Rabu, 22 April 2020

Pemeliharaan Indukan Ikan Nila
(Sumber : https://mitalom.com/cara-pembenihan-dan-teknik-pemijahan-ikan-nila/)

Untuk menghindari terjadinya pemijahan liar, sebaiknya indukan ikan nila jantan dan betina ditempatkan pada kolam yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menghindari terbentuknya benih yang kurang berkualitas. Siapkan dua kolam untuk pemeliharaan indukan, satu kolam untuk indukan jantan dan satu kolam lainnya untuk indukan betina. Induk jantan ditempatkan bersama induk jantan lainnya dan induk betina disatukan dengan induk betina yang lain pada kolam lainnya. Kepadatan tebar untuk kolam pemeliharaan indukan adalah 3 atau 5 ekor / m2 kolam.
Kolam pemeliharaan indukan jantan dan indukan betina dibuat terpisah dan harus memiliki sumber air dari tempat yang berbeda. Buangan air dari kolam indukan jantan jangan sampai masuk kekolam indukan betina, sebaliknya buangan air kolam indukan betina juga jangan sampai masuk ke kolam indukan jantan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemijahan secara liar, sebab ada kemungkinan sperma jantan akan terbawa air kekolam indukan betina dan akan terjadi pembuahan.
Pemberian pakan juga harus diperhatikan, kandungan protein pada pakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan gonad. Untuk pemeliharaan indukan diperlukan pakan dengan jumlah 3% dari bobot tubuh ikan per hari. Supaya pertumbuhan gonad indukan betina bisa maksimal pakan yang diberikan harus mengandung protein yang tinggi. Untuk pembesaran ikan nila hanya diperlukan pakan dengan kadar protein sekitar 2%, tetapi untuk calon indukan sebaiknya pakan yang diberikan harus mengandung kadar protein lebih dari 35%.

Pemijahan Ikan Nila
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang sangat mudah sekali dipelihara dan dipijahkan. Bahkan ikan nila mudah memijah secara alami. Untuk kolam pemijahan sebaiknya dasar kolam didesain miring dengan tingkat kemiringan sekitar 2 atau 5%. Pada dasar kolam atau lantai kolam pemijahan dibuat kubangan-kubangan (kemalir) sedalam 20 atau 30 cm. Kubangan-kubangan tersebut nantinya akan digunakan indukan sebagai tempat memijah. Pemijahan ikan nila bisa dilakukan secara massal dengan perbandingan jumlah indukan jantan dan indukan betina 1 : 3 (1 indukan jantan dan 3 indukan betina). Kepadatan tebar kolam pemijahan adalah 1 ekor indukan per m2.
Pemijahan ikan nila pada umumnya berlangsung pada hari ke tujuh sejak indukan dimasukkan kekolam pemijahan. Pemberian pakan selama proses pemijahan sebaiknya harus mengandung protein yang tinggi, yaitu pakan yang memiliki kadar protein diatas 35%. Pemijahan akan terjadi pada kubangan-kubanagan (kemalir) yang telah dibuat didasar kolam. Indukan betina akan mengeluarkan telur pada tempat tersebut dan kemudian akan dibuahi oleh indukan jantan. Setelah dibuahi telur-telur akan dierami oleh indukan betina didalam rongga mulutnya.
Indukan betina akan mengerami telur didalam mulutnya selama sekitar 7 hari. Selama proses pengeraman tersebut pemberian pakan sebaiknya dikurangi, karena saat mengerami telur indukan betina tidak makan alias berpuasa. Hal ini juga akan mengurangi biaya produksi dan pengeluaran biaya untuk pembelian pakan bisa ditekan.
Setelah 7 hari biasanya telur-telur dierami didalam mulut indukan betina akan menetas menjadi larva. Sebaiknya saat melakukan persiapan kolam diberikan pupuk dasar supaya pakan alami akan tumbuh didalam kolam. Pakan alami tersebut berguna sebagai pakan larva ikan nila yang baru menetas. Induk betina akan mengeluarkan larva dari mulutnya secara serempak jika ia merasa didalam kolam banyak tersedia pakan alami untuk anak-anaknya. Larva ikan nila yang sudah menetas dan sudah dikeluarkan dari mulut induk betina segera dipindahkan ke kolam pemeliharaan larva. Larva dipindahkan kekolam pemeliharaan larva setelah berumur 5 sampai 7 hari setelah menetas.

Pemeliharaan Larva Ikan Nila

Gambar Kolam Pemeliharaan Larva Ikan Nila Menggunakan Hapa
Pemeliharaan benih ikan nila menggunakan hapa

Larva yang sudah berumur 5 – 7 hari setelah menetas dipindahkan kekolam khusus pemeliharaan larva yang sudah dipersiapkan. Pemindahan dilakukan menggunakan saringan halus secara hati-hati. Kolam pemeliharaan larva ikan nila bisa berupa bak plastik, kolam semen, drum, akuarium, hapa (jaring halus) atau kontainer. Kepadatan tebar larva per meter persegi antara 100 – 200 ekor larva.
Setelah dipindahkan kekolam pemeliharaan, larva juga harus diberikan pakan agar bisa tumbuh dengan baik. Pakan yang diberikan berbentuk tepung halus dan memiliki kadar protein tinggi. Berikan pakan secukupnya, dalam satu hari pakan diberikan sebanyak 4 atau 5 kali. Pakan laternatif lain untuk larva ikan nila adalah kuning telur ayam yang direbus. Caranya dengan melumatkan 1 butir kuning telur rebus yang dilarutkan dengan 500 ml air bersih. Pakan diberikan dengan cara disemprotkan menggunakan hand sprayer, setiap kali pemberian pakan diberikan sebanyak 100 ml.
Pembesaran larva ikan nila berlangsung selama 3 sampai 4 minggu atau sampai ukuran larva mencapai 2 atau 3 cm. Setelah mencapai ukuran tersebut, larva dipindahkan lagi kekolam pendederan. Sebab daya tampung kolam sudah tidak memadai lagi untuk ukuran larva tersebut. Jika ukuran kolam memungkinkan, larva tidak harus dipindahkan dan bisa dipelihara seterusnya didalam kolam tersebut.

Pendederan Benih Ikan Nila
Kolam untuk pendederan benih sebaiknya dibuat dengan ukuran yang lebih besar, sebab ukuran tubuh benih ikan juga semakin besar. Pada tahap ini, peternak bisa membuat benih ikan nila menjadi berjenis kelamin jantan semua. Benih nila jantan pertumbuhannya lebih cepat daripada ikan betina. Ini bisa dilakukan jika budidaya hanya ditujukan untuk usaha pembesaran, yaitu untuk keperluan ikan konsumsi. Untuk menghasilkan benih ikan berjenis kelamin jantan semua bisa dilakukan dengan pemberian hormon 17 alpha methyltestosteron. Hormon tersebut diberikan pada tahap pendederan larva.
Catatan : Tetapi sebaiknya cara menghasilkan jenis kelamin jantan menggunakan hormon 17 alpha methyltestosteron tidak dilakukan. Sebab cara ini sudah tidak dianjurkan lagi. Dikhawatirkan penggunaan hormon tersebut bisa menyebabkan efek negatif bagi yang mengkonsumsi.
Kepadatan tebar pada tahap pendederan benih setiap meter persegi adalah 30 sampai 50 ekor benih. Lama pendederan benih sampai benih ikan siap dipindah kekolam pembesaran adalah 4 sampai 6 minggu. Pada saat itu kira-kira benih ikan nila sudah memiliki ukuran panjang tubuh 10 – 12 cm. Pakan yang diberikan pada tahap ini adalah pakan yang memiliki kadar protein antara 20 – 30%. Pakan diberikan 2 atau 3 kali dalam sehari. Banyaknya pakan yang diberikan adalah 3% dari bobot tubuh ikan.
Jika sudah berumur 4 – 6 minggu didalam kolam pendederan dan ukurannya mencapai 10 – 12 cm, benih ikan sudah siap untuk dijual atau dibesarkan sendiri dikolam pembesaran. Namun masa pendederan bisa lebih lama jika ukuran benih yang diinginkan lebih besar. Sebab kadang-kadang konsumen membutuhkan benih yang lebih besar dari ukuran tersebut. Sehingga lama pendederan bisa disesuikan dengan permintaan pasar atau konsumen.

Panen Benih Ikan Nila
Pemanenan benih ikan nila disesuiakan dengan permintaan pasar atau konsumen. Jika konsumen menginginkan ukuran benih yang standar (10 – 12 cm) panen benih bisa dilekukan lebih cepat. Tetapi jika konsumen menginginkan benih dengan ukuran yang lebih besar maka panen dilakukan sesuai dengan kenginan konsumen atau pembeli. Pemanenan benih ikan nila sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Kemudian benih ikan nila dikemas dengan baik. Benih dikemas dalam wadah tertutup untuk pengiriman jarak jauh. Sedangkan untuk jarak dekat pengemasan dengan wadah terbuka masih bisa dilakukan. Untuk pengiriman jarak jauh biasanya benih dikemas dalam kantong-kantong plastik berwarna putih transparan. Kantong plastik diisi air 1/3 dari ukuran wadah tersebut selebihnya diisi dengan oksigen.
Pembenihan dan Pemijahan IKAN NILA
(sumber : https://mitalom.com/cara-pembenihan-dan-teknik-pemijahan-ikan-nila/)


Cara Memijahkan Ikan Nila di Kolam Pemijahan
Benih ikan nila merah

Budidaya Perikanan – Ikan nila adalah jenis ikan konsumsi yang banyak dibudidayakan diperairan air tawar di Indonesia. Ikan nila sangat populer di masyarakat karena rasa dagingnya yang gurih dan lezat. Selain itu ikan nila terkenal sangat produktif. Dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, ikan nila adalah yang paling produktif. Ikan ini juga banyak dibudidayakan diberbagai negara di dunia. Ikan yang konon berasal dari afrika ini sangat mudah dibiakkan. Karena mudahnya dipelihara dan dikembangbiakkan, ikan nila menjadi sangat populer di Indonesia. Meskipun harga jual ikan nila tidak terlalu tinggi, tetapi budidaya ikan jenis ini bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Bukan hanya usaha pembesaran, pembenihan nila juga memiliki prospek yang cerah mengingat ikan nila sangat populer dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat.
Usaha pembenihan ikan nila bisa menjadi pilihan sebagai bisnis sampingan atau bisnis utama. Ikan nila tergolong sangat produktif karena frekuensi pemijahan ikan ini cukup sering, meskipun sekali memijah jumlah telur yang dihasilkannya sedikit. Sekali memijah satu ekor ikan nila betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 300 – 100 butir, tergantung pada ukuran tubuhnya. Ikan nila bisa dikawinkan setiap bulan sampai masa produktifnya habis. Bahkan ikan nila mudah sekali memijah secara liar dikolam peliharaan. Namun pemijahan secara alami sangat sulit dalam pengelolaannya. Sehingga untuk melakukan usaha pembenihan nila diperlukan cara dan pengelolaan khusus agar usaha pembenihan nila bisa menghasilkan keuntungan.
Berikut ini persiapan dan langkah-langkah untuk memulai bisnis pembenihan ikan nila :
1. Persiapan Tempat Pembenihan Ikan Nila
Untuk memulai usaha pembenihan ikan nila, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan tempat
pembenihan. Tempat pembenihan atau kolam bibit ikan nila tersebut berupa kolam yang nantinya akan digunakan ikan nila untuk berkembangbiak. Untuk pembenihan diperlukan 4 type kolam, masing-masing type kolam memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan fase pertumbuhan ikan. Kolam pembenihan ikan nila dibuat sebaik mungkin agar usaha pembenihan berlangsung dengan baik.
Berikut ini keempat type kolam pembenihan ikan nila tersebut ;
a). Kolam indukan
Kolam indukan adalah kolam yang berfungsi untuk memelihara indukan ikan nila. Indukan terdiri dari ikan nila jantan dan betina. Ukuran kolam untuk indukan disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan lahan. Kolam indukan tidak harus berukuran besar tetapai harus memiliki kedalaman yang cukup untuk ikan dewasa. Kedalaman kolam indukan antara 1 – 1,4 meter. Indukan jantan dan betina harus ditempatkan pada kolam yang berbeda, sehingga diperlukan 2 buah kolam indukan.
b). Kolam pemijahan
Kolam pemijahan adalah kolam yang digunakan untuk mengawinkan indukan. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Kolam pemijahan sebaiknya berlantai tanah dan pada dasar kolam dibuat kemalir atau kubangan-kubangan. Untuk kolam pemijahan hanya diperlukan 1 buah kolam saja.
c). Kolam pemeliharaan larva
Kolam pemeliharaan larva adalah kolam yang digunakan untuk memelihara larva-larva ikan nila yang sudah menetas. Kolam yang digunakan bisa berupa bak, drum, bak semen, kolam tanah atau jaring halus (hapa). Hapa adalah jaring khusus berukuran kecil untuk memelihara larva ikan, bentuk hapa mirip dengan kelambu. Hapa diletakkan mengapung diatas kolam.
d). Kolam benih
Kolam benih adalah kolam yang digunakan sebagai tempat pendederan benih ikan nila atau kolam tempatmembesarkan benih. Ukuran kolam benih juga dibuat sesuai dengan kebutuhan, tergantung banyaknya benih yang diproduksi. Benih ikan ditempatkan pada kolam pembesaran sampai benih ikan siap untuk dibesarkan dikolam pembesaran atau kolam budidaya. Biasanya benih ikan siap dibesarkan ketika panjang tubuhnya berukuran 10 – 12 cm.
2. Pemilihan Indukan Ikan Nila

Perbedaan Ikan Nila Jantan dan Nila Betina
Perbedaan bentuk fisik indukan jantan dan betina

Langkah kedua dalam usaha pembenihan ikan nila adalah memilih indukan jantan dan indukan betina yang akan dikawinkan. Jika kolam pembenihan sudah disiapkan, selanjutnya adalah memilih indukan. Untuk menghasilkan bibit ikan nila yang berkualitas, sebaiknya calon indukan menggunakan galur murni yang secara genetis memiliki sifat-sifat unggul. Calon indukan unggul bisa diperoleh di balai perikanan setempat atau menghubungi BBPBAT (Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar) setempat.
Ciri-ciri calon indukan ikan nila yang berkualitas baik adalah sebagai berikut ;
a). Calon indukan jantan dan betina adalah galur murni yang berasal dari keturunan yang berbeda.
b). Calon indukan memiliki bentuk tubuh yang normal, tidak cacat dan kondisi fisiknya sehat.
c). Calon indukan memiliki sisik-sisik yang besar dengan susunan sisik yang rapi.
d). Calon indukan memiliki ukuran pada bagian kepala yang relatif kecil dibandingkan tubuhnya.
e). Calon indukan memiliki warna yang mengkilap dan tubuhnya tebal.
f). Calon indukan terlihat sangat aktif, gerakannya lincah dan sangat responsif terhadap pemberian pakan.
Indukan ikan nila bisa berproduksi hingga usianya 2 – 3 tahun. Namun untuk pembenihan sebaiknya menggunakan indukan yang berusia maksimal 2 tahun. Indukan yang berusia lebih dari 2 tahun akan menghasilkan benih yang kurang baik, jumlah telurnya juga semakin sedikit. Indukan ikan nila bisa dipijahkan kembali setelah 4 – 6 minggu kemudian. Indukan ikan nila betina sudah siap dipijahkan ketika usianya mencapai 5 atau 6 bulan. Pada masa itu indukan betina sudah memasuki matang gonad. Indukan ikan nila yang akan dipijahkan setidaknya bobot tubuhnya telah mencapai 200 atau 250 gram untuk indukan betina, dan 250 atau 300 gram untuk indukan jantan.


Selasa, 17 Maret 2020

CARA MENETASKAN TELUR GURAME DAN MERAWAT BENIH GURAME
(Sumber : http://www.benihgurame.com/2014/12/cara-menetaskan-telur-gurame-dan.html)

Telur gurame bisa didapatkan dari pengepul telur gurame atau bisa juga telur gurame didapat langsung dari petani budidaya ikan gurami,sehingga hal ini pelaku penetasan telur gurami tidak memerlukan lahan yang besar untuk merawat induk gurame,karena perawatan induk gurami memerlukan lahan/kolam yang luas,harga telur gurame di tingkat petani dan pengecer rata=rata RP.25,- hingga Rp.45,-.harga telur gurami sering berubah karena peternak ikan masih mengandalkan perkawinan secara alami dan tergantung sekali dengan cuaca atau iklim pada saat gurame dipijahkan.

PEMINDAHAN TELUr  GURAME /seleksi telur gurami

Pemindahan telur gurami dari sarang atau palstik tempat membawa telur gurami dari pengepul harus hati-hati agar tidak merusak telur gurame. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan sendok sayur plastik. Saat pemindahan, telur  gurame tidak boleh bersentuhan dengan alat, yaitu setiap pemindahan harus dengan menggunakan air, dan dilakukan secara bertahap.

Sambil pemindahan, dilakukan pemisahan antara telur-telur gurami yang berkualitas baik dengan telur-telur yang berkualitas jelek. Keduanya bisa dibedakan dengan melihat warnanya. Telur gurame yang baik berwarna kuning tua, sedangkan telur gurame yang jelek berwarna putih. Telur gurame yang baik dimasukan langsung ke dalam wadah-wadah penetasan, sedangkan yang jelek dibuang.karena bisa mengotori air dalam wadah penetasan. Hingga akhirnya bisa membuat air menjadi bau dan kualitas air menjadi buruk, dimana oksigennya sangat rendah, sedangkan karbondioksida dan NH3 tinggi. Pembuangan telur gurame dilakukan dengan cara penyimponan atau mengalirkan telur lewat selang kecil yang telah diberi air.

Penetasan telur gurame bisa dilakukan dalam ember,paso, baskom plastik besar, bak plastik, bok sterefoam pengemasan ikan,akuarium dan tempat sejenis lainnya. Wadah-wadah itu harus diletakan di tempat yang teduh, misalnya samping rumah. Akan lebih baik lagi dalam ruangan, atau kamar agar fluktuasi suhu dapat terjaga. Lingkungan yang tenang adalah tempat penetasan yang baik, karena jika sering kaget telur tidak akan menetas.

PERSIAPAN PENETASAN TELUR GURAME

dalam kegiatan pemeliharaan larva ikan gurame hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
- wadah pemeliharaan
- kualitas air
- pakan
- pemeliharaan/cara penanganan

Cuci bersih wadah yang akan digunakan sebagai tempat penetasan, upayakan benar-benar bersih dari bahan kimia atau bahan beracun dan berbahaya lainnya dari wadah. Gunakan deterjen saat pencucian pertama kali, lalu dapat diulang menggosok permukaan bagian dalam wadah dengan potongan gedebog pisang.
Setelah wadah benar-benar bersih, isi dengan air bersih (tidak harus jernih), dari kolam/sawah/danau/irigasi, air sumur yang sudah diendapkan 2 hari, atau air PAM yang sudah diendapkan lebih dari 4 hari. Jangan menggunakan air PAM yang mengandung kaporit tinggi (biasanya tercium bau kaporit).

KEPADATAN TELUR

contoh: jika penetasan telur gurame menggunakan akuarium,untuk akuarium dengan ukuran 80 x 40 x 40 cm jumlah telur gurame yang bisa ditampung sekitar 2.000 butir telur. untuk menambah oksigen dan airnya diberi methilin blue dengan warna biru seulas untuk mencegah serangan jamur.
ketinggian air untuk pemeliharaan telur di akuarium 15 cm,Kepadatan telur selama proses penetasan adalah 4-5 butir/cm2 dengan pemberian aerasi kecil dan juga heater/pemanas air,pemberian airasi kecil dan pemanas air atau pemanas ruangan ini jika di perlukan karena setiap daerah berbeda beda cara penanganan perawatan telur gurami yang baik,jika lebih aman tidak memakai airasi karena pemakaian aerasi untuk penetasan telur gurami bisa membuat telur gurami mabuk. aerator berfungsi untuk mensuplai oksigen ke air akuarium. aerator ini berfungsi meningkatkan kandungan oksigen. oksigen diperlukan oleh ikan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ikan. proses metabolisme ikan dalam tahap pertumbuhan memerlukan oksigen, bila kandungan oksigen di dalam akuarium kurang maka akan mempengaruhi kehidupan ikan sehingga ikan pertumbuhannya kurang optimal.

Tipe heater berbeda-beda ada yang 50 watt, 75 watt dan 100 watt namun kesemuanya itu sama yaitu untuk meningkatkan suhu air dan mempertahankan suhu air pada media pemeliharaan agar suhu air stabil tidak berfluktuasi tinggi terutama pada pergantian cuaca, malam ke siang siang ke malam.

hal yang sangat berpengaruh terhadap adanya heater adalah suhu air, dimana suhu air membantu dalam meningkatkan nafsu makan ikan, ikan akan bertambah nafsu makannya pada kondisi air yang suhunya optimal (hangat) karena bila suhu optimal akan membantu proses metabolisme ikan dalam menguraikan makanan menjadi energi dan untuk pertumbuhan ikan. ikan akan bertambah berat dan panjang bila ada nutrisi yang didapatkannya, nutrisi yang utama untuk kebutuhan ikan adalah protein disamping nutrisi lainnya seperti karbrohidrat, lemak Suhu optimal untuk pemeliharaan larva adalah 20 - 29 derajat celcius.

Telur  gurame akan menetas dalam selang waktu 24-48 jam tergantung suhu media penetasan. Sebaiknya suhu dipertahankan pada kisaran 29- 30 oC untuk meningkatkan derajat penetasan telur ikan gurame.  Larva biasanya akan bergerak berputar-putar dan berkelompok. Siapkan tempat untuk pendederan, karena pada hari ke 3-4 larva gurami sebaiknya sudah dipindahkan ke kolam pendederan untuk pemeliharaan selanjutnya. Di kolam pendederan (usia 4-5 hari) larva sudah berenang dengan perut buncit berisi kuning telur, sehingga belum perlu diberi pakan BIASANYA Pemberian pakan dimulai saat larva berusia 7-8 hari..

PAKAN SETELAH PENETASAN

 Pemberian pakan dapat dimulai setelah larva dipindahkan kekolam emen atau terpal. Pakan berupa cacing rambut (Tubifex sp.), Daphnia sp., Moina sp., atau pakan alami lainnya yang sesuai ukurannya. Benih gurame dapat dipelihara di akuarium, bak kayu yang dilapisi plastik, bak tembok atau ditebar langsung ke kolam pendederan. Pemeliharaan benih pada wadah terkontrol harus dilengkapi dengan aerasi untuk suplai oksigen dan terhindar dari kontak langsung dengan hujan namun hal ini tiap daerah berbada beda karena banyak petani gurame yang kolamnya tidak ada atapnya.

Pakan awal berupa cacing rambut, Daphnia sp., Moina sp., atau sumber protein hewani lainnya. Bahan-bahan nabati dapat mulai diberikan setelah larva berumur 36-40 hari. Sedangkan pakan buatan (pelet) dapat diberikan dengan menyesuaikan bukaan mulut ikan. Setelah 15-20 hari, lakukan seleksi dan kelompokan sesuai ukuran lalu pisahkan kolam pendederan untuk masing-masing ukuran, agar pertumbuhan bibit gurami seragam, dan mudah penentuan harga jika ada pesanan.

Lama pemeliharaan dan benih yang dihasilkan antara lain: Benih berumur 40 hari dapat mencapai ukuran 1-2 cm (setara ukuran kuku). Benih berumur 80 hari dapat mencapai ukuran 2-4 cm (setara ukuran jempol). Benih berumur 120 hari dapat mencapai ukuran 4-6 cm (setara ukuran silet). Dan benih berumur 160 hari dapat mencapai ukuran 6-8 cm (setara ukuran korek di masyarakat).

PENETASAN teler gurame  termasuk mudah untuk dipelajari. 
Jika sudah bisa membedakan mana telur yang bagus dan jelek ,maka memilih usaha penetasa /pem benih an ikan gurame merupakan pilihan yang tepat. Banyaknya pelatihan-pelatihan, buku-buku dan dan para ahli membuat kita bisa cepat belajar. Namun, bukan berarti tidak ada kelemahan pada cara budidaya penetasan telur gurame  ini, tetap ada kendala dan kesulitan yang akan kita hadapi. Karena kondisi lingkungan yang berbeda belum tentu keberhasilan yang kita dapat akan sama. Contohnya ketersediaan air alami dan suhu di tiap daerah ber beda beda.

Oleh karena itu kita sesuaikan dengan kemampuan kita dan jika bisa kita mungkin akan menemukan cara yang berbeda sehingga kelemahan dan kendala yang kita hadapi dapat kita minimalisir. Banyak - banyaklah belajar dan bertanya pada pakar maupun peternak ikan gurame yang sudah berpengalaman sebelumnya. Tidak ada salahnya kita mengikuti seminar yang biasanya diadakan di masyarakat setempat. Karena bisnis benih lgurame ini tidak akan ada habisnya, masih banyak peternak yang kesulitan memenuhi permintaan pasar ikan  benih gurami yang membludak .

Senin, 30 Desember 2019

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DALAM BUDIDAYA IKAN

(Sumber : https://nurhasanaquacultur.wordpress.com/2015/10/05/kelebihan-dan-kekurangan-dalam-budidaya-ikan/)


Ikan merupakan komoditas perairan sungai maupun laut dimana ikan tersebut dapat berkembangbiak dengan cara melahirkan (vivipar), bertelur (ovipar), dan bertelur melahirkan (ovovivipar), serta ada yang berkembangbiak dengan cara membelah diri (fragmentasi). Ikan saat ini sudah mulai banyak digemari masyarakat untuk dikonsumsi permintaan akan ikan pun sangat meningkat dan belakangan ini beberapa pembudidaya ikan yang baru pun mulai bermunculan. Banyak pembudidaya saling berlomba untuk memfaatkan lahan yang ada oleh karenanya saat ini sudah banyak diperkenalkan cara budidaya ikan.
Akuakultur merupakan kegiatan produktivitas budidaya perairan yang dihasilkan oleh sekelompok atau individu disegala aspek akuatik untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam waktu tertentu (Nurhasan,2014).
Banyak pembudidaya ikan mengalami kegagalan dalam usaha tetapi semua itu tidak menjadi suatu kekecewaan akan tetapi ini akan menjadi hal yang baru agar para pembudidaya harus berhati-hati dalam melakukan pemeliharaannya. Biasanya yang menjadi kendala dalam membudidayakan ikan seringkali terjadi sepeti lingkungan yang kurang baik, cuaca yang tidak stabil/tidak normal, kondisi air tidak bagus, kurang memahami dalam teknik budiaya dan lain-lain sebagainya. Dalam usaha budidaya ada kelebihan dan kekurangan diantaranya adalah :
Kelebihan dalam budidaya ikan
  • Dapat membatu ketersedian ikan konsumsi.
  • Menambah penghasilan masyarakat pembudidaya.
  • Mudah untuk mendapatkan ikan segar.
  • Mudah untuk memijahkannya.
  • Apabila ikan dalam keadaan stres bisa cepat diatasi dan dapat dilakukan pengobatan.
  • Mudah memilih ikan ukuran konsumsi.
  • Mudah melakukan penyeleksian induk.
  • Mempercepat masa panen.
  • Mudah untuk dipanen.
  • Mudah dijangkau.
Dalam pemeliharaan ikan kelebihan dalam budidaya ini sangat terlihat sekali dimana budidaya ikan dapat dirasakan oleh masyarakat agar termotifasi untuk membuka peluang usaha budidaya sehingga sedikit-demisedikit dalam sektor perikanan mulai terlihat perkembangannya dimasa yang akan datang. Selain dari kelebihan dalam budidaya ikan kekurangan juga menjadi salah satu pertimbangan untuk melakukan pemeliharaan dalam budidaya ikan.
Kekurangan dalam budidaya ikan
  • Mahalnya harga pakan.
  • Susahnya Ketersedian benih yang berkualitas.
  • Besarnya biaya pembuatan kolam.
  • Waktu pengontrolan setiap saat.
  • Pemberian pakan harus tepat waktu.
  • Susah untuk beradaptasi dengan lingkungan.
  • Tingginya tingkat mortalitas.
  • Air sering diganti agar kandungan amoniak tidak melebihi.
  • Tidak semua species ikan bisa dibudidayakan.
  • Keterbatasan lahan untuk budidaya.
Kelemahan dalam budidaya tidaklah menjadi faktor pemicu kepada masyarakat khususnya pembudidaya menjadi takut untuk melakukan usaha budidaya. Banyak juga pembudidaya yang berhasil dalam melakukan usaha ini pada awalnya mereka juga berpikiran demikian tetapi setelah mencoba akhirnya mereka terus melakukan upaya agar usaha yang mereka lakukan terus berlanjut. Demikian juga sebaliknya sebagian masyarakat juga berpikir dimana kelemahan ini menjadi salah satu faktor untuk tidak melakukan budidaya ikan.

JENIS KOLAM IKAN MENURUT FUNGSINYA

(Sumber : https://nurhasanaquacultur.wordpress.com/2015/09/23/jenis-kolam-ikan-menurut-fungsinya/)


Kolam Pemeliharaan Induk
Kolam pemeliharaan induk berfungsi sebagai tempat penyimpanan induk ikan yang akan dikawinkan atau dipijahkan dan tempat pemeliharaan induk ikan yang telah selesai dipijahkan. Kolam pemeliharaan induk biasanya ada dua buah satu untuk induk jantan dan lainnya untuk induk betina. Sistem pemasukan air yang ideal adalah secara paralel jadi kolam induk jantan dan betina bisa mendapatkan air dari pintu air masing-masing. Jika terpaksa sistem pemasukan airnya boleh sama. Namun harus diingat bahwa kolam induk betina harus berada di atas supaya induk betina tidak terangsang oleh sperma jantan yang keluar secara tidak sengaja.

Kolam Pemijahan/Perkawinan
Kolam pemijahan berfungsi untuk mempertemukan induk jantan dan betina yang telah matang telurnya (matang gonad) dengan melakukan manipulasi lingkungan terlebih dulu agar pemijahan berhasil dengan baik. Untuk itu kolam induk dan kolam pemijahan ikan Cyprinus dan Puntius (ikan karper dan tawes) berada pada tempat yang terpisah. Namun untuk ikan lele, gurami, patin, dan nila kolam pemeliharaan induk dan kolam pemijahannya bisa menjadi satu.

Kolam Penetasan Telur
Kolam penetasan telur ini tidak terlalu mutlak dalam satu unit kolam karena penetasan telur biasanya dilakukan di kolam pemijahan. Beberapa pengusaha menggantikan kolam penetasan telur ini dengan bak fibber yang ditempatkan dalam bangunan khusus yang disebut hatchery (tempat penetasan).
Kolam Pendederan
Fungsi kolam pendederan adalah untuk mendederkan atau membesarkan larva ikan menjadi bibit ikan yang siap untuk dibesarkan. Kolam pendederan biasanya berukuran antara 5-10 m. Kolam pendederan biasanya terdiri lebih dari satu kolam. Ada kolam pendederan I, kolam pendederan II, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, burayak relatif lebih mudah dirawat karena sudah bisa makan.

Kolam Pembesaran
Kolam pembesaran ikan biasanya berukuran sama atau lebih besar dibandingkan kolam pendederan. Untuk pemeliharaan ikan secara intensif ini debit air harus cukup besar yaitu berkisar antara 10-15 liter/detik. Dan makanan tambahannya harus bergizi tinggi misalnya pelet yang mempunyai kandungan protein tidak kurang dari 40%. Selain itu sekarang sudah berkembang pemeliharaan ikan di jaring terapung yang bisa ditebarkan benih ikan dengan kepadatan tinggi dan pemberian makanan tambahan selain itu ada bentuk kolam alternatif untuk pembesaran ikan.

Kolam Penumbuhan Makanan Alami
Kolam ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kolam yang lain biasanya kolam ini dibuat dengan sengaja untuk menumbuhkan flankton agar persediaan makanan bagi benih yang masih lemah atau benih ikan yang dirawat secara intensif dapat terpenuhi kebutuhan pakan alami misalnya pada benih ikan lele, benih udang, benih ikan gurame, dan lain-lainnya.

Kolam Pengendapan
Areal perkolaman yang airnya berasal dari sungai yang banyak mengandung endapan lumpur biasanya dilengkapi dengan kolam pengendapan. Kolam ini dimaksudkan untuk mengendapkan lumpur oleh padatan anorganik maupun sampah organik yang terbawa air. Bila tidak ada kolam ini maka lumpur dan sampah lainnya dapat mengakibatkan pendangkalan kolam. Selain kolam pengendapan biasanya dibangun juga bak filter (penyaring). Biasanya air hasil penyaringan dari bak filter ini dipakai untuk pemijahan ikan dan penetasan telur. Sedangkan untuk kolam pendederan dan pembesaran airnya cukup dari bak pengendapan saja.

Kolam Penampungan Hasil
Kolam ini berfungsi untuk menampung hasil benih maupun ikan konsumsi yang telah di panen dari kolam. Biasanya kolam ini tidak begitu luas terkadang kolam ini berfungsi untuk pemberokan ikan dan hanya sementara agar mempermudah pengambilan ikan yang akan diangkut jauh.

BUDIDAYA IKAN DI PEKARANGAN

(Sumber : https://nurhasanaquacultur.wordpress.com/2015/04/17/budidaya-ikan-di-pekarangan/)


Pemeliharaan ikan di kolam pekarangan telah lama dilaksanakan sebagian besar masyarakat di Indonesia. Umumnya petani ikan hanya sekedar membesarkan saja dan masih jarang mengusahakan pembenihannya. Biasanya benih yang dibesarkan oleh petani ikan dibeli dari pasar atau tempat penangkaran dan unit pembenihan rakyat (UPR). Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk dalam menu makanan sehari-hari adalah dengan memelihara ikan dikolam pekarangan. Selain untuk kebutuhan sendiri bisa juga untuk menambah penghasilan.
Memelihara ikan di pekarangan dianggap cukup menguntungkan karena dapat memanfaatkan sisa makanan dan limbah kotoran sebagai pakan sehingga tidak mengeluarkan biaya untuk membeli pakan yang sangat besar. Setelah cukup besar ikan dapat dikonsumsi atau dijual ke pasar atau ke tetangga. Namun keuntungan yang diperoleh masih sedikit dibandingkan dengan biaya investasi pembangunan kolam dan tenaga yang dikeluarkan untuk mengelola kolam pekarangan.
Sedikit sekali di antara pemelihara ikan di pekarangan mengetahui apalagi menguasai teknik budidaya dan sifat biologis ikan, baik sifat kebiasaan makan maupun kebiasaan berkembang biak. Pengalaman adalah salah satu modal utama untuk memelihara ikan walaupun dalam skala kecil, lahan pekarangan beserta isinya merupakan satu kesatuan kehidupan yang saling menguntungkan bisa  dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan di pekarangan. Jenis – jenis ikan yang lazim diusahakan di kolam sederhana pada lahan pekarangan adalah, ikan gurami, ikan tawes, ikan patin, ikan mujair, ikan nila dan ikan lele. Dalam hal budidaya pekerangan yang harus diperhatikan yaitu antara lain :
A. Pengamatan Lahan Pekarangan
Pekerjaan pengamatan letak lahan pekarangan meliputi luas tanah, jenis tanah dan lingkungan sekitarnya.
1. Luas tanah
Untuk memastikan ukuran luas tanah kita dapat memperkirakan berapa luas tanah di pekarangan yang ada agar tidak terganggu antara kolam dengan yang lain, cara mengukurnya dengan menggunakan alat ukur berupa meter (m²).
2. Jenis Tanah
Untuk mengetahui jenis tanah pada areal yang akan kita bangun kolam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  • Ambillah sebagian tanah lapisan atas dan tanah lapisan bawah lalu masing-masing dilumatkan dalam air setelah lembek dibuat genggaman dan ditekan sekuat-kuatnya. Jika meninggalkan gumpalan pasir cukup banyak berarti tanah tersebut tergolong tanah berpasir akan tetapi jika hanya sedikit sisa pasirnya berarti tergolong tanah liat.
  • Jenis tanah yang baik untuk kolam ikan adalah tanah liat berpasir.
3. Lingkungan
Pengamatan lingkungan sekitar yang akan dibangun kolam antara lain meliputi :
  • Sumber air yaitu sungai, parit, mata air dan saluran irigasi
  • Letak pintu pemasukan dan pengeluaran air.
  • Macam tumbuhan dan bantuan yang dapat dimanfaatkan atau yang harus dibuang/disingkirkan.
B. Penggalian Tanah
  1. Tanah diukur dan ditandai sesuai bentuk dan posisinya sebaiknya kolam berbentuk empat persegi panjang.
  2. Sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan tanah mulai dicangkul atau digali sampai kedalaman 100 cm – 150 cm.
  3. Bersamaan dengan penggalian tanah, sekaligus dibangun pematangnya harus kokoh, berbentuk trapezium dan tidak bocor.
  4. Dasar kolam dibuat miring antara 3 persen sampai 5 persen kearah pintu pembuangan air.
  5. Pada dasar kolam perlu dibuatkan kemalir fungsi kemalir adalah untuk mempermudah penangkapan ikan pada waktu dilakukan panen.
C. Model-Model Kolam
Jenis-jenis kolam yang akan digunakan sangat tergantung kepada sistem budidaya yang akan diterapkan ada tiga sistem budidaya ikan yang biasa dilakukan.
  1. Kolam tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam yang keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah.
  2. Kolam Semi intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang bagian kolamnya (dinding pematang) terbuat dari tembok sedangkan dasar kolamnya terbuat dari tanah
  3. Kolam Intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang keseluruhan bagian kolam terdiri dari tembok .
Jenis-jenis kolam berdasarkan sumber air yang digunakan adalah kolam air mengalir/running water dengan sumber air berasal dari sungai atau saluran irigasi di mana pada kolam tersebut selalu terjadi aliran air yang debitnya cukup besar. Kolam air tenang/stagnant water dengan sumber air yang digunakan untuk kegiatan budidaya adalah sungai, saluran irigasi, mata air, hujan, dan lain- lain, tetapi aliran air yang masuk ke dalam kolam sangat sedikit debit airnya dan hanya berfungsi menggantikan air yang meresap dan menguap.

FUNGSI KARANTINA IKAN

(Sumber : https://nurhasanaquacultur.wordpress.com/2015/05/07/fungsi-karantina-ikan/)

Karantina adalah tindakan sebagai upaya pencegahan hama dan penyakit ikan juga sebagai filter masuk dan tersebarnya hama dan penyakit ikan mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2002 tentang karantina ikan menyelenggarakan fungsi utamanya yaitu mencegah masuknya hama dan penyakit ikan karantina ke dalam wilayah negara Republik Indonesia, mencegah tersebarnya hama dan penyakit ikan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia, mencegah keluarnya hama dan penyakit ikan dari wilayah negara Republik Indonesia sesuai dengan persyaratan negara pengimpor/tujuan.
Secara umum bentuk tindakan karantina ikan yang sering dilakukan oleh pihak Badan Karantina Ikan adalah sebagai berikut :
  • Pemeriksaan
Pemeriksaan adalah tindakan untuk mengetahui kelengkapan dan keabsahan dokumen persyaratan serta untuk mendeteksi hama dan penyakit ikan karantina. Pemeriksaan dilakukan setelah media pembawa diturunkan dari alat angkut atau masih di atas alat angkut. Pemeriksaan media pembawa yang diturunkan dari alat angkut yang tidak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan dari Negara atau area asal dan dokumen lain yang dipersyaratkan sebagai kewajiban tambahan dilakukan penahanan paling lama 3 hari. Apabila dalam kurun waktu tersebut kelengkapan dokumen tidak dapat dipenuhi maka dilakukan penolakan dan jika tidak dikirim kembali, maka dilakukan pemusnahan tetapi media pembawa yang memenuhi persyaratan atau pemilik melengkapi persyaratan dalam kurun waktu akan dilakukan peneriksaan untuk mendeteksi penyakit.
  • Pengamatan
Pengamatan adalah tindakan mendeteksi lebih lanjut terhadap hama dan penyakit ikan karantina terhadap media pembawa yang diasingkan. Media pembawa yang telah dilakukan pengasingan kemudian dilakukan pengamatan di laboratorium untuk dideteksi hama dan penyakit ikan karantina. Bila media pembawa tidak tertular hama dan penyakit ikan karantina maka sertifikat kesehatan/pelepasan akan diberikan. Namun bila terdapat hama dan penyakit ikan karantina golongan I dan penyakit ikan karantina golongan II maka diberikan perlakuan untuk penyembuhan.
  • Pengasingan
Pengasingan merupakan tindakan mengisolasi media pembawa yang diduga tertular hama dan penyakit ikan di suatu tempat yang khusus, karena sifatnya memerlukan waktu yang lama untuk mendeteksinya agar hama dan penyakit ikan karantina di lingkungan sekitar tidak tersebar. Media pembawa yang telah dilakukan pemeriksaan dan ternyata tidak dapat terdeteksi di atas alat angkut maka media pembawa tersebut dapat diturunkan di atas alat angkut untuk dilakukan pengasingan dengan persetujuan petugas karantina.
  • Perlakuan
Perlakuan adalah tindakan membebaskan atau mensucihamakan media pembawa dari hama dan penyakit ikan karantina. Media pembawa yang diberikan perlakuan tidak dapat sembuh atau disucihamakan dari hama dan penyakit ikan karantina golongan II maka dilakukan penolakan. Apabila media pembawa dapat disembuhkan dari hama dan penyakit ikan karantina golongan II maka diberikan sertifikat pelepasan.
  • Penahanan
Penahanan adalah tindakan menahan media pembawa yang akan dimasukkan atau dikeluarkan ke atau dari suatu area/dalam wilayah Negara RI yaitu dilakukan pada saat pemeriksaan dokumen persyaratan karantina yang belum dipenuhi meliputi surat kesehatan ikan asal, tempat pemasukan yang ditetapkan, melaporkan atau menyerahkan kepada petugas dan kewajiban tambahan lainnnya.
  • Penolakan
Penolakan adalah tindakan tidak diijinkannya media pembawa dimasukkan atau dikeluarkan dari suatu area ke area lain atau dalam wilayah Negara RI. Media pembawa baik berupa ikan hidup, ikan segar, atau ikan beku apabila dalam waktu 14 hari setelah penahanan selama 3 hari tidak diurus atau tidak diketahui pemiliknya maka akan dilakukan penolakan.
  • Pemusnahan
Pemusnahan adalah tindakan memusnahkan media pembawa sebagai tindakan karantina, pemusnahan dilakukan apabila media pembawa telah tertular hama dan penyakit ikan karantina golongan I, busuk, rusak, maupun hama dan penyakit ikan karantina golongan II yang tidak dapat disembuhkan atau disucihamakan, media pembawa yang berupa ikan hidup, ikan segar atau ikan beku dalam waktu 3 hari setelah penahanan.
  • Pembebasan
Pembebasan adalah tindakan mengijinkan media pembawa untuk dimasukkan atau dikeluarkan dari suatu area dalam wilayah Negara RI melalui tempat-tempat pemasukan atau pengeluaran yang telah ditetapkan setelah dikenakan tindakan karantina sepenuhnya. Pembebasan terhadap media pembawa dilakukan bila media pembawa tidak tertular hama dan penyakit ikan karantina golongan I dan pemilik telah memenuhi persyaratan karantina.
Dokumen Tindakan Karantina
  1. Dokumen peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2002, jenis-jenis Dokumen Tindakan Karantina terdiri atas :
    Sertifikat Kesehatan adalah dokumen resmi yang ditandatangani oleh Petugas Karantina atau pejabat yang berwenang di negara asal atau transit yang menyatakan bahwa media pembawa yang tercantum didalamnya tidak tertular hama dan penyakit ikan karantina yang dipersyaratkan.
  2. Sertifikat Pelepasan adalah dokumen resmi yang ditandatangani oleh Petugas Karantina yang menyatakan bahwa media pembawa yang tercantum didalamnya tidak tertular atau bebas dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina. Adapun prosedur pelayanan sertifikat kesehatan di Balai Besar Karantina Ikan adalah sebagai berikut :
    1. Mengajukan permohonan pemeriksaan jenis dan kesehatan ikan.
    2. Pemeriksaan di farm dan mengambil sampel.
    3. Pemeriksaan penyakit ikan di laboratorium.
    4. Pengobatan ikan yang sakit.
    5. Pembuatan surat kesehatan ikan.
    6. Pengecekan jenis dan jumlah sebelum masuk pesawat atau kapal.
    7. Penyerahan sertifikat ikan.
Persyaratan Karantina Ikan
Setiap media pembawa yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dari wilayah Republik Indonesia maupun antar area dalam wilayah Republik Indonesia harus memenuhi persyaratan berikut :
  1. Dilengkapi sertifikat kesehatan dari negara/area asal.
  2. Melalui tempat pemasukan/pengeluaran yang telah ditentukan.
  3. Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina ikan di tempat-tempat pemasukan/pengeluaran.
  4. Pemasukan/pengeluaran jenis-jenis yang dilindungi atau dilarang berdasarkan ketentuan yang berlaku harus mendapatkan rekomendasi dari instansi yang berwenang (khusus untuk penelitian).
  5. Pemasukan media pembawa dari luar negeri harus memiliki surat izin pemasukan dari Dirjen Perikanan.
  6. Pengeluaran ikan hidup harus dilengkapi surat keterangan asal dari dinas perikanan setempat.
Prosedur Karantina Ikan
  • Prosedur Impor
  1. Pemilik melaporkan rencana pemasukan selambat-lambatnya 4 (empat) hari sebelum media pembawa tiba di tempat pemasukan.
  2. Setelah media pembawa tiba, pemilik mengajukan permohonan pemeriksaan dan menyerahkan media pembawa tersebut kepada petugas karantina beserta dokumen pemasukannya.
  3. Petugas karantina memeriksa kelengkapan dan kebenaran dokumen pemasukan, apabila sudah benar media pembawa dimasukkan ke instalasi karantina dan kepada pemilik diberikan surat keterangan masuk karantina. Masa karantina paling lama 1 (satu) bulan kecuali dalam hal dianggap perlu.
  4. Dalam instalasi karantina media pembawa dilakukan tindakan karantina, dan apabila ternyata media pembawa tersebut bebas/dapat dibebaskan dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina maka diberikan surat pelepasan.
  • Prosedur Ekspor
  1. Eksportir mengajukan permohonan pemeriksaan karantina sambil memberikan sampel, paling lambat 2 (dua) hari sebelum rencana pengiriman.
  2. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa media pembawa sehat dan memenuhi persyaratan akan diterbitkan sertifikat kesehatan (Health Certificate).
  3. Dua jam sebelum pemberangkatan dilakukan pengecekan ulang secara acak, apabila sesuai dengan Health Certificate yang telah diterbitkan media pembawa diizinkan untuk diberangkatkan.

  PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA CBIB - Cara Budidaya ...