuran Metheline Blue. Telur yang hidup biasanya berwarna kuning cerah atau bening transparan, sedangkan telur yang gagal menetas berwarna putih suram dan tidak transparan. Telur-telur yang mati harus disingkirkan supaya tidak menular ke telur yang sehat.
Selanjutnya sarang dalam ember tersebut dibawa ke tempat penetasan. Telur akan menetas dalam kurun waktu 41 jam. Tempat penetasan sebaiknya berada di lingkungan tenang, karena telur tidak akan menetas jika sering kaget.
Dahulu banyak petani yang menetaskan telur gurame di kolam penetasan yang sekaligus juga merupakan kolam pemijahan. Telur-telur yang telah dibuahi induk jantan akan dijaga oleh induk betina sampai menetas. Gerakan induk betina di sekitar sarang akan menyebabkan bertambahnya oksigen terlarut di dalam air, dan akan menghidupkan telur-telur yang dijaganya. Telur akan menetas menjadi larva pada hari ke 11 – 12.
Artikel lengkap: Cara Penetasan Telur Gurame
Kembali ke Daftar Isi

Pemeliharaan Benih

Benih yang sudah berukuran 0,5 g/ekor sudah dapat dipelihara dalam happa yang dipasang pada bak atau kolam pemeliharaan benih. Teknologi pemeliharaan dengan happa merupakan teknik untuk memacu pertumbuhan gurame sejak dini. Pemeliharaan dengan happa ini akan menghasikan benih yang bongsor dan sehat.
Happa dibuat dengan cara mengikat kain halus pada tonggak bambu yang ditancapkan ke dasar kolam. Jumlah tonggak bambu yang dibutuhkan minimum empat buah. Jika ukuran happa cukup besar, di bagian sisi terpanjang happa perlu ditambah 2 tonggak untuk menahan happa agar tidak jatuh. Atur posisi happa agar terendam dua pertiga bagian dalam air kolam.
Benih ditebar pada pagi atau ore hari dengan padat penebaran 75-100 ekor/m2. Selama pemeliharaan, benih diberi pakan berupa pelet halus tiga kali sehari dengan dosis 10% dari bobot tubuh per hari. Setelah dipelihara selama 3 – 4 bulan di dalam happa, benih dapat ditebar di kolam pendederan.
PEMBENIHAN GURAME
(sumber :  http://nindiyanastiti.blogspot.co.id/2014/11/teknik-pembenihan-ikan-gurami.html)

Pembenihan ikan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan benih dengan ukuran tertentu. Selanjutnya benih yang dihasilkan dapat dipelihara lebih lanjut pada kegiatan pendederan atau pembesaran. Satuan produksi pembenihan ikan adalah jumlah (butir telur atau ekor), sedangkan ukuran benih gurami dinyatakan dalam panjang (cm) (Mahyuddin, 2009). Tujuan pembenihan ikan pada dasarnya untuk memproduksi / menghasilkan benih yang berkualitas unggul / baik. Benih yang unggul ditandai dengan pertumbuhan yang lebih cepat. Benih unggul juga bukan dari satu keturunan yang sama (dari induk yang sama).
3.1.      Wadah Budidaya
            Wadah budidaya gurami bisa dalam kolam semen maupun kolam tanah. Tanah yang baik adalah tanah yang tidak berporos. Karena jika berporos akan cepat menyerap air (merembes). Kalau bisa cenderung memakai tanah liat atau lempung, tidak berbatu-batu, cukup mengandung humus sehingga dapat menumbuhkan pakan alami. Tanah yang subur banyak ditemukan dan tumbuh berbagai pakan alami di dasar tanah tersebut. Lokasi budidaya juga harus jauh dari jalan raya (kebisingan), karena akan menyebabkan induk gurami mengalami stress, akibatnya bisa jadi induk tidak akan melakukan proses pemijahan.
3.2.      Kegiatan Pembenihan
            Kegiatan pembenihan gurami meliputi pemilihan induk, pemeliharaan induk, teknik pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva hingga benih siap didederkan lebih lanjut yaitu ukuran biji oyong atau gabah (umur 30-40 hari).
a.         Pemilihan induk
            Berikut ini ciri-ciri induk unggul dan berkualitas ikan gurami :
-          Induk dipilih diantara suatu peranakan yang pertumbuhannya paling cepat, dan tidak berada dalam keturunan yang sama.
-          Kondisi tubuh sehat dan bentuk badan normal
-          Gerakan ikan normal dan lincah
-          Susunan sisik rapid an teratur; licin dan mengkilat; serta tidak ada luka
-          Umur produktif 4-10 tahun untuk induk betina dan 3-7 tahun untuk induk jantan.
-          Berat badan induk lebih dari 2 kg/ekor. Berat badan induk jantan diusahakan lebih besar dibandingkan induk betina.
-          Khusus induk jantan dipilih yang berdagu besar dan tebal. Hal ini karena yang demikian akan pandai dalam membuat sarang dan akan memudahkan perannya dalam pemindahan telur ke dalam sarang. (Mahyuddin, 2009)
b.         Pemeliharaan induk
            Induk maupun calon induk yang akan dipijahkan dipelihara dalam kolam pemeliharaan induk, dengan tujuan mempercepat proses pematangan gonad serta menjaga kesehatan induk. Kolam induk jantan dan betina hendaknya dipisahkan, karena jika disatukan maka khawatir akan terjadi pemijahan yang tidak terkontrol. Kolam pemeliharaan induk dapat berupa kolam tanah atau kolam tembok, tetapi dasar kolam diusahakan tetap tanah, karena bau tanah dapat membantu mempercepat pematangan gonad induk gurami. Induk gurami diberi makan dua macam pakan yaitu dari tumbuhan (daun talas, kangkung, kacang hijau, ketela pohon, dan daun pepaya) dan pakan buatan (pelet dengan protein minimal 25%). Pakan tumbuhan diberikan 5-10 % dari total bobot ikan perhari. Pakan pelet hanya sebagai pelengkap, karena pakan tumbuhan harus dalam prosentase yang lebih banyak agar telur yang dihasilkan akan mudah terurai dan tidak diselubungi lemak. Dengan pengelolaan yang baik maka setiap 3 bulan sekali induk gurami dapat dipijahkan kembali.
c.         Pemilihan induk siap pijah
            Untuk mempercepat pematangan gonad induk dapat dilakukan beberapa cara :
-                      Aliran air. Kolam pemijahan harus dilengkapi saluran air masuk dan pengeluaran, agar aliran air yang masuk kolam dapat merangsang ikan untuk matang gonad dan memijah.
-                      Tanah. Bau tanah dapat merangsang / memicu pematangan gonad.
-                      Pakan daun sente / talas
-                      Manipulasi suhu
-          Manipulasi cahaya
            Ciri ikan gurami betina dan jantan yang siap dipijahkan adalah :
-          Induk betina : perut tampak buncit dan membesar ke arah belakang, perut terasa lembek/lunak, pada alat kelamin/disekitar anus terlihat berwarna putih kemerahan dan agak menonjol, warna tubuh relative terang, dan pergerakan induk lebih lamban.
-          Induk jantan : bentuk perut meruncing ke arah anus, aktivitas induk mengumpulkan bahan sarang (ijuk, sabut kelapa atau rumput kering), selalu beriringan dengan induk betina, tingkah lincah dan agresif, alat kelamin tampak memerah dan warna  tubuh cenderung merah dan hitam terang, jika ditekan bagian perut kea rah alat kelamin akan mengeluarkan sperma berwarna putih jernih.
d.         Persiapan pemijahan
            Kolam pemijahan sebaiknya dengan dasar tanah agar bau tanahnya dapat merangsang induk gurami untuk segera memijah. Tahapan persiapan kolam pemijahan adalah sebagai berikut :
-          Kolam dikeringkan selama 3-7 hari, tujuannya untuk merangsang birahi induk agar segera kawin, membunuh hama penyakit, serta membuang gas-gas yang membahayakan ikan (ammonia)
-          Setelah itu dilakukan pengapuran dengan dosis 100 gr/m2. Pemberian kapur bertujuan menaikkan pH dan membunuh bibit penyakit.
-          Pengisian air kolam sedalam 80 cm dengan air bersih dan jernih. Setelah 3-4 hari maka induk dapat dimasukkan ke kolam  pemijahan.
            Di alam, induk gurami jantan membuat sarang yang terbuat dari rumput-rumput kering yang disusun di pojokan kolam. Agar proses pemijahan berlangsung cepat, pembudidaya perlu menyediakan tempat kerangka sarang (sosog) dan bahan yang diperlukan untuk membuat sarang (ijuk/serabut kelapa). Diameter mulut sosog antara 25-30 cm dan dalamnya 30-40 cm. Pemasangan sosog dilakukan di pematang dengan cara bagian tangkainya ditancapkan de pematang kolam. Jarak pemasangan sosog satu dengan lainnya sekitar 2-4 m.
e.         Teknik pemijahan
            Dasar kolam sebaiknya berupa tanah. Kolam pemijahan jangan terlalu luas karena akan menyebabkan gerakan induk kurang produktif. Umumnya berbentuk persegi panjang ukuran 20-200 m2, tetapi yang umum diterapkan yaitu 20-25 m2 dengan sistem paket/pasangan yaitu dalam satu kolam diisi 1 ekor jantan dan 3 ekor betina (1:3 atau 5 meter/induk). Kedalaman kolam sekitar 75-100 cm.
            Proses pemijahan ikan gurami membutuhkan waktu relatif lama, dan sangat dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad induk dan rangsangan dari luar. Biasanya berlangsung setelah 15-30 hari induk dilepas ke kolam pemijahan. Induk jantan akan membuat sarang yang dapat berlangsung 1-2 minggu tergantung kondisi induk dan lingkungannya. Setelah  itu induk jantan akan menghampiri dan menggiring induk betina untuk melakukan pemijahan dan biasanya terjadi didepan mulut sarang. Fertilisasinya terjadi secara eksternal yaitu bertemunya telur dan sperma di luar tubuh. Induk betina akan menyemprotkan telur-telurnya melalui lubang sarang, kemudian induk jantan membuahi dengan menyemprotkan spermanya pada telur. Telur yang tercecer diluar sarang akan dimasukkan induk jantan ke dalam lubang sarang dengan mulutnya.
            Waktu pemijahan biasanya terjadi pada sore hari, yaitu antara pukul 14.00 – 17.00. Setelah pemijahan selesai, induk jantan akan menutup lubang sarang dengan ijuk/sabut kelapa/rumput kering yang menandakan dalam sarang sudah ada telur. Telur di sarang dapat diambil 1 hari setelah pemijahan. Induk betina dalam menjaga telur dan sarangnya sesekali mengipaskan sirip terutama ekornya ke arah sarang. Tujuannya untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air guna membantu menetaskan telur-telur dalam sarang.
            Penanda telur sudah keluar yaitu adanya bau amis yang dapat dicium di sekitar sarang serta adanya lapisan minyak di sekitar sarang. Namun jika tanda tersebut tidak tampak maka dilakukan pemeriksaan telur di sarang dengan cara meraba menggunakan tangan.
            Ada beberapa tahap pemijahan dari ikan gurami, yaitu :
-                      Pemijahan alami
kelemahan : tidak diketahui pasti waktu terjadinya pemijahan.
keunggulan : fekunditas lebih tinggi, karena telur dan sperma yang keluar benar-benar sudah matang sehingga tingkat keberhasilan tinggi.
-                      Pemijahan semi buatan
yaitu dengan menyeleksi induk jantan dan betina yang sudah matang, kemudian dilakukan penyuntikan dengan hormon (contohnya :  hormon ovaprim) untuk memacu pematangan akhir pada gonad dan ovulasi terjadi lebih cepat.
Pada betina disuntik dengan dosis 2x lipat dari jantan. Kemudian dicampur antara jantan dan betina yang sudah disuntik untuk selanjutnya dipijahkan secara alami.
-                      Pemijahan buatan
yaitu murni ada campur tangan dari manusia. Dengan disuntik hormon lalu dilakukan stripping pengurutan / penekanan dari bawah sirip dada sampai lubang genital) hingga keluar telur dan spermanya. Menggunakan hormon Ovaprim, hipofisa.
kelemahan : tingkat keberhasilan rendah karena kemungkinan ada  telur atau sperma yang belum matang gonad.
keuntungan : waktu keluarnya telur dapat ditentukan oleh manusia karena adanya penyetrippingan yang dilakukan.
f.          Penetasan telur
            Pemisahan telur dari sarang dilakukan dengan tahapan :
-                     Sarang dimasukkan dalam wadah / baskom
-                     Lalu dikeringkan perlahan-lahan dan dibersihkan dari sarang. Minyak harus dibuang karena akan memengaruhi ketersediaan oksigen terlarut dan air tercemar sehingga proses penetasan telur bisa terganggu. Daun ketela / kertas koran dapat digunakan untuk mengurangi/menyerap minyak.
-                     Telur dicuci sampai bersih, lalu dimasukkan dalam air bersih.
            Proses penetasan telur dilakukan dari telur menetas hingga menjadi larva kurang lebih 9-12 hari. Ciri telur yang baik (hidup) yaitu berwarna kuning bening, transparan dan mengkilap.  Ciri telur yang tidak baik (mati) yaitu berwarna kuning keputihan dan agak kusam sehingga harus segera dibuang.           Telur terlebih dahulu di aklimatisasi dalam mangkok plastik dan biarkan mengapung di air selama 5-10 menit.
            Wadah untuk menetaskan telur bisa memakai akuarium, bak ember, maupun paso. Bak ember dengan volume 20 liter, diameter 50-60 cm dan berwarna hitam, ketinggian air sekitar 15-20 cm. Air dalam wadah penetasan sebelum digunakan sebaiknya diberi larutan methylene blue untuk mencegah timbulnya jamur pada telur gurami. 1-2 hari sebelum telur dimasukkan, air dalam wadah penetasan diaerasi terlebih dahulu untuk menetralisir gas beracun. Padat penebaran telur dalam bak ember antara 1000-1250 butir per ember. Proses penetasan dari telur menjadi larva berlangsung selama 9-12 hari. Faktor utama yang memengaruhi penetasan yaitu suhu­. Jika suhunya rendah maka penetasannya lama. Hal ini disebabkan karena metabolisme dalam tubuh ikan semakin rendah. Setelah telur menetas maka dipindahkan ke bak pemeliharaan larva (lanjutan). Pemeliharaan larva dilakukan selama 30 hari. Pemberian pakan pada larva dilakukan bertahap, yaitu dimulai saat kuning telur habis. Pemberian pakan larva yang efektif yaitu hari ke 8-10 setelah telur menetas. Pada hari ke-8, kuning telur yang merupakan cadangan makanan larva mulai menipis dan mulai belajar mencari makan sendiri. (Mahyuddin, 2009)

  PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA CBIB - Cara Budidaya ...